Hobi Bertani Tanpa Media Tanah Ala Para Pejabat Pemerintahan | Mitra Usaha Tani

Jumat, 11 Oktober 2019

Hobi Bertani Tanpa Media Tanah Ala Para Pejabat Pemerintahan

Bupati Dadang M Naser dan aktor Mark Sungkar bercocok tanam sayuran hidroponik.

Menjadi kepala pemerintahan sebuah wilayah bukan hal mudah karena persoalan amat pelik. Itulah sebabnya pada umumnya kepala pemerintahan itu sibuk. Meski demikian Bupati Bandung, H Dadang Mohamad Naser SH, SIP MSi, masih meluangkan waktu bercocok tanam. Bupati yang akrab dipanggil kang DN itu memang tidak mencangkul atau mengolah tanah, la menanam sayuran tanpa tanah alias sistem hidroponik di pekarangan rumah dinas sejak 2012.


“Dengan hidroponik penanaman sayuran tidak memerlukan tanah sehingga mudah dan tidak merepotkan. Selain itu, kebutuhan air untuk tanaman pun tidak begitu banyak," kata master Ilmu Politik alumnus Universitas Padjadjaran itu. la bercocok tanam untuk memberi contoh kepada warganya, dan memanfaatkan lahan sebaik mungkin.

Penghasilan tambahan Lewat Perkebunan Hidroponik


Selain itu aktivitas berkebun sayuran sang Bupati juga berdampak positif, banyak warga yang mengikutinya. Warga berbondong-bondong memanfaatan pekarangan rumahnya sebagai lahan bercocok tanam. Menanam sayuran di halaman rumah itu merupakan salah satu program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bandung sejak 3 tahun silam.

“Kali pertama dipanen hasil KRPL itu dibagikan ke Kelompok Wanita Tani (KWT) sehingga mereka mencicipi langsung yang mereka tanam. Saya pun mengonsumsi sayuran hasil pekarangan sendiri,” kata Kurnia, istri bupati Bandung. Padahal, semula pekarangan mereka menganggur. Kini mereka bisa memetik sendiri beragam sayuran untuk mencukupi kebutuhannya, bahkan menjual sehingga pendapatan bertambah.

Dadang M Naser menanam sayuran hidroponik sistem nutrient film technique (NFT) dengan 2 tipe: tanpa atap dan di dalam net house atau rumah jaring. Di kedua tipe itu, pria kelahiran Bandung, 24 Juli 1961 itu menggunakan pipa PVC berukuran 2 inci sebagai wadah tanam.

Menurut Dadang budidaya sayuran secara hidroponik juga sangat efektif. “Karena tidak memerlukan lahan yang besar. Tanaman yang dihasilkan pun merupakan tanaman organik karena tidak diberi pestisida," katanya. Hidroponik memang tidak membutuhkan lahan luas karena dapat dibuat secara bertingkat alias vertikal. Itu yang Dadang lakukan. Untuk hidroponik di luar ruangan, Dadang menggunakan konstruksi rangka besi berbentuk segitiga sehingga dapat memanfaatkan kedua sisinya. Jarak antarkaki rangka segitiga itu 1,2 m. Di 2 sisi segitiga itu ia menyusun pipa masing-masing menjadi 6 tingkat dengan jarak antarpipa 20-40 cm. Panjang pipa masing-masing 14 m.

Dengan jarak antarlubang tanam 20 cm, Dadang bisa menanam 70 tanam per pipa. Artinya, dengan luasan 16,8 m2 ia bisa menanam 840 sayuran. Bandingkan dengan penanaman secara konvensional hanya bisa menanam 420 sayuran di luasan sama. Dengan begitu, hasil panen Dadang pun lebih banyak. Dadang dan istri, Hj Kurnia Dadang Naser, menanam sayuran daun seperti kailan, pakcoy, caisim, dan salada.


Sayuran Hasil Panen Tanam hidroponik Rasanya Relatif Lebih enak


Menurut Kurnia, rasa sayuran hidroponik lebih enak dibandingkan yang ditanam secara konvensional. “Rasanya lebih renyah dan lebih segar,” kata Ketua Umum Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung itu. Menurut Dadang, “Sayuran hidroponik contohnya kailan, kalau dimasak rasanya lebih renyah, empuk, dan gampang dikunyah,” kata sarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung itu.

Selain dikonsumsi sendiri, Dadang juga menjual hasil sayuran hidroponiknya. “Untuk konsumsi sendiri tidak banyak, oseng kailan paling 2 piring cukup. Selebihnya ya dijual,” katanya. Dadang memanen sayuran hidroponik sebanyak 200 kg per 2 pekan. Dengan harga jual Rp 12.000 per kg, Dadang memperoleh omzet Rp2,4-juta. Setelah dikurangi biaya produksi sekitar 60%, ia meraih penghasilan tambahan Rp960.000 per 2 pekan atau Rpl,9-juta per bulan.

Kecintaan Dadang terhadap pertanian, seperti menanam sayuran bukan tanpa alasan. “Meski saya tidak pernah sekolah pertanian, tapi saya bisa kuliah dan menjadi sarjana hukum itu dari pertanian," katanya. Dahulu Dadang pernah menjabat sebagai ketua unit bina padi sehingga memiliki uang untuk biaya sekolah. Selain itu, ia juga berasal dari keluarga petani. “Bapak saya seorang petani,” katanya.

Kurnia menuturkan, "Sebelumnya saya dan Bapak berkomitmen kalau rumah dinas ini menjadi miniatur dari 31 kecamatan dari Kabupaten Bandung.” Dengan lahan rumah dinas yang lumayan luas Dadang dan istri leluasa menghadirkan percontohan pertanian, seperti padi organik dan greenhouse untuk menanam sayuran. “Jadi ketika ada masyarakat yang datang kemari diperlihatkan bahwa kami tidak hanya mengimbau, tapi kami menanam langsung,” kata Kurnia. Keberhasilan menanam sayuran hidroponik di rumah dinas pun Dadang tularkan di pemerintahannya. Terkait dengan program KRPL, ia meganjurkan setiap halaman Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Pemkab Bandung ditanami sayuran secara hidroponik.


Sejak 2011

Nun di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mark Sungkar juga bertanam sayuran tanpa tanah. Bahkan aktor film pada era 1970-1980-an ternyata lebih senang dikenal sebagai petani. ‘‘Saya bangga jika ada yang menyebut saya pq|gni,” ujarnya.

Hobi yang mulai berkembang menjadi bisnis itu digeluti Mark Sungkar sejak 3 tahun silam. “Saya tertarik bertani sejak bersekolah di Akademi Teater Amsterdam, Belanda, pada 1979. Di sana petani tidak ada yang miskin. Tapi kesempatan menekuni pertanian baru dimulai pada 2011," kata pria bernama lengkap Mubarak Ali Sungkar itu.

Saat Mitra Usaha Tani menemui di tempat tinggalnya di Vila Sungkar, kawasan Cisarua, Mark sedang mengecek sayurannya yang menghijau di dalam sebuah net house berukuran 5 m x 7 m.

Karena tak ingin meninggalkan hobinya itu, Mark memutuskan menjual rumahnya di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan menetap di Cisarua. Menurut ayah dari Shireen Sungkar itu, bercocok tanam membuatnya lebih rileks. "Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat sayuran di kebun saya tumbuh hijau dan segar,” kata pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, itu.

Di dalam net house itu Mark menanam berbagai sayuran seperti kangkung, sawi, selada, tomat, dan cabai dengan sistem hidroponik dan akuaponik. Untuk budidaya hidroponik Mark menggunakan pipa polivinil klorida (PVC) sebagai wadah tanam.

Di salah satu sisi net house terlihat 5 buah sepanjang 3 m disusun secara horizontal dengan 15 lubang tanam di masing-masing pipa.

Sebuah net pot hitam dengan media berupa hidroton menyangga sawi-sawi hijau yang tingginya mencapai 15 cm. Akar sawi menyentuh nutrisi yang berasal dari pipa penyaluran. Di sisi lain terlihat sebuah meja kayu berukuran 3 m x 1 m ditanami selada dengan sistem hidroponik rakit apung. Selada-selada itu tumbuh hijau di lubang-lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan nutrisi setinggi 30 cm. "Sistem rakit apung lebih ekonomis daripada menggunakan talang PVC," kata ayah 4 anak itu. Tomat dan cabai pun terlihat tumbuh subur di dalam sebuah drum bekas cat dengan media berupa perlit.

Untuk saat ini, Murk belum menjual hasil sayurannya itu. “Jika ke Jakarta pasti saya membawa selada dan sawi dari kebun ini untuk dikonsumsi keluarga besar, dibagikan kepada warga, dan rekan-rekan kerja,” ujar pemilik Green Homes Indonesia itu. Rasa sayuran yang renyah dan tidak pahit membuat keluarga besar Sungkar ketagihan. Pada 2015 Mark berencana mengembangkan hobinya itu dengan menjual hasil kebun yang telah dilabeli ke pasar swalayan.

Serba Organik


Menurut Mark, bertani tanpa tanah merupakan masa depan Indonesia di tengah era modern yang menyebabkan lahan subur semakin terbatas. Nutrisi yang mengairi seluruh tanaman itu berasal dari 2 buah kolam yang terbuat dari drum berdiameter 100 cm dengan kedalaman 120 cm. Di dalamnya berisi ikan bawal, mas, dan nila.

Ikan yang dipelihara itu akan menyumbang hara berupa sisa pakan dan kotoran yang diendapkan. Bakteri menyaring dan mengubah amonia menjadi nitrat, yang berfungsi sebagai pupuk tanaman. "Dengan sistem akuaponik itu saya tidak perlu pupuk lagi, sayuran saya pun menjadi organik,” katanya. Tanaman juga membalas jasa dengan memasok oksigen yang diperlukan ikan. Air kaya oksigen itu secara otomatis akan mengalir lagi ke kolam dengan keadaan bersih. “Jadi tidak repot mengganti air di kolam. Ini juga salah satu cara untuk menghemat air,” ujar adik dari Lutfiah Sungkar itu.

Dengan hobi barunya itu Mark bercita-cita mengedukasi para petani bahwa bertani secara organik itu tidak mahal. Nenek moyang kita juga tidak menggunakan bahan-bahan kimia untuk bercocok tanam. “Organik dilabeli mahal agar yang membeli hanya kalangan menengah atas. Padahal, organik bisa ditempuh dengan biaya murah,” ujar presiden Federasi Triathlon Indonesia itu.

Mark mempelajari ilmu bertani secara akuaponik dari Murray Hallam, seorang petani akuaponik besar di Brisbane, Australia. Dari Negeri Kanguru itu pula ia memperoleh sertifikat internasional sebagai peserta pelatihan akuaponik. Untuk menambah pengetahuan mengenai budidaya secara akuaponik dan hidroponik Mark pun rajin berselancar di internet, membaca buku, dan Majalah Mitra Usaha Tani.

Hobi Bertani Tanpa Media Tanah Ala Para Pejabat Pemerintahan Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar