Kedaulatan benih tanaman Guna mewujudkan kedaulatan pangan | Mitra Usaha Tani

Minggu, 13 Oktober 2019

Kedaulatan benih tanaman Guna mewujudkan kedaulatan pangan

Masyarakat kasepuhan di Jawa Barat, Badui di Banten, Sedulur Sikep di Jawa Tengah, dan masyarakat tradisional lain memiliki pandangan luhur terhadap alam. Mereka memandang pertanian adalah budaya sebagaimana yang seharusnya (agri-culture), tidak sebatas upaya manusia memproduksi pangan dan pakan yang sering kali direduksi sekadar komoditas perdagangan. Pertanian budaya menghormati tanah sebagai ibu, langit sebagai ayah, dan benih sebagai anak.

Ibu adalah makhluk yang harus dihargai, diperlakukan dengan sopan dan dikelola dengan arif. Pemberian pupuk kimia berlebihan, penggunaan racun hama yang masif, pengolahan tanah tanpa mempedulikan kaidah konservasi merusak ibu. Akibatnya ibu semakin kesulitan memberikan peran dan andilnya bagi pemenuhan kebutuhan makhluk hidup di dalamnya dan manusia yang menghuni di atasnya.

Timang-timang


Demikian juga benih. Sebagai anak, benih harus ditimang, ditinggikan, dimuliakan, dan dididik sehingga menjadi benih yang baik yang berkembang menjadi induk sehat. Jika demikian benih menurunkan keturunan yang baik. Benih juga perlu dikonservasi dan disimpan dengan baik sehingga kehidupan dan keragaman mereka terjaga.

Namun, kearifan luhur itu semakin terkikis. Saat ini benih hanya dipandang sebagai alat produksi, meski tetap menduduki tempat paling utama budidaya pertanian. Benih menentukan 60% keberhasilan atau kegagalan usaha tani. Karena potensinya yang besar, banyak pihak berupaya menguasai benih. Berbagai aturan di tingkat nasional maupun internasional dibuat sebagian besar bertujuan melindungi industri perbenihan. Semakin lama benih menjadi barang eksklusif yang semakin menjauh dari harkat sebenarnya sebagai pelayanan kehidupan.

Benih dan varietas tanaman dari dahulu hingga sekarang karya masyarakat lokal dan petani kecil. Sejak 1960-an petani kecil di seluruh dunia menghasilkan sekitar 2,1-juta varietas tanaman. Karya itu jauh lebih tinggi dibanding gabungan karya peneliti di berbagai institusi publik maupun swasta, baik nasional maupun internasional. Para pemulia tanaman dari lembaga publik saat ini menghasilkan kira-kira 8.000 varietas tanaman baru, terutama gandum, padi, kedelai, dan jagung. Sementara pemulia tanaman yang bekerja < di berbagai industri benih menghasilkan 80.000 varietas tanaman, sebanyak 59% di antaranya jenis bunga.

Petani kecil juga sebagai penjaga utama keragaman benih, spesies dan varietas tanaman. Mereka melakukan pemuliaan dan memelihara keragaman hingga 7.000 spesies tanaman di seluruh dunia. Sebaliknya industri benih dan sistem pertanian modern hanya mampu memelihara 120-150 spesies tanaman. Revolusi hijau dan sistem pertanian monokultur menjadi penyebab utama penurunan keanekaragaman hayati pertanian. Sebelumnya, manusia tergantung pada 10.000 spesies tanaman pangan dan pertanian. Saat ini hanya 120 spesies dengan 12 spesies sebagai spesies utama menyumbang 90% pangan manusia.

Upaya menjaga keanekaragaman hayati pertanian dan keanekaragaman benih melalui lembaga formal di luar petani kecil menghadapi kendala besar. Saat ini terdapat sekitar 1.300 bank gen pertanian yang mengoleksi sekitar 3-juta benih di seluruh dunia. Hampir semua benih itu berasal dari masyarakat lokal dan petani kecil. Banyak dari bank benih itu saat ini mengalami kesulitan besar karena terjadinya penurunan pendanaan di seluruh dunia. Penerima manfaat terbesar dari keberadaan bank gen yang didanai masyarakat itu perusahaan benih raksasa.

Perusahaan benih multinasional itu saat ini telah mengakses ratusan ribu benih dari bank benih pertanian internasional. Perusahaan itu juga mendapatkan langsung benih dari petani kecil di seluruh dunia yang telah memelihara dan mengembangkannya selama puluhan tahun. Benih itu kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi benih unggul, benih hibrida maupun benih transgenik. Upaya internasional terus dijalankan sehingga keluar berbagai kesepakatan internasional yang kemudian diturunkan menjadi peraturan nasional. Agenda utamanya, melindungi kepemilikan benih oleh perusahaan benih raksasa. Ironisnya semua benih itu awalnya dari masyarakat lokal dan petani kecil yang tersimpan di bank benih internasional dengan pendanaan publik.

Selain penguasaan benih, penguasaan pasar benih menjadi tujuan utama lain. Dalam waktu kurang dari 40 tahun, pangsa pasar benih yang mulanya tersebar merata di ratusan ribu perusahaan benih kecil dan petani, saat ini mengerucut ke puluhan perusahaan benih. Sebanyak 67% pasar benihdikuasai lOperusahaan benih multinasional di seluruh dunia. Perusahaan benih multinasional juga masuk dan menguasai sebagian besar pasar benih (terutama hortikultura) di Indonesia. Sebesar 78% pasar benih hortikultura di Indonesia saat ini dikuasai perusahaan asing. Bila hal itu terus berlanjut, berdampak pada masa depan pangan dan pertanian di Indonesia, sekaligus mengubur kedaulatan pangan.

benih tanaman

Daulat Benih


Kunci utama mewujudkan kedaulatan pangan, mengembalikan kedaulatan petani terhadap benih tanaman. Petani kecil sebagai penjaga, penimang, pengasuh dan pendidik benih yang digambarkan di awal tulisan ini sebagai anak. Petani kecil juga yang memelihara dan tetap mengonservasi 7.000 spesies tanaman pangan dan pertanian di tengah himpitan praktek budidaya pertanian modern yang menisbikan keanekaragaman.

Upaya mewujudkan kedaulatan petani atas benih perlu diawali dari meninjau ulang undang-undang dan semua peraturan turunan di bawahnya. Sebab, peraturan itu berpotensi mengriminalkan petani pemulia tanaman dan petani penangkar benih dalam menataniagakan hasil karya mereka.

Seperti kasus puluhan petani pemulia dan penangkar jagung di Kediri, Jawa Timur, pada 2005-2010 ditangkap polisi dan sebagian mendapat hukuman penjara untuk berbagai alasan tidak masuk akal. Upaya mereka memilah, menyeleksi, mengembangkan induk, memproduksi jagung hibrida dan menataniagakan akhirnya berujungke persoalan pidana. Di persidangan, dakwaan primer berupa tuduhan mencurbenih induk perusahaan dan melanggar paten tidak terbukti. Beberapa dari mereka dituduh melanggar UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman pada beberapa pasal. Musababnya, “melakukan budidaya tanaman tanpa izin" dan “mengedarkan benih yang belum dilepas oleh pemerintah dan belum disertifikasi".

Upaya mewujudkan kedaulatan petani atas benih tidak boleh lagi dibelenggu undang-undang dan berbagai produk turunan di bawahnya. Petani kecil perlu dilindungi dan dilibatkan aktif dalam proses pemuliaan tanaman, penangkaran benih, dan upaya komersialisasi benih karya mereka.

Contoh karya petani kecil yang fenomenal, jagung hibrida karya petani Jawa Timur dengan potensi hasil 12 ton per ha; kedelai varietas grobogan dengan potensi hasil 4 ton per ha; dan padi IF8 (IF=lndonesian Farmer) yang saat ini ditanam di berbagai tempat di 14 kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Produktivitas IF8 10,4-13,76 ton gabah kering panen per ha. Itu belum terhitung karya petani kecil lain yang kemudian dimiliki dan didaftarkan sebagai varietas milik perusahaan benih.

Gerakan petani pemulia tanaman dan petani penangkar benih perlu menjadi gerakan masif yang kuat dan didukung sepenuhnya oleh pemerintah, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi. Melalui hal itu keanekaragaman hayati pertanian di Indonesia terselamatkan, karya-karya besar di bidang perbenihan akan tercipta dan upaya menuju kedaulatan pangan Indonesia bukan isapan jempol semata

Kedaulatan benih tanaman Guna mewujudkan kedaulatan pangan Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar