Dongkrak Produksi Dan Kualitas Jambu kristal Dengan Pupuk guano | Mitra Usaha Tani

Senin, 14 Oktober 2019

Dongkrak Produksi Dan Kualitas Jambu kristal Dengan Pupuk guano

Kualitas istimewa membuat buah jambu kristal itu selalu ludes. “Di sini di Majalengka dan Cirebon, panen 200 kg per hari saja masih kurang," ungkap Runah Heryanto yang mengebunkan 5.000 pohon di lahan 20 ha di Desa Jayi, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Hery menanam bibit Psidium guajava itu pada Desember 2012. Tanaman yang kini berumur hampir 2 tahun itu berproduksi rata-rata 30 kg per pohon per musim.

Jambu kristal
Jambu kristal asal Majalengka, rasa manis, renyah, dan gurih
Permintaan dari Tasikmalaya dan Kuningan, keduanya di Provinsi Jawa Barat, pun belum terlayani. Kakek 1 cucu itu hanya sekali sepekan mengirimkan 40 kg buah ke kantor Dirjen Hortikultura di Pasarminggu, Jakarta Selatan, atas permintaan konsumen. “Saya suka kristal dari kebun Pak Hery karena rasanya manis, daging renyah sehingga mudah dikunyah, juga tanpa biji," ujar Andy Wijaya, penggemar jambu kristal berlabel Arista Montana itu. Saat berpameran di Festival Bunga dan Buah Nusantara 2014 di IPB Bogor awal Oktober, setengah dari 400 kg kristal yang disiapkan habis terjual pada hari pertama dengan harga Rp25.000/kg.

Jambu kristal Yang Bermutu tinggi

Hery tak sulit memasarkan buah kerabat salam itu. Petugas pemasaran cukup mengantar ke penjual buah di pinggir jalan jalur Majalengka-Cirebon. Dengah harga jual Rpl5.000 per kg, hampir tidak ada buah tersisa, bahkan kurang. Sementara itu meski produksi pada musim kemarau berkurang, tetapi dengan menaikkan harga jual rata-rata Rp 17.000 per kg, omzet Hery tetap, sekitar Rp3-juta per hari.

Hery memetik buah bulat berbobot 150-250 gram. Pada awalnya ia menyortir buah tanpa cacat, tak ada gerekan serangga, hijau mulus, dan berbentuk bulat sempurna. Menurut Hery hampir 60--70 % panen memenuhi standar itu. Harap mafhum, ia memang menyeleksi bakal buah ketika berukuran sebesar kemiri dengan mempertahankan hanya dua buah per ranting Tujuannya agar mampu memetik buah berkualitas tinggi. Namun, ternyata, buah kecil pun digemari konsumen karena rasa lebih manis dan lembut, hingga akhirnya semua buah di pohon dipertahankan.

Itu strategi pada musim hujan. Namun, pada musim kemarau pekebun buah sejak 2006 itu mengurangi buah lantaran ketersediaan air terbatas, la hanya mempertahankan maksimal 4 buah per ranting yang kadang mencapai 6 buah. Bila ia tak mengurangi jumlah buah kualitasnya turun. Tanaman membutuhkan air untuk proses pembesaran buah. Pupuk pun baru efektif setelah dibarengi penyiraman. Selama musim kemarau, Hery mengandalkan penjatahan air dari waduk sebagai sumber air.

Secara keseluruhan, produksi tuffcn sekitar 25-30% selama kemarau atau rata-rata 200 hari. Bandingkan dengan produksi di luar kemarau mencapai 250 kg per hari. Meski demikian kualitas buah pada musim kemarau yang terbatas air itu sama tingginya dengan mutu jambu pada musim hujan. Buah renyah dan manis karena Hery memberikan nutrisi yang memadai.

Sebelum tanam, ia memberi 300 gram pupuk guano atau kotoran kelelawar campur TSP dan Urea di lubang tanam. Sebulan kemudian ia menambahkan 0,25 kg guano per tanaman setiap dua pekan. Frekuensi pemupukan guano berikutnya 4-6 bulan berdosis 0,5 kg. la rutin memberikan guano yang mengandung unsur mikro antara lain besi 361 ppm, mangan (88), tembaga (69), seng (129), dan boron (103).
Jambu kristal Dengan Pupuk guano
Hery (kiri) dan Andy Wijaya, ingin jadikan buah lokal tuan rumah di negeri sendiri

Pupuk guano

Agar kebutuhan unsur makro terpenuhi, Hery tetap memberikan ZA dan KCI masing-masing sebanyak 0,5 kg setiap 2 pekan. “Pemberian pupuk tidak boleh terlambat. Bila daun terlanjur kuning, tidak bisa balik hijau,” ujar Hery. Namun, ia baru memupuk jika kebun mendapat jatah air. Pada kemarau ini, kebun mereka hanya dapat jatah air 4 hari 3 malam per pekan. Karena itulah mereka memaksimalkan pemanfaatan air dengan menyiram 4-5 ember per tanaman dari air yang mengalir di saluran kecil yang ada setiap 2 bedengan. Sementara itu untuk meningkatkan kerenyahan buah, ia memangkas ujung cabang sepanjang 15-20 cm.

Dengan memangkas 20 cm ujung ranting, aliran nutrisi ke ujung terhenti sehingga hanya diterima buah yang dilewatinya. Menurut ahli buah di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Reza Tirtawinata MSi, pemotongan cabang atau ranting berpengaruh pada kerenyahan daging buah. Tekstur renyah dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu ketersediaan karbohidrat, air, dan udara. Bila tidak ada tambahan karbohidrat, buah jadi bantet. Sel-sel tidak berkembang maksimal sehingga tekstur tidak renyah," kata Reza. Agar lebih terjamin tingkat kerenyahannya, Hery memberikan 300 gram kapur pertanaman menjelang buah sebesar kemiri.

Bila pekebun lain memilih melakukan pemangkasan cabang agar tanaman tidak tinggi, pekebun yang mahir berbahasa Thailand itu memilih membiarkan cabang tumbuh memanjang. “Cabang panjang itu dibalik sehingga berbuah,” kata Hery. Pembalikan cabang yang tadinya tidak terkena sinar matahari jadi menerima matahari dan sebaliknya. Pemilaian membuat cabang merunduk hingga 90 derajat. Agar posisi itu bertahan lama, ia mengikat cabang dengan rafia. Dua-empat pekan kemudian muncul tunas baru dari ketiak daun. Setelah berdaun 3-4 pasang, cabang baru itu memunculkan 2-6 calon bunga. Menurut Reza Tirtawinata, perundukan cabang hingga 90 derajat membuat proses apikal dominan terhenti.
tunas baru


Sementara itu sitokinin menjadi aktif dan merangsang munculnya tunas samping. Biasanya, tunas baru muncul di bekas mata tunas yang daun telah lama gugur. Bukan pada ruas yang baru digugurkan daunnya. Kasus serupa terjadi pada tanaman apel, yakni munculnya tunas baru setelah daun gugur.

Beberapa hari kemudian tunas baru itu mengalami pembentukan florigen atau Hormon tumbuh yang berperan dalam proses pembungaan sehingga muncul bunga. Hery memanjangkan cabang dan memilai karena berencana mencangkok cabang itu. “Bila dipangkas maka cabang itu hanya terbuang,” kata Hery. la lantas menanam cangkokan itu di polibag besar. Dalam 4--6 bulan tanaman berbuah dan siap tanam di kebun atau dipasarkan.

Agar tetap berkualitas tinggi, saat sebesar kemiri, buah dibungkus secara berlapis. Lapisan dalam memakai kertas minyak warna hijau dan lapisan luar menggunakan plastik bening. Buah pun bebas dari serangan lalat buah. "Dengan kualitas tinggi, buah lokal kita siap bersaing dengan buah impor,” ungkap Soecipto Hadi Saputro, konsultan manajemen Arista Montana.

Dongkrak Produksi Dan Kualitas Jambu kristal Dengan Pupuk guano Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar