Sarang Semut Penangkal kanker Payudara Mujarab | Mitra Usaha Tani

Sabtu, 09 November 2019

Sarang Semut Penangkal kanker Payudara Mujarab

Tiga purnama berlalu, serangan itu tak kunjung berakhir. Malahan muncul luka di dekat puting payudara kanan. Dari luka itu keluar nanah. Keruan saja ia panik dan bergegas ke Rumah Sakit Dok II Jayapura, Papua. Hasil pemeriksaan intensif menunjukkan, Meity terserang kanker payudara. Sejak itulah perempuan 33 tahun itu kerap bolak-balik ke rumah sakit. Maklum, beberapa obat pemberian dokter antara lain CTM dan antibiotik tak kunjung menyudahi penderitaannya.

Sarang Semut
Tanaman sarang semut banyak tumbuh di hutan-hutan Papua
Bahkan lukanya kian parah sehingga buah dadanya harus diplester. “Jika diraba, sakitnya minta ampun,” kata Meity. Saran dokter untuk operasi ditolaknya. Pertama, lantaran ia takut pisau bedah. Penyebab lain, ia masih ingin mempunyai dan menyusui anak lagi. Jika jadi dioperasi berarti ia mesti siap kehilangan sebuah payudara. Di tengah kecemasan itu Meity pulang kampung ke Paslaten, Tomohon, Sulawei Utara.

Anak semata wayangnya ikut serta. Sedangkan suaminya, Berce Bogea, tetap tinggal di Jayapura karena mesti bekerja. Di kampung halaman itu Meity mencoba peruntungan dengan pengobatan herbal. Salah satu di antaranya adalah daun sambungnyawa. Tujuh daun tanaman anggota famili Asteraceae itu dicuci bersih, direbus dalam 3 gelas hingga mendidih dan tersisa segelas. Setelah dingin ia menyaringnya untuk diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas.

Sarang semut


Sayang, rebusan daun Gynura procumbens belum juga mengakhiri penderitaan kanker payudara. Oleh karena itu ia kembali ke Jayapura dan kembali berobat ke dokter. Di tengah-tengah rasa putus asa itu, suaminya membawa sarang semut dalam bentuk irisan umbi kering hasil pemberian rekannya di Wamena, Papua. Tanaman itu di pedalaman bagian barat Papua lazim dikonsumsi sebagai obat.

Kira-kira segenggam sarang semut direbus dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas setelah disaring. Ramuan itulah yang rutin diminum Meity 3 kali sehari masing-masing 1 gelas. “Pada minggu yang ketiga saya kaget, cairan berwarna kekuning-kuningan keluar di atas puting. Cairan itu secara terus-menerus keluar dalam beberapa hari. Kemudian berhenti dengan sendirinya,” ujarnya.

Meski demikian ia tetap melanjutkan konsumsi Myrmecodia pendans. Hasilnya mulai tampak 2 bulan kemudian. Perlahan-lahan lukanya mengering dan akhirnya menutup. Bersamaan dengan itu benjolan di payudaranya juga hilang. Kini lukanya telah hilang sama sekali. Beberapa bulan berselang pada awal 2005 Meity hamil untuk kedua kalinya seperti yang diharapkan.

Padahal, sebelumnya ia tak t berani hamil lantaran kanker payudara menggerogotinya. Pada 20 Januari 2006 anak keduanya, Pingkan Nikita Bogea, lahir selamat dengan bobot 2,8 kg. Ketika ditemui mitra usaha tani di huniannya di Dok IX Pasar Inpres, Papua, Meity tampak segar. Pingkan berkulit putih bersih dan menikmati ASI ibundanya.

Tanaman epifit itu belum dikenal luas oleh para herbalis dan pengobat komplementer. Wajar bila mereka belum meresepkan sarang semut. Padahal, kerabat kopi itu tak hanya tumbuh di belantara Papua, tetapi juga Jawa, Sumatera Barat, Sulawesi, dan Kalimantan. Melalui serangkaian riset Dr Muhammad Ahkam Subroto, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI menyingkap kandungan anggota famili Rubiaceae itu.

Sarang semut kaya antioksidan dengan kadar IC50 (Inhibition Concentrate) sekitar 40%, flavonoida, glikosida, dan polifenol. Zat-zat itu yang diduga Dr Muhammad Ahkam Subroto sebagai antikanker. Antioksidan itulah yang berperan melawan radikal bebas pemicu tumbuhnya sel kanker. Risiko

Di antara kanker yang menyerang perempuan, kanker payudara peringkat ke-2 setelah kanker leher rahim. Kaum pria sebetulnya juga berisiko— amat kecil, 1 %—terserang kanker payudara. “Risiko serangan kanker payudara bagi perempuan Amerika sekitar 11%, 3—4% mengalami kematian,” kata Prof dr Jay R Harris MD, ahli radiasi kanker Hardvard Medical School, Massachusetts, Amerika Serikat seperti dikutip Cancer Principles & Practise of Oncology (lihat tabel: Risiko Serangan Kanker Payudara).

Namun, hampir 70% perempuan yang terserang kanker payudara tak memiliki faktor risiko yang dapat diidentifikasi. Menurut dr Edwin Perdana mereka yang berisiko terkena serangan kanker payudara antara lain perempuan yang tak menikah atau menikah tetapi tak pernah melahirkan, melahirkan anak setelah berusia 35 tahun, dan mendapat haid pertama pada usia amat muda.

Perempuan dengan kelebihan bobot tubuh, pernah dioperasi payudara atau alat reproduksi lain, dan mengalami stres hebat juga berisiko tinggi. Begitu juga dengan perempuan yang diaborsi baik alamiah alias keguguran maupun dipaksakan memicu munculnya kanker. Gejala serangan kanker payudara antara lain, muncul benjolan di payudara, keluar cairan tidak normal misal keluar air susu pada perempuan yang tak hamil dan menyusui , dan aerola melekuk ke dalam atau mengkerut. MUT

Sarang Semut Penangkal kanker Payudara Mujarab Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar