Sang bintang dari Dewata mencuri hati 14 juri mancanegara dan lokal. | Mitra Usaha Tani

Selasa, 29 Oktober 2019

Sang bintang dari Dewata mencuri hati 14 juri mancanegara dan lokal.

Pemphis ocidulo itu tetap tumbuh baik. Batangnya yang meliuk-liuk dengan kulit pecah-pecah, mengelupas, dan keriput menggambarkan umur pohon itu amat tua.

Santigi bonsai
Santigi milik Wayan Arthana dari Bali menjadijawara berdasar penilaian juri lokal dan mancanegara
Mitra Usaha Tani .Apalagi kulit batang yang mengelupas dan daun sangat kecil, 1 cm, membuat pohon terlihat renta. Bekas lilitan kawat dan bekas pemangkasan cabang dan ranting hilang sama sekali. Penampilan pohon sangat alami. Hasil rekayasa manusia sudah tidak terlihat. Begitulah penampilan bonsai milik Wayan Artana dari Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, sebagai best of the best.

Best of the best

Santigi itu memenuhi berbagai kriteria bonsai juara, yakni terlihat sealami mungkin. "Gerak dasar, penampilan, keserasian, kematangan sudah sangat alami,” ujar Maya Rusmayadi, ketua juri kelas utama yang juga menilai kelas bintang dalam kontes bertajuk “Grand Indonesian Bonsai and Suiseki Exhibition 2014". Para juri sepakat menobatkan tanaman anggota famili Lythraceae itu sebagai bonsai terbaik.

Koleksi Artana itu menyisihkan 35 peserta kelas bintang. Kelas itu diperuntukkan bagi bonsai yang pernah 3 kali meraih penilaian baik sekali, atau sekali masuk the best ten, atau sekali meraih best in show di kelas utama kontes nasional. Santigi yang menjadi best in show kelas bintang itu kemudian beradu elok dengan peraih the best in show kelas madya dan the best in show kelas utama. Hasilnya, peraih best in show kelas bintang itu menjadi sebagai best of the best.

Penilaian itu tidak hanya oleh 7 juri lokal, tetapi juga oleh 7 juri mancanegara. Itu kali ke-2 sang juara meraih gelar the Best Overall International Judge. Pencapaian pertama pada 2007 saat the 9th Asia Pacific Bonsai and Suiseki Exhibition and Convention di Bali. Selain meraih best of the best, santigi koleksi Wayan Arthana yang beradu cantik di kelas utama, sukses meraih best in show dengan mengalahkan 57 peserta.

Kemenangan santigi Pemphis acidulo itu menunjukkan kualitasnya paling tinggi. Menurut Rusmayadi, ada tingkatan penilaian untuk tiap kelas yang dilombakan. Pada kelas regional masih ada toleransi untuk pemakaian kawat di tanaman. Tingkatan tertinggi adalah kelas bintang. Penilaian dalam kategori itu sangat ketat. Penampakan bekas kawat harus tidak terlihat sehingga tampak sealami mungkin.

“Bekas kawat dari training tanaman akan hilang selama minimal 10 tahun. Jadi tanaman peserta tentunya memiliki umur lebih dari 10 tahun,” kata Maya. Santigi meraih prestasi mentereng lantaran dirawat mengikuti cara hidup di habitatnya. Santigi berasal dari daerah pesisir kepulauan menyukai lingkungan pantai yang bersuhu panas. Sebagai tanaman pantai, santigi menyukai air bergaram atau air laut Wayan menyiramkan air laut ke tanamannya sekali sepekan.
Cemara sargentii
Cemara sargentii milik Eric Setiadi jawara best in size small

Gelaran terbesar

Pada kelas madya, dewan juri memberikan gelar best in show kepada bonsai cemara sinensis Juniperus chinensis milik Tedi Priatna. Sosok tanaman meliuk seperti penari itu setelah proses melalui training 3 tahun. Berusaha untuk memelihara keindahan bentuknya, penggemar bonsai asal Bandung itu memberi pupuk kandang sekali sebulan, la mengganti media tanam setiap 6 bulan sekali dan memberi pupuk lambat urai pada akar supaya unsur hara terlepas secara perlahan-lahan dan terus menerus dg waktu yang cukup lama.

“Juniper-sebutan untuk Juniperus chinens/s-menyukai daerah sejuk, lembap, dan berangin dingin pegunungan. Namun, dia juga suka sinar matahari, makanya tanaman ini cocok tumbuh di daerah dataran tinggi seperti Bandung ini,” ungkap Tedi. Hasil ketekunan Tedi berbuah manis, bonsainya berhasil menyabet gelar best in show pada 2 kontes pada 2014.

Anggota staf ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Pembangunan, Dr Ir Dicky Saromi M.Sc, menghadiri pembukaan kontes di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Jawa Barat. Undangan lain praktisi, kolektor, penggemar bonsai dari manca negara. Kontes dan pameran bonsai PPBI dinilai tersukses dihadiri pengunjung warga negara asing dari 20 negara, di antaranya dari Jepang, Taiwan, Cina, Hongkong, Puerto Rico, Amerika Serikat, Australia, Malaysia dan Jerman.

Sebagian dari mereka juga terlibat sebagai tim juri kontes bonsai. Thomas Elias dari Amerika Serikat yang menjabat sebagai presiden Bonsai Clubs International dan Chen Chang ketua Asosiasi Guangzhou Bonsai, Cina, menjadi juri internasional. Acara semakin semarak saat demonstrasi pembuatan bonsai oleh Kunio Kobayashi, pakar bonsai dari Jepang. Pengunjung bersemangat mengikuti penjelasan Kobayashi mengenai teknik dan filosofi bonsai.

Kobayashi dibantu oleh Ciara, pakar bonsai dari Italia dan Rob Kempinski mengubah tanaman cemara menjadi bentuk yang artistik dengan training menggunakan kawat dan pemangkasan. “Kegiatan pameran dan kontes bonsai internasional diharapkan menjadi jembatan persahabatan antarnegara dan penggemar bonsai di seluruh dunia,” ujar Soeroso Soemopawiro, ketua penyelenggara perhelatan akbar PPBI dalam memeriahkan ulang tahun ke 35.

Sang bintang dari Dewata mencuri hati 14 juri mancanegara dan lokal. Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar