Bisnis Restoran Organik Dengan Pola pertanian terpadu | Mitra Usaha Tani

Selasa, 08 Oktober 2019

Bisnis Restoran Organik Dengan Pola pertanian terpadu

"Tema restoran saya hidroponik dan organik,” ujar Bertha Suranto, pemilik Joglo Ndeso

Sekali mencoba jus sawi, Ratna Wulandari langsung ketagihan. Karyawan sebuah bank itu kini 2 kali sepekan mengunjungi restoran Joglo Ndeso yang menyediakan jus sawi amat lezat “Saya senang dengan suasananya. Selain itu makanan yang disajikan terjamin kebersihannya," kata Ratna memuji restoran hidroponik di Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, itu.

Adi Wahyu juga rutin mengunjungi restoran menjadi gemar makan sayur sejak mencoba sayur bobor di Joglo Ndeso. Padahal, sebelumnya putrinya selalu menolak jika disodori sayuran. “Putri saya tertarik karena bisa memanen sendiri sayur yang akan dia makan,” kata Adi. Terjaminnya bahan makanan yang digunakan, suasana asri, dan kebebasan pengunjung untuk memetik sendiri sayurannya memang menjadi andalan restoran yang baru dibuka pada Juli Hidroponik

Kebun sayuran hidroponik
Kebun sayuran hidroponik dan restoran menyatu di satu tempat.
Menurut Bertha Suranto, pemilik restoran Joglo Ndeso, 70% bahan baku menu restorannya berasal dari kebunnya sendiri. Sisanya merupakan bahan pelengkap menu seperti roti, beras, dan kentang.

Di kebun Bertha, sayuran dibudidayakan secara hidroponik dengan beberapa teknik seperti Nutrient Film Technique (NFT), irigasi tetes, sumbu, serta ebb and flow.

“Sistem yang digunakan menyesuaikan dengan jenis sayuran yang akan ditanam,” ujar Bertha. Untuk jenis sayuran daun seperti sawi, selada, dan kangkung Bertha menerapkan sistem NFT di rumah kaca seluas 250 m2. Sementara sayuran buah seperti tomat, cabai, dan mentimun ditanam dengan sistem vertigasi atau dengan menggunakan dutch bucket. Ibu 3 anak itu menuturkan media terbaik untuk sistem vertigasi adalah hidroton. Sebab, bobot hidroton yang ringan memungkinkan akar mudah menembus dan mendapatkan cukup oksigen untuk tumbuh. Selain itu, hidroton dapat digunakan berulang dan mudah dibersihkan.

Bertha menerapkan sistem hidroponik tidak hanya untuk budidaya bahan baku makanan dan minuman di restorannya, tapi juga untuk hiasan meja. Peraih Womonpreuner Competition Award 2013 oleh Kementerian Peranan Wanita dan Perlindungan Anak itu menanam sawi di stoples kaca dengan sistem sumbu. "Sederhana dan tetap berseni," katanya. Hal itu ditujukan agar tema hidroponik semakin melekat di Joglo Ndeso.

Untuk menjamin ketersediaan bahan baku di restoran, Bertha menerapkan pola tanam berbeda untuk setiap sayuran. Pemilik rumah hidroponik itu menyemai benih sayuran pokok seperti selada, sawi, seledri, cabai, dan bawang daun setiap hari. Maklum, sayuran pokok itu dipanen setiap hari. “Selada menjadi incaran pengunjung untuk dipetik sendiri sehingga pasokannya harus selalu terjaga,” ujar putri ke-3 dari 7 bersaudara itu.
Organik

Saat ini ada sekitar 150 jenis sayuran dan buah yang ditanam di sekeliling restoran. Npmun, semua sayuran itu tak hanya dibudidayakan secara hidroponik, tapi juga organik. “Empat puluh persen saya tanam secara hidroponik, dan sisanya organik," katanya. Beberapa jenis buah yang ditanam adalah lengkeng, mangga, pepaya, sirsak, dan ceri lokal. “Saya memilih cara organik agar makanan dan minuman yang disajikan terjamin kesehatannya,” ujar Bertha.

Hasil budidaya sayuran dan buah itu kemudian Bertha olah menjadi beragam menu sehat. Sebut saja sup buah, sayur bobor sawi lebor, bucket selada joglo ndeso, dan capcayjawa. Menu yang disajikan pun tak melulu sayuran tapi juga dikombinasikan dengan ayam dan ikan yang juga hasil budidaya secara organik. Contohnya sandwich ayam yang merupakan perpaduan antara selada, tomat, mentimun, dan fillet ayam. Di antara menu tersebut jus sawi dan sayur bobor sawi lebor menjadi favorit pengunjung.

Khusus untuk ayam, Bertha memeliharanya di tempat terpisah yang jaraknya 700 m dari restoran. “Saya ingin menerapkan pertanian terpadu di restoran saya,” ujarnya menurut dosen agribisnis Institut Pertanian Bogor, Ir Leni Lidya MM, pertanian terpadu merupakan salah satu solusi untuk memotong rantai usaha. “Dengan begitu harga yang diterima konsumen pun akan lebih murah,” ujar Leni.

Itulah yang terlihat di Joglo Ndeso. Beragam sayuran dan buah yang menjadi bahan baku, tumbuh subur di sekeliling "estoran. Menu yang ditawarkan dibandrol harga mulai Rp9.000 sampai Rp98.000 per porsi.

Pantas pengunjung yang datang bukan hanya dari Yogyakarta, tapi juga Bandung, Jakarta, Surabaya, Sumatera, dan Kalimantan. Selain harganya terjangkau makanannya pun sehat.

Bisnis Restoran Organik Dengan Pola pertanian terpadu Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar