Sekat kain Semu Sebagai Media Pembantu Walet Bersarang | Mitra Usaha Tani

Sabtu, 02 November 2019

Sekat kain Semu Sebagai Media Pembantu Walet Bersarang

Penyekatan ruangan yang permanen dengan ditembok atau sekat semu alias gantung.

Rumah walet
Rumah walet besartidak menjamin hasil optimal. Pemilik kerap menyekat ruangan agar walet cepat berkembang
Mitra Usaha Tani Philip Yamin menggunakan sekat semu di rumah walet miliknya di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah. “Sekat semu berfungsi sebagai pembatas ruangan, pembagi koloni, sekaligus menghalangi sinar matahari," katanya. Maklum, walet termasuk burung yang hidup berkoloni atau berkelompok. “Burung itu kalau tidak dilepas koloninya tidak mau menyebar. Selagi kawasan masih besar ya di situ terus,” ujar ayah satu anak itu.

Media Kain gelap

Penyekatan ruangan di rumah walet perlu dilakukan untuk memecah koloni. “Begitu kita pecah, kalau dia (walet, red) mau keluar dari kelompok asalnya itulah pioner untuk membentuk kelompok baru. Pioner itulah yang biasanya akan menjadi ketua kelompok," kata Philip. Makanya penyekatan ruang lebih mempercepat walet berkembang. Harapannya produksi sarang pun meningkat. Secara matematis kapasitas produksi dari rumah walet bisa dihitung. Namun, menurut Philip hitungan itu lebih bersifat teoritis di atas kertas.

Memaksimalkan produksi sarang sesuai kapasitas memang sulit. “Itu karena walet burung liar sehingga sulit diatur,” kata Philip. Di ruangan satu belum terisi penuh sudah pindah ke ruangan lain. Atau mereka malah bergerombol di satu tempat tak mau menyebar merata. Faktor lain yang mempengaruhi produksi adalah kondisi makro dan mikro.

Kondisi makro seperti lokasi rumah walet dan ketersediaan pakan. Sementara, “Faktor mikro contohnya kelembapan, suhu, cahaya,
dan suara di dalam rumah walet,” kata pehobi hidroponik itu. Meski begitu, paling tidak kapasitas sirip terpasang dan populasi walet di suatu lokasi bisa menjadi tolak ukur kapasitas produksi rumah walet.

Philip menggunakan sekat berbahan kain sejak 7 tahun silam di rumah walet miliknya dan klien-kliennya yang tersebar di beberapa daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Untuk bahan penyekat, biasanya pemilik rumah walet menggunakan bahan padat seperti papan atau tripleks. “Orang rata-rata mencari bahan padat karena berhubungan dengan pemantul suara. Itu karena walet mendeteksi huniannya dngan bantuan ekolokasi atau pantulan gelombang suara. Kalau pantulan gelombang bagus walet jadi lebih mudah mencari tujuannya. Dan sebaliknya, kalau kain kan bergelombang maka pantulan juga tidak pasti," kata pakar walet di Cengkareng, Jakarta Barat, itu. Namun, kalau dipasang dengan benar penyekat kain pun dapat memantulkan gelombang dengan baik.

Agar penggunaan lebih optimal, “Pada saat pemasangan sebaiknya kain ditarik dengan kencang agar tidak bergelombang," ujar Philip. Tarik kedua ujung kain bagian bawah ke samping bawah. Dengan cara itu kain kencang dan rata sehingga tidak goyang jika tertiup angin. “Lebih enak dibuat kerangka terlebih dahulu," katanya.

Tidak ada ukuran panjang penyekat yang optimal tergantung bentangan balok penyangga pada masing-masing rumah walet. “Namun, biasanya panjang penyekat rata-rata 3-4 m dengan lebar maksimal 50 cm agartidak mengganggu manuverterbang walet di dalam gedung,” kata Philip. Konsultan walet yang memulai kariernya sejak berusia 19 tahun itu menggunakan kain berwarna gelap. “Penggunaan kain berwarna gelap, seperti hitam membuat efek gelap,” ujar Arief Budiman, pakar walet di Kendal, Jawa Tengah. Maklum, walet cenderung menyukai tempat yang redup dan gelap.
Penyekat semu
Penyekat semu berbahan kain berfungsi sebagai pembatas ruangan, pembagi koloni, menghalangi sinar matahari

Murah dan praktis

Arief menyarankan sebelum kain digunakan sebaiknya bagian pinggir diobras terlebih dahulu. Tujuannya agar benang pada bekas potongan tidak terurai setelah dipasang. “Kalau terurai ditakutkan kaki walet tersangkut benang itu sehingga membahayakan,” katanya.

Menurut Philip kain lebih unggul dibandingkan bahan kayu seperti papan atau tripleks karena bisa langsung dipakai. Walet tidak menyukai kayu baru karena masih berbau khas. Oleh karena itu sebelum digunakan triplek harus dikeringanginkan terlebih dahulu agar baunya hilang. “Proses itu memakan waktu sekitar sebulan dengan syarat kondisi cuaca bagus, matahari terik,” katanya.

Kalau kain, setelah dibuka, dianginkan sebentar bisa langsung dipasang. Agar walet mudah beradaptasi kain disemprot dengan parfum,” ujar Philip. Kain juga mudah dipasang dan dibongkar. “Kalau sudah tidak digunakan tinggal digunting saja,” katanya. https://www.mitrausahatani.com/2019/09/budidaya-sarang-walet-bisa-diternakan.html

Dari segi biaya kain lebih murah dibandingkan tripleks. “Harga kain paling tebal dengan kualitas bagus sekitar Rp30.000 per meter,” kata Philip. Untuk rumah walet berukuran 12 m x 12 m, biasanya dipasang 10 penyekat semu berukuran panjang 4 m. Dengan demikian ia menghabiskan Rpl,2-juta untuk satu rumah walet. Jika menggunakan tripleks 12 mm, 122 x 244, dengan harga Rpl79.000 per lembar, maka dibutuhkan 8 tripleks dengan biaya total Rp 1,4-juta.

Kelebihan lain kain adalah walet mudah mencengkeram. "Keberadaan lubang pada serat kain membuat kuku walet yang tajam mudah mencengkeram,” kata Philip. Dengan mudahnya mencengkeram, diharapkan walet pun cepat membuat sarang. Bandingkan dengan tripleks yang licin. “Terkadang mau nempel saja susah bagaimana ia mau membuat sarang." ujar Philip.

Sekat kain Semu Sebagai Media Pembantu Walet Bersarang Diposkan Oleh: yudi

0 Comments:

Posting Komentar