Budidaya Sarang Walet Bisa Diternakan Secara Aktif | Mitra Usaha Tani

Minggu, 08 September 2019

Budidaya Sarang Walet Bisa Diternakan Secara Aktif

Lima bulan mendatang Syafrian Ali minimal memetik 20 sarang. Panen kali ini istimewa lantaran diambil dari walet jinak. Ali meloloh burung liar itu sejak piyik, mirip beternak ayam pedaging. Walet dipelihara di ruang tertutup hingga menghasilkan sarang. Lantaran itu orang tak perlu susah-payah memancing walet. Investasi di bisnis liur mahal itu menjadi sesuatu yang pasti, tidak lagi spekulasi.

Bagi pengusaha walet, 20 sarang dianggap tak ada apa-apanya. Dinilai dengan uang paling cuma Rp2,5-juta. Tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk beternak. Namun, kalau sarang-sarang itu dijadikan titik awal

pengembangan, sungguh luar biasa. “Memancing 1—2 pasang walet saja perlu waktu berbulan-bulan, bahkan tahun. Apalagi sampai berproduksi, paling tidak 2—5 tahun.” kata Ali. panggilan akrab Syafrian Ali, membandingkan. Itu sebabnya harga rumah berpenghuni belasan pasang pun mencapai Rp400-juta—Rp500-juta.

Budidaya Sarang Walet
Syafrlan All, ketekunan membuahkan hasil
Keberhasilan mengembangkan walet secara aktif di Desa Panglejar, Cikalong Wetan, Bandung, itu merupakan yang kedua bagi Ali. Sebelumnya lelaki yang tinggal di Jakarta Selatan itu beternak di Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara. Di sana, bangunan bekas bengkel motor berlantai 2 itu sudah sampai tahap memproduksi sarang. Sayang, Raja tani tidak bisa memantau perkembangan produksi lantaran si pemilik yang menjadi partner Ali tak bersedia ditemui.

Di Panglejar ternak walet bani tahap membesarkan. Ada 66 ekor terdiri dari 3 tahapan umur. Sebanyak 12 ekor berumur 7 bulan mulai terlihat berpasang-pasangan di areal bermain. Selebihnya. 14 ekor berumur 3 bulan dan 40 ekor lain tengah belajar terbang umur 55 hari. W alet-walet yang menempati bangunan berukuran 12 m x 8 m setinggi 3 tingkat itu dipelihara dari piyik.

"Tinggal menunggu waktu bersarang, umur 10—11 bulan. Setelah itu baru dilepas ke alam,” tutur Ali. Ia yakin walet-walet itu selamat hingga kelak membuat sarang karena tampak sehat.

Tak kembali

Jauh sebelum Syafrian Ali beternak walet, beberapa praktisi pernah mencoba. Sebut saja Boedi Mranata. Ilmuwan sekaligus praktisi di Jakarta itu mengutak-atik ternak walet sejak 1989. Lalu H. A Fatich Marzuki di Surabaya melakukannya pada 1997. Namun, keduanya belum menggapai hasil maksimal. Boedi Mranata hanya sampai sukses mengajari walet menyosor pakan di wadah. Sementara Fatich Marzuki berhasil membesarkan walet hingga terbang, tapi tak kembali ke rumah setelah dilepas.

“Saya coba berulang-ulang ternak walet. Sayangnya, belum berhasil sampai pada tingkat membuat sarang. Padahal, waktu itu burung sudah berumur 1 tahun,” tutur Boedi. Ketika 4 dari 30 walet peliharaannya dilepas ke alam, tak satu pun yang kembali. Kegiatan saban hari mengerek Collocalia fuciphaga itu ke angkasa agar mengenal lingkungan di luar gedung, sia-sia. Kondisi kesehatan walet tersisa menurun hingga akhirnya mati. Boedi melakukan percobaan itu di dalam ruangan gelap bagian dari rumah tinggal.

Penyebab kegagalan Fatich Marzuki cuma satu. Ia terlalu tergesa-gesa melepas walet ke alam. “Saat dilatih keluar-masuk lubang rumah terlihat pintar. Tapi ternyata setelah dilepas tidak kembali,” sesalnya.

Dibantu sang istri, ia melatih walet mengenali lingkungan luar gedung yang dipasangi jaring. Jaring bermata halus 6 m x 6 m x 3 m diletakkan di depan lubang keluar-masuk. Saat umur walet genap 61 hari, ia dilepas ke jaring. Setiap pagi selama 16 hari walet dibimbing keluar dan sore hari masuk hingga pintar. Hari ke-17 walet dilepas tanpa jaring pada pukul 15.00 dengan harapan tidak terbang jauh.

Sukses Ali pun bukan tanpa kendala. Saat pertamakah melakukan pada November 1998 di Karawang, satu per satu piyik mati. “Piyik di bawah umur 14 hari rawan sekali diare. Perutnya kembung dan susah berak sehingga mati,” tuturnya. Setelah ditemukan obat penangkal pun jalan menuju keberhasilan masih berkelok.

Tunggu bersarang

Dua kali kelahiran Tanjungmorawa 42 tahun silam itu melepas belasan pasang burung berumur 2 dan 3 bulan tanpa hasil. Secercah harapan hadir pada pelepasan ketiga, walet berumur 6 bulan. Dari 24 pasang yang dilepas, 2 ekor kembali ke rumah. Keberhasilan itu yang kemudian terus disempurnakan Ali. Enam bulan dikurung, cukup lama bagi walet untuk mengenal lingkungan asal, meski tak ada jaminan pulang kandang.

Menurut Ali kunci keberhasilan beternak walet terletak pada kemampuan menjaga kesehatan burung dan tepat waktu saat melepas. Terlalu lama dikurung juga tidak baik. Kesehatan burung menurun. Maklum pakan yang diberikan kurang beragam dan ia tidak leluasa bergerak seperti di alam bebas. Oleh karena itu, ketersediaan ruang bermain cukup luas tak kalah penting dengan pemberian pakan, vitamin, dan obat-obatan.

Di Panglejar Ali membuat kurungan dari kawat kasa stainless berukuran 9 m x 7 m, x 9 m. Salah satu sisinya memanfaatkan dinding rumah walet berlubang keluar-masuk. Di sini walet beraktivitas sepanjang pagi hingga sore: makan, terbang, dan berpasang-pasangan. Malam hari baru masuk rumah.

“Lebih baik lagi bila bangunan rumah ada di tengah-tengah kurungan supaya ruang gerak walet lebih leluasa. Lagi pula walet bisa melihat rumah dari segala sisi sehingga peluang kembali bertambah besar,” ujar sarjana elektro Universitas Sriwijaya itu.

Satu-dua bulan sebelum dilepas walet diajari menyambar pakan hidup. Maksudnya agar di alam bisa berburu pakan. Sebab, ada indikasi walet tidak kembali karena mati kelaparan.

Di dalam kurungan disediakan onggokan kulit pisang, gaplek atau dedak untuk memunculkan pakan alami. Pilihan lain, peternak membudidayakan laron sebagai pakan kesukaan walet. Bisa juga diberi serangga mati dengan alat pelontar sehingga seolah hidup. Walet dilepas ke alam setelah membuat sarang, bertelur, dan mengasuh anak.

Pengalaman di Tanjungmorawa menunjukkan, tingkat keberhasilan pulang kandang mencapai 70% bila dilepas saat mengasuh anak.

Rugi

Keberhasilan walet diternak merupakan berita besar yang ditunggu-tunggu para praktisi. Paling tidak bagi Antonio Chua, nun di Filipina. Presiden Intraco Group of Companies itu pernah datang ke Raja tani mencari informasi membudidayakan walet di ruang tertutup. “Soal pakan tidak jadi masalah, profesor kami sudah berhasil memproduksinya,” tuturnya.

Namun, kesuksesan menangkar walet masih menyisakan keraguan. “Jika dari kecil diloloh sulit memunculkan naluri menyambar mangsa,” ujar Rosich Amsyari, praktisi di Surabaya. Akibatnya, ia mati begitu dilepas ke alam karena tak sanggup mencari pakan.

Hal senada disampaikan Boedi Mranata. Berdasarkan pengamatannya, anak-anak walet belajar terbang dan berburu mangsa dengan bimbingan induk. “Nah, untuk walet yang diternak, siapa yang mengajari itu,” katanya setengah bertanya.

Menurut hitungannya pun, bisnis walet secara tertutup total merugi karena biaya pakan terlalu tinggi. Sepasang walet menghabiskan pakan kroto 12 g per hari atau 1 kg selama 3 bulan. Lalu, kedua anak menghabiskan 20 g per hari atau 2 kg selama 50 hari. Total kebutuhan kroto 3 kg. Dengan harga kroto Rp50.000/ kg maka biaya untuk menghasilkan 1 sarang Rp 150.000. Padahal, nilai sekeping sarang hanya Rp 125.000.

Jadi, ternak walet hanya cocok untuk solusi memancing walet. Rumah-rumah yang sudah dihuni walet hasil ternakan bisa dijual. “Jasa seperti ini yang kini tenis berkembang di dunia perwaletan,” papar Boedi. Keberadaan separuh dari rumah walet di Jawa maupun di luar Jawa adalah peran penjual jasa tersebut.

Budidaya Sarang Walet Bisa Diternakan Secara Aktif Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar