Balittra Banjar Kembangkan Biopestisida Pembasmi Hama Wereng | Mitra Usaha Tani

Minggu, 13 Oktober 2019

Balittra Banjar Kembangkan Biopestisida Pembasmi Hama Wereng

Tancapkan batang pacing Costus speciosus setinggi 160-180 cm di pematang sawah. Saat daun mengering 3 hari berselang, ganti dengan tanaman baru. Daun segar kerabat temulawak itu menghalau wereng hijau Nephotettix virescens. Menancapkan batang pacing dekat tanaman padi terserang membuat wereng hijau tidak menghampiri sumber infeksi. Sementara kalau penancapan di sekeliling padi sehat, costus menghalau wereng hijau menyerang tanaman sehat.

hama wereng

Jika menancapkan batang pacing itu dianggap repot, ada cara lain yang lebih praktis: menanam kerabat temulawak itu di pematang sawah. Tanam pacing di pematang setiap 10 m. Setek tanaman anggota famili Zingiberaceae itu mudah tumbuh. Dengan demikian perlindungan menjadi permanen. Itulah cara petani di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mencegah wereng hijau menyambangi sawah mereka.

Lokalisasi Serangan Awal Hama

Mengapa kehadiran wereng hijau menjadi masalah? Serangga itu menjadi pembawa virus tungro-yang membuat padi tumbuh kerdil. Tanaman terserang tidak mampu atau hanya sedikit memunculkan bulir sehingga produktivitas anjlok. Semua itu cukup dengan sekali gigitan dari wereng yang membawa virus. Tungro berasal dari bahasa daerah Filipina, yang bermakna tumbuh terhambat alias kerdil.

Pertumbuhan padi terserang melambat sehingga tanaman kerdil, sementara warna daun berubah kuning hingga jingga. Perubahan warna bermula dari ujung daun lalu meluas ke pangkal daun. Gejala serangan itu mirip dengan kekurangan unsur nitrogen. Namun, pada tanaman yang terserang tungro terlihat bercak cokelat karat. Jumlah anakan sedikit, jauh di bawah normal yang melebihi 30 anakan. Helaian daun dan pelepah daun memendek.

Potensi kehilangan hasil akibat serangan habang-bahasa Banjar, artinya merah-mencapai 30-90% tergantung tingkat serangan. Lantaran vektor alias penyebar virus berbentuk bulat atau batang itu adalah wereng hijau, maka cara pengendalian utama ialah dengan memusnahkan sumber infeksi dan mengendalikan serangga vektor.

Untuk mengendalikan serangga vektor, petani di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mengandalkan tanaman pacing. Cara itu digunakan luas sejak 1975, ketika ribuan hektar sawah di Kalimantan Selatan luluh lantak akibat serangan penyakit habang. Pada waktu hampir serentak, sentra padi di 6 provinsi lain-Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta-juga nyaris ludes oleh penyakit serupa. Di setiap provinsi itu sawah rusak lebih dari 2.000 ha.
hama wereng

Jika terjadi serangan iitu masyarakat Banjar menyebut Tanah Borneo terkena bala atau kutuk. Setahun berselang pada 1976, sejumlah sawah di Tapin selamat dari bala. Musababnya, tetua Suku Banjar menyeru para pemilik sawah menancapkan Costus speciosus di sekeliling kelompok padi terserang. Anggota keluarga jahe-jahean itu juga ditancapkan di sawah yang sehat dengan interval jarak setiap 10 m. Ajaib! Saat hamparan sawah di tempat lain nyaris hancur, Kabupaten Tapin mampu tetap panen dari 100-200 ha sawah.

Belakangan diketahui kutukan itu tidak lain adalah virus tungro yang mendunia. Sebelumnya tungro tidak dianggap sebagai musuh, la bersalin rupa menjadi berbahaya sejak bergulirnya intensifikasi pada dekade 1970-an, yang menyebabkan penanaman padi besar-besaran secara monokultur. Hamparan sawah mahaluas menjadi “meja makan raksasa” bagi penyakit tungro.

Biopestisida wereng hijau

Enam tahun silam, tepatnya pada 2007, tungro kembali menyerang besar-besaran di sentra padi Kalimantan Selatan. Kali ini warga Astambul, Kabupaten Banjar, yang menancapkan pacing atau tawar di sekeliling sawah. Ketika itu jejeran tawar di tepi sawah mudah terlihat dari tepi jalan lintas Banjarmasin-Hulu Sungai Utara. Sawah 100 ha pun selamat.

Ternyata pacing mengeluarkan aroma yang tidak disukai wereng hijau. Aroma itu berasal dari kombinasi alkaloid, flavonoid, steroid, tanin, dan minyak asiri di dalamnya. Senyawa penting lainnya ialah diosgenin, yang menggangu kesuburan makhluk hidup. Pengamatan berpuluh tahun pada budaya lokal masyarakat Banjar mengatasi tungro membuat Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, menguji pacing untuk biopestisida.

Lembaga itu menguji pacing terhadap ulat grayak Spodoptera lituro dan ulat kubis Plutella xylostella yang banyak menyerang sayuran daun selada, bayam, dan sawi. Dua ulat itu pemakan segala-polifagus-sehingga menjadi acuan untuk hama serangga lain. Periset Balittra mengekstrak pacing lalu menyemprotkan pada ulat yang tengah memangsa sayuran. Selang 24-36 jam, 70-80% ulat mati.

Itu setara daya bunuh pestisida nabati lain seperti mimba atau jengkol meski masih kalah dibanding pestisida sintetis berbahan aktif deltametrin yang membunuh hingga 95%. Setahun berselang yakni pada 2009, pengujian ulang dilakukan bersama mahasiswa Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kali ini daya bunuh costus meningkat pada kisaran 82-85%.

Hasil di laboratorium itu lalu diuji di lahan bayam petani di Landasanulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang merupakan daerah serangan ulat jengkal. Sebuah petakan berukuran 2 m x 3 m sebanyak 4 ulangan dibuat. Hasilnya bayam yang disemprot ekstrak tawar 2 kali sepekan hanya terserang hama 10% alias setara dengan pestisida sintetis. Sementara kerusakan kontrol mencapai 75-80%.

Diduga senyawa nabati dalam costus menghalau hama secara sistemik. Ketika ulat memangsa sayuran yang terpapar ekstrak, selera makannya hilang sehingga lambat laun mati. Senyawa itu juga merusak sistem pencernaan ulat sehingga tidak dapat mencerna dengan baik. Mekanisme lain ialah senyawa diosgenin mengganggu kesuburan ulat sehingga perkembangbiakan terganggu. Dengan mekanisme itu ulat terhindar dari resistensi. Ekstrak costus pun lebih aman bagi konsumen karena racun nabati mudah tercuci.

Balittra Banjar Kembangkan Biopestisida Pembasmi Hama Wereng Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar