Pepaya-IPB1 Hibrid Unggulan Kreasi PKBT IPB

“Mmm… manis banget,” ujar rekan-rekan di kantor ketika mencicipi pepaya pemberian Ugan Suganda, pekebun di Cinagara, Bogor. Rasa manisnya setara dengan melon kualitas standar, 11 —12°brix. Warna daging buahjingga kemerah-merahan. Sosoknya mini, hanya 500—700 g, sehingga bisa langsung habis disantap. Itulah pepaya-IPB1 yang kini mulai banyak dikebunkan.

Varietas paling gres itu penampilannya mirip pepaya lain. Bentuk lonjong dan membulat di bagian tengah. Panjang buah 13—15 cm dengan diameter 10 cm. Kulitnya hijau cerah dan tipis. Daging buah berwarna jingga kemerahan. “Jika melihatnya, pasti ingin mencicipi,” ujar Ugan. Tekstur lembut dengan kadar air mencapai 90%.

Sosoknya yang mini menjadi salah satu keunggulan. “Bandingkan dengan pepaya besar, bila tak habis biasanya disimpan. Nantinya akan lembek atau busuk bila dibiarkan,” ujar Ugan. IPB-1 cocok disajikan di atas meja di restoran. Rasanya pun lebih manis dan gurih dibandingkan pepaya besar.

Pepaya keluaran Pusat Kajian Buah-Buahan Tropika (PKBT), Institut Pertanian Bogor (IPB), itu berumur genjah. Umur panen hanya 140 hari setelah bunga mekar. Lazimnya, 170— 200 hari. Produktivitasnya mencapai 50 kg/pohon. Di pasar, pepaya IPB-1 laku dijual Rp3.500—Rp5.000/kg.
Dikebunkan

ipb1

PKBT juga mengeluarkan IPB-2. Sosoknya besar dan panjang seperti pepaya bangkok. Daging buah lebih renyah dan manis dengan kadar air 90%. Kadar vitamin C mencapai 90 mg/ 100 g.

Bobot buah 1,5—2 kg. Panjangnya 25—35 cm dengan diameter 10—15 cm. Warna kulit hijau tua. Semburat kuning muncul di bagian bawah bila tiba saatnya dipetik. Umur panen lebih lama ketimbang IPB-1,150 hari setelah bunga mekar. Produksi tinggi, dari 1 pohon dituai 60—70 kg buah.

“Uniknya setelah pepaya dibelah biji buah langsung berguguran, hingga tak repot melepaskan biji,” ujar Ali Bosar, pekebun di Caringin, Bogor. Ucapan itu terbukti, ketika Mitra Usaha Tani membelah beberapa buah. Meski warna daging buah tidak semerah IPB-1, tetapi rasa renyah menjadi daya tarik tersendiri. Kelemahannya, sosok mirip cibinong, sehingga di tingkat pengepul hanya dihargai Rp500/kg.

Duet pepaya jebolan PKBT itu dikembangkan melalui Riset Unggulan Strategis Nasional pada program Pengembangan Buah Unggulan Nasional. Penelitian itu dimulai pada 2000 oleh Dr Ir Sriani Sujiprihati, MS. Empat tahun kemudian, 11 Agustus 2004, pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-9 di PUSPITEK, Serpong, keduanya dirilis.

IPB-1 dan IPB-2 diperoleh dari hasil pengumpulan plasma nutfah diberbagai daerah maupun introduksi dari luar negeri. Seleksi dan hibridisasi ditujukan untuk memperoleh genotipe yang sesuai dengan ideotipe (ideal, red). Tetua pepaya IPB adalah eksotika, red king, dan ungu.Eksotika, pepaya hibrida asal Malaysia yang berkulit mulus dan lebih tahan disimpan.

Hasil turunan para tetua itu telah menyebar ke para pekebun di daerah Cimahpar, Cinagara, dan Cibatok, semua di Bogor. “Permintaan benih datang dari Bandung, Batam, sampai Manado,” ujar dosen Departemen Budidaya Pertanian IPB itu.

Matahari terbit

Jika IPB-1 dan IPB-2 diperoleh dari riset, maka sunrise adalah varietas yang didatangkan dari Taiwan. Ia ditemukan Mitra Usaha Tani di Pangmilang, Singkawang, Kalimantan Barat. Sunrise milik Hendrik Virgillus itu bobotnya hanya 500 g. Hendrik mendapatkan benih dari seorang rekan beberapa tahun silam. Kini tanaman berumur 1,5 tahun itu masih rajin berbuah.

Selain berukuran mini, si matahari terbit itu manis dan enak. Daging buah bertekstur lembut dan tidak berair. Warnanya merah cerah layaknya matahari terbit—alias sunrise. Keistimewaan lain, buahnya keras sehingga daya tahan lebih lama. Ia bisa bertahan sampai seminggu setelah petik.

Di Singkawang buah mini itu jadi incaran para kolektor. Walau saat ini masih ditanam untuk dikonsumsi sendiri, tetapi karena keistimewaannya Hendrik berniat memperbanyak.

 

http://pkht.ipb.ac.id/index.php/2015/11/03/pepaya-arum-bogor-ipb-1-4/