Kabupaten Bandung Galakan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) | Mitra Usaha Tani

Sabtu, 12 Oktober 2019

Kabupaten Bandung Galakan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)

Halaman depan rumah Linha di Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu tampak asri. Beragam jenis sayur seperti kangkung, pakcoy, tomat, cabai, dan paprika yang ditanam dalam polibag tertata rapi di depan dan sebelah kanan halaman 3 mx2 m itu. Sementara di sebelah kiri ada kolam 1 m3 berisi bibit ikan nila. Padahal, setahun silam pekarangan beralaskan peluran itu kosong dan gersang.

Kawasan Rumah Pangan Lestari
KWT Mawar di Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagreg menghasilkan 200 kg sayuran per 3 pekan
Perubahan penampilan pekarangan Linha sejak Maret 2014 itu berkat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Sabilulungan. Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Bandung menerapkan program itu sejak 2012. Menurut Kepala BKP3 Kabupaten Bandung, Ir Dadang Hermawan, KRPL merupakan program ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah dengan menanam sayuran produktif dan memelihara hewan ternak dan ikan. * Sementara Bupati Bandung, H Dadang Mohamad Naser SH, SIP, mengatakan, “Sabilulungan berarti silih asah, silih asuh, dan silih asih. Saling mendukung dan bekerja sama dalam melakukan sesuatu yang didasari oleh kesadaran dan tanggungjawab bersama dan rasa kebersamaan.” Dengan begitu KRPL merupakan program yang dilakukan secara bersama-sama alias gotong royong.

Dadang M Naser menuturkan KRPL efektif menunjang kebutuhan pangan masyarakat dengan memanfaatkan ruang terkecil di lingkungan keluarga, yaitu pekarangan rumah. Jadi, “Sesempit apa pun lahan kosong di setiap rumah, dapat dijadikan peluang untuk menunjang ketahan pangan keluarga,” kata Dadang M Naser. sering berfluktuasi itu karena dapat dipenuhi dari hasil pekarangan sendiri. http://www.litbang.pertanian.go.id/krpl/

“Jika masyarakat Kabupaten Bandung suka sambal minimal dia punya cengek di lahan pekarangan sehingga tidak harus beli,” kata Bunda KRPL, Kurnia Dadang Naser. Hal serupa disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan BKP3 Kabupaten Bandung, As As Masitoh Fourstar. “Paling tidak, untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti sayur, cabai, dan tomat tidak perlu beli dari warung. Dengan begitu pengeluaran belanja pun dapat berkurang,” ujar As As.
Kawasan Rumah Pangan Lestari
"Selama kita ketergantungan terhadap pangan maka kita harus bisa berfikir bagaimana dengan lahan terbatas bisa menghasilkan nilai positif bagi kesehatan dan benefit bagi kemajuan di lingkungan sekitarnya," ujar Kurnia Dadang Naser
Menurut Linha pengeluaran belanja hariannya berkurang hingga Rp4-000. “Kan tidak usah beli cabai, tomat, dan sayur lagi karena sudah bisa petik sendiri dari halaman,” katanya. Hal serupa dialami Juariah, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 4 di Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Biasanya belanja sehari Rp3O.OOO, setelah ikut KWT dan KRPL cuma Rp25.OOO,” ujar Juariah. Artinya, ada penghematan Rps.000 per hari atau Rpi50.000 per bulan.

KRPL Mampu Menambah penghasilan

Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga sendiri, program KRPL juga dapat menambah penghasilan masyarakat. Musababnya, pemerintah Kabupaten Bandung menerapkan sistem terpadu dari hulu hingga hilir. Jadi, pemerintah tidak hanya memberikan pengetahuan cara menanam yang baik, tapi juga menjamin pemasaran sayuran yang dihasilkan KRPL. “Dari awal kami selalu menyampaikan, ketika sayuran ibu tidak terserap kami akan menampungnya. Jadi ada jaminan pasar,” kata istri Bupati sekaligus Ketua Umum Tim Penggerak PKK Kabupaten Bandung, Kurnia Dadang Naser.

Dadang Hermawan menuturkan untuk program KRPL Pemerintah Kabupaten Bandung memberikan bantuan senilai Rpi5-juta/KWT. Satu KWT terdiri dari 20-25 anggota. Bantuan itu diberikan dalam bentuk benih sayuran, polibag, dan rumah tanam atau net house berukuran , rata-rata 4 m x 6 m. “Sayuran yang ditanam di dalam greenhouse (net house, red) akan dirawat bersama oleh anggota KWT,” ujarnya.

KWT Mawar di Desa Mandalawangi, Kecamatan Nagregyang beranggotakan 100 wanita menjalankan program KRPL sejak Maret 2014. Mereka menghasilkan 200 kg sayuran per 3 pekan dari net house KRPL. KWT Mawar menjual hasil KRPL ke penampung seharga Rp4.000/kg. Artinya, omzet- mereka Rp800.000 per 3 minggu.

Menurut Kurnia, ada KWT yang menjual sayuran ke pedagang di dekat rumahnya, pedagang bakso dan mi ayam, serta wisatawan. Ada juga KRPL yang dilalui jalur rekreasi dan di sana sering wisatawan yang berkendaraan mobil berhenti untuk membeli cabai. “Mereka langsung beli tanaman cabai sekaligus dengan polibagnya,” ujar Kurnia.

Ketahanan pangan Dan Kecukupan gizi

Sejatinya, tujuan KRPL tidak hanya terbatas pada ketahanan pangan keluarga, tapi juga terpenuhinya kebutuhan gizi. “Tujuan utama KRPL adalah untuk memenuhi gizi masyarakat, terutama masyarakat miskin atau yang berpenghasilan rendah,” ujar Dadang Hermawan. Maklum, selama ini pameo yang banyak beredar di masyarakat adalah makan asal kenyang. Padahal, pola pangan harapan yang baik harus mengacu pada standar pelayanan minimum (SPM) pangan, yaitu beragam, bergizi, berimbang, sehat, dan aman.

“Selama ini banyak masyarakat yang makan asal kenyang, nasi banyak sedangkan ragam lauknya kurang,” kata Dadang. Itu terbukti dari skor pola pangan harapan (PPH) Kabupaten Bandung pada 2010 yang masih kurang dari ideal, 86,7. Idealnya di atas 95. Artinya, kontribusi padi-padian, khususnya beras, masih mendominasi skor PPH. Sementara asupan gizi masyarakat dari kelompok pangan hewani serta sayur dan buah masih minim.

Dadang menuturkan kawasan Kecamatan Pangalengan dan Ciwideyyang notabene penghasil beragam jenis sayuran, masyarakatnya masih masuk dalam kategori rawan pangan. Musababnya, pola makan masyarakatnya belum seimbang. “Hasil produksi sayurannya hanya untuk dijual dan jarang masyarakat yang mengonsumsinya sendiri,” ujar Dadang.

Dengan adanya program KRPL Sabilulungan sejak 3 tahun silam, kualitas konsumsi pangan masyarakat Kabupaten Bandung pun mulai meningkat. “Orang yang semula tidak menyukai sayuran atau jarang makan sayur, kini terbiasa menjadikannya sebagai lauk,” kata As As. Hingga saat ini dari 31 kecamatan telah dibentuk 140 KWT dengan masing-masing anggota 20-25 orang. Itu berarti minimal ada 2.800 ibu rumah tangga mengalami perbaikan gizi.
Kawasan Rumah Pangan Lestari
KRPL memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran produktif demi ketahanan pangan keluarga

Lingkungan terpelihara

Dengan program KRPL keharmonisan masyarakat pun meningkat melalui kerja sama antarkeluarga dalam memanfaatkan lahan pekarangan. Program KRPL juga berdampak pada kebersihan dan kelestarian lingkungan. Produksi sampah rumah tangga per hari rata-rata mencapai 1 kg. Dari sampah sebanyak itu, sebagian sampah organiknya dibuat kompos sebagai pupuk tanaman KRPL. Sementara limbah plastik, seperti bekas kemasan minyak goreng, kantung kresek, kemasan bekas deterjen bisa dimanfaatkan sebagai wadah media tanam.

Dalam 3 tahun, KRPL Sabilulungan telah memberdayakan ribuan rumah tangga di lebih dari 200 desa dan kelurahan di 31 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Bandung. Selain dikembangkan di lingkungan masyarakat, KRPL Sabilulungan juga dilaksanakan di kantor pemerintahan, swasta, area bisnis, sekolah, pesantren, dan sarana peribadatan.

Kurnia berharap, “Sesuai dengan namanya, KRPL Kawasan Rumah Pangan Lestari, semoga semakin lestari dan semakin banyak pihak perduli dan pihak yang membuka diri terhadap program yang esensi. Selama kita ketergantungan terhadap pangan maka kita harus bisa berfikir bagaimana dengan lahan terbatas bisa menghasilkan nilai positif bagi kesehatan dan benefit bagi kemajuan di lingkungan sekitarnya.” Dengan kerja sama semua pihak dalam menjalankan program KRPL Sabilulungan diharapkan pada 2015 terwujud Bandung Kabupaten Rumah Pangan Lestari (KRPL)

Kabupaten Bandung Galakan Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar