Kiat Budidaya semut rangrang (Kroto) Sebagai Alternatif Penghasil Rupiah | Mitra Usaha Tani

Sabtu, 02 November 2019

Kiat Budidaya semut rangrang (Kroto) Sebagai Alternatif Penghasil Rupiah

(Mitra Usaha Tani) Di bangunan sederhana itulah ia beternak semut rangrang penghasil kroto Peternak semut di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, itu menempatkan rak-rak kayu bersusun 4 berderet rapi. Setiap rak berisi umpukan potongan pipa polivinil klorida (PVC). Di setiap rak terdiri atas 300 pipa PVC atau total 1.200 pipa. Suharmadji meletakkan dua loyang plastik berbentuk segi empat di depan atau di itas pipa. Ribuan, bahkan jutaan semut igrang Oecophylla smaradigna tampak berseliweran. Di bagian tengah ruangan itu juga terdapat rak bertingkat dua. Ukurannya lebih lebar dan panjang dipenuhi tumpukan pipa PVC dan stoples plastik bening.

semut akan membangun sarang
Bila tidak mendapatkan sarang, semut akan membangun sarang di luar

Management Sarang

Dari total 3 rumah masing-masing seluas 10 m x 6 m, Suharmadji memelihara sekitar 30.000 sarang semut dalam pipa PVC dan stoples plastik. Itu pun masih banyak semut yang terpaksa berkeliaran di luar lantaran tidak mendapat sarang. “Sulit mendapat pipa ukuran 1,5 inci di Jember, sehingga harus dibeli di Surabaya," ujar Suharmadji. Pilihan sarang tergantung selera peternak. Suharmadji memilih pipa PVC 1,5 inci sepanjang 20 cm dengan berbagai pertimbangan.

Kelebihannya ia bisa menyusun pipa secara rapat sehingga efisien. Semut pun menyukai sehingga langsung membuat sarang pada hari pertama pemasangan. Kelemahannya, lebih repot karena peternak harus memotong pipa. Kondisi di dalam sarang pun sulit terpantau setelah semut-semut itu menutup permukaan lubang. Peternak di Desa Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Yono, memanfaatkan stoples transparan berukuran 1 kg sebagai sarang. Kelebihannya, peternak dapat memantau kondisi dalam sarang.

Selain itu, Yono tidak harus membeli wadah makan dan minum karena memanfaatkan tutup stoples. Yono memang memasang stoples dalam kondisi terbalik, yaitu mulut stoples menghadap ke bawah. Sebagai jalan masuk semut, ia memberi pengganjal setebal 1 cm. Lewat celah itu semut masuk dan keluar sarang.

Semut akan menutup sebagian celah itu dengan serat dan hanya menyisakan lubang 1 cm sebagai jalan keluar-masuk. Adanya serat halus menjadi perekat stoples sehingga tidak mudah bergerak. Menurut Yono kelebihan sarang stoples, peternak lebih mudah mengetahui kondisi semut di dalamnya. Bahkan ia bisa mengetahui semut produktif dan yang tidak. Yono mempunyai standar produksi dari semut. Bila dalam sebulan jumlah kroto dalam sarang rendah, kurang dari seperempat stoples, maka semut di dalamnya diapkir.

Adapun sarang produktif bisa dijual kepada konsumen atau dimanfaatkan untuk perbanyakan. Kelemahan sarang stoples semut terganggu bila areal sarang (kandang) terang atau ada orang yang mondar-mandir. Bila merasa tidak nyaman, tidak segan-segan mereka meninggalkan sarang dan pindah ke tempat yang lebih nyaman. Keberadaan cicak juga membuat semut bersembunyi.
Semut mencari pakan
Semut mencari pakan dalam radius yang jauh. Jadi dalam 1 rak bisa disediakan I wadah berisi air gula

budidaya semut rangrang Di atas kolam

Menurut Suharmadji kunci sukses beternak rangrang adalah mengatur suhu dan kelembapan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, semut menghendaki suhu 24-28 C. la mengetahuinya dengan memasukkan termometer ke dalam sarang semut di alam. Oleh karena itu ia menyulap lantai kandang menjadi kolam beton. Setelah itu ia mengisi kolam dengan air setinggi 25 cm. Agar kaki rak tidak terendam air. ia mengganjal kaki rak dengan batu bata.

Untuk melewati kolam itu, Suharmadji memasang jembatan bambu d sepanjang lorong. Jembatan memudahkan petugas atau pengunjung melihat kegiatan di dalam rumah semut itu. Dengan adanya kolam dalam kandang, lingkungan ideal pun tercapai. Suhu di kandang berkisar 27-28°C. Kelembapan ideal berkisar 60-90%. Peternak semut rangrang sejak 2013 itu melengkapi kolam dengan keran yang terus mengalirkan air. Agar tidak meluap, Suharmadji menerapkan sistem tertutup. Sebuah pipa berlubang dipasang untuk membuang kelebihan air sehingga ketinggian air stabil.

Fungsi lain kolam itu adalah mencegah semut-semut itu kabur. Di kolam itu Suharmadji memasukkan aneka jenis ikan konsumsi, seperti lele, nila, dan belut. Hewan air itu akan memakan telur nyamuk, kroto, atau semut yang terjatuh. Namun, ia tetap memberikan pakan pabrikan. Menurut Suharmadji untuk menghemat biaya, peternak dapat menggunakan terpal sebagai bahan membuat kolam sebagaimana diterapkan oleh Yono. Peternak di Cibinong itu, mengadopsi kolam terpal untuk budidaya serangga anggota famili Formicidae itu.

Menurut Suharmadji semut lebih aktif pada kondisi remang-remang. Oleh karena itu ia menutup seluruh dinding kandang. Hanya ada dua buah jendela sebagai tempat sirkulasi udara. Itu pun ia tutup dengan jaring hitam untuk mencegah predator masuk ke dalam kandang. Untuk kelancaran aktivitas petugas, terdapat lampu. Ketika lampu padam, cahaya tetap masuk lewat atap fiber dengan intensitas 10-20%.
semut cepat berkembang biak
Jika lingkungan sesuai, semut cepat berkembang biak, populasi dua kali lipat dalam 2 bulan

Pakan Semut Harus Berkualitas

Kunci sukses lain budidaya semut rangrang adalah ketersediaan nutrisi. Serangga itu pun tidak perlu jauh-jauh mencari pakan dan minum. Pakan utama semutberupa serangga seperti ulathongkong. Yono memberi sisa lauk-pauk seperti tulang ikan atau tulang ayam. Bila bahan makanan berukuran besar, semut akan bergotong-royong menggerogoti menjadi bagian kecil sehingga mudah diangkut baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Seekor semut mampu mengangkat beban hingga 2-7 kali bobot tubuhnya.

Pada umumnya peternak semut memberikan ulat hongkong sebagai pakan. Kandungan protein ulat hongkong 50-62% sehingga memadai untuk semut. Agar tidak repot membeli setiap hari, maka peternak semut dapat pula membudidayakan ulat hongkong. Suharmadji memberikan 0,2 gram ulat hongkong per sarang per hari. Pemberian pada setiap sore. Setiap kali pakan habis, peternak harus segera menambahkan. Menurut Suharmadji bila semut kelaparan, mereka memakan kroto atau telur yang tersedia di sarang.

Bahkan semut saling membunuh jika lapar. Oleh karena itulah selalu ada petugas yang siap memberi pakan. Namun, ketika stres karena baru didatangkan terkadang semut menolak makan hingga lebih dari sepekan. Pakan dan air gula yang tersedia tidak disentuh sama sekali. Namun, jika suhu dan kelembapan sesuai serangga itu cepat berkembang biak. Dalam setahun 100 stoples bibit berkembang menjadi 30.000 sarang.

Kiat Budidaya semut rangrang (Kroto) Sebagai Alternatif Penghasil Rupiah Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar