Permasalahan Seputar Rantai Pasok Buah Nasional | Mitra Usaha Tani

Kamis, 24 Oktober 2019

Permasalahan Seputar Rantai Pasok Buah Nasional

Beragam bunga seperti krisan, mawar, dan anggrek menyelimuti sebuah mobil. Di bagian depan beragam buah lokal seperti semangka, pisang, dan nanas turut menghias mobil itu. Lima mobil yang semuanya berhias bunga dan buah itu berderet-deret di lapangan kampus lama Institut Pertanian Bogor di kawasan Baranangsiang dan bersiap mengelilingi Kebun Raya Bogor.

Acara tahunan festival bunga dan buah di Bogor.
Ribuan anak-anak, remaja hingga dewasa dari berbagai kalangan mengikuti pawai kendaraan hias itu. Mereka adalah organisasi mahasiswa utusan daerah, pelajar SMA se-Bogor, sivitas akademika Institut Pertanian Bogor dan masyarakat pencinta buah.

Pesta bunga

Bahkan ada juga yang membawa buah seperti durian dan jeruk pamelo khas kota Madiun, Jawa Timur. Sedikitnya 10.000 orang tumpah-ruah untuk memeriahkan puncak perayaan Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) 2018 di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, pada 12 Oktober 2018. “Ini adalah pawai terbesar di kota Bogor," ujar Wakil Walikota Bogor Ir Usmar Hariman saat menghadiri pembukaan FBBN 2014.

Panitia juga menyelenggarakan pameran berbagai tanaman hias di antaranya mawar, krisan, lili, dan jahe-jahean hasil riset Balai Penelitian Tanaman Hias. Beberapa buah unggulan nasional pun seperti jeruk keprok batu 55, pisang kirana, salak, pepaya calina, dan merah delima, jambu kristal, dan hasil olahan buah dipamerkan oleh sekitar 70 gerai selama 3 hari.

Ketika membuka acara, Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu II, Dr Ir Suswono MMA, mengungkapkan, “Impor produk hortikultura Indonesia sejatinya sangat kecil. Jadi tidak perlu takut," ujarnya. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim, “Dari volume 7-8% impor hortikultura, volume impor buah hanya 3-4%. Buah-buahan Nusantara mendominasi dibanding buah impor. Namun, karena buah impor kerap mengisi pasar-pasar swalayan, kesannya menjadi besar dan banyak," ujarnya.

Bagaimana dengan nilainya? Hasil analisis Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB), nilai impor buah dan sayur beserta olahannya pada 2011 mencapai 17,61-triliun. Nilai itu lebih tinggi dari impor beras sebesar Rpl0,6-triliun, jagung (Rp8,61 triliun), kedelai (Rp9,38 triliun), dan gandum (Rpl7,02 triliun). Pada kurun 2007-2011 tingkat pertumbuhan 3%.

Khusus buah segar, data Badan Pusat Statistika (BPS) menyebutkan volume impor Indonesia pada 2011 mencapai 832.000 ton dengan menghabiskan devisa Rp8,5-triliun. Akibatnya tingkat pertumbuhan impor rata-rata dari 2007-2011 mencapai 17,98% per tahun. Data itu menunjukkan pada 2007-2011, total produksi buah nasional mencapai 17,56 juta kg per tahun dengan tingkat pertumbuhan 3,07% per tahun.

"Sementara data konsumsi buah mencapai 12,7 juta kg per tahun dengan tingkat pertumbuhan 3,54% per tahun,” ujar Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, MSc, guru besar Institut Pertanian Bogor, saat menjadi pembicara pada temu bisnis bertajuk Forum Investasi dan Bisnis Hortikultura Indonesia (FIBHI) di IPB International Convention Center (IICC), Botani Square, Bogor pada 11 Oktober 2014. Acara itu mempertemukan calon pembeli dari pasar modern domestik dan eksportir. Forum itu juga menyelenggarakan pelatihan ekspor buah.
Karnaval Bunga dan Buah Nusantara diikuti 10.000 peserta yang berkeliling Kebun Raya Bogor sejauh 3 km

Kerusakan buah Panen Mencapai 60%

Dari data produksi dan konsumsi buah nasional sekilas terlihat Indonesia mencapai swasembada buah dan bisa ekspor kelebihannya. Namun, ternyata tak demikian. Indonesia masih tetap mengimpor buah hingga kini. Itu karena tingkat kerusakan buah sangat tinggi, mencapai 30%-60% mulai dari kebun hingga pascapanen. Menurut Prof Roedhy salah satu solusinya adalah memperbaiki manajemen rantai pasokan atau supply chain management.https://www.mitrausahatani.com/2019/10/dongkrak-produksi-melon-dengan.html

Rantai pasokan adalah proses perencanaan, implementasi, koordinasi, dan pengawasan yang terintegrasi untuk meningkatkan produksi dan penyaluran produk sesuai permintaan pasar dan seefisien mungkin. “Supply Chain Management akan menentukan kualitas, kontinuitas, dan konsistensi kehadiran buah Nusantara di pasar domestik dan internasional,” ujar alumnus Ehime University, Jepang, itu. Hasilnya adalah penambahan nilai dan daya saing buah nusantara.

Roedhy mengatakan rantai pasok buah Nusantara saat ini semrawut, mahal, dan kurang efisien, sehingga perlu perbaikan. Untuk membangun rantai pasok yang berkualitas, khususnya untuk tujuan pasar domestik modern dan ekspor, perlu kebun produksi lebih dari 500 hektar dan kebun antara 5-50 ha per hamparan. "Hal itu juga wajib ditunjang penanganan pascapanen di sentra-sentra produksi, keberadaan infrastruktur logistik dan teknologi distribusi," ujar Prof Roedhy https://www.mitrausahatani.com/2019/10/dongkrak-produksi-dan-kualitas-jambu.html
Sebagai standardisasinya adalah mensyaratkan penerapan good agricultural practises (GAP) pada proses produksi buah, good handling practices (GHP) pada proses penanganan pascapanen dan good manufacturing practices (GMP).

Sebagai puncak kemeriahan acara FBBN 2018, IPB mengadakan karnaval dan pelaksanaan ikrar cinta bunga dan buah. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memimpin ikrar dan membuka karnaval dan jalan pagi. Acara itu juga dimeriahkan aneka lomba dan demo bertema buah antara lain menggambar, melukis bunga dan buah, hias boneka horta, busana anak, merangkai buah, serta fotografi.

Selain itu dilakukan demo mengukir buah dan bunga. “Acara lomba-lomba untuk meningkatkan semangat anak-anak, remaja, hingga orang tua untuk mencintai buah dan bunga nusantara,” ujar Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto, MSc, Rektor IPB. Menteri BUMN berharap gaung FBBN tak hanya di Bogor dan Jawa Barat saja, melainkan hingga seluruh pelosok nusantara.

Permasalahan Seputar Rantai Pasok Buah Nasional Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar