Potensi Dan Nilai Ekonomis Duku Punggur Palembang

Sang pemilik jongko setengah berteriak menawarkan dagangannya. “Punggurnya pak? ” Tanpa ba bi bu pasangan suami istri yang turun dari mobil itu langsung meminta 5 kg. Uang sebanyak Rp40.000 pun berpindah tangan.

Nama punggur memang jaminan duku enak di Pontianak, sehingga konsumen berani membeli dengan harga tinggi. Tak aneh banyak pedagang mencatut namanya. Lacakan Trubus ke beberapa pedagang di Singkawang—berjarak 100 km dari Pontianak—semua menyebut punggur untuk duku yang dijual. Padahal menurut Anton Kamaruddin SP, staf Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, ada beberapa varietas yang berkembang di Bumi Khatulistiwa. “Duku punggur mempunyai rasa istimewa: berair dan lebih manis. Sedangkan varietas lain agak masam,” kata Anton. Sayangnya secara fisik satu sama lain sulit dibedakan. Kulit yang kuning keputihan sama-sama mulus. Namun, waktu kulit yang tipis dikupas, daging punggur bening. Menurut Anton kesamaan warna kulit lantaran duku-duku lain diduga varian dari punggur. Lokasi penanaman berbeda menyebabkan kualitas rasa beragam.

Belum ke Jawa

Disebut duku punggur karena berasal dari Kampung Punggur di Desa Kalimas, Kecamatan Sungai Belidak, Pontianak. “Konon asal-usulnya dari Palembang. Namun, karena sudah beradaptasi, baik rasa maupun tekstur daging mengalami perubahan,” ungkap Yusni, pekebun di Punggur. Dari segi rasa, pemilik 1.000 pohon berumur lebih dari 50-an tahun itu mengaku duku palembang lebih manis.

Ukuran varietas punggur lebih besar ketimbang palembang. Di dalamnya terdapat 5—6 pasi. Pasi besar umumnya berbiji besar; pasi kecil kebanyakan tanpa biji. “Pasi-pasi itu tetap manis dan tidak busuk meski kulit menghitam,” tambah Yusni. Itu Trubus saksikan saat duku punggur dipamerkan di ajang Pameran Buah Tropis di Bali penghujung 2003. Buah yang kulitnya menghitam bahkan mengering justru diserbu pengunjung karena rasanya semakin manis.

READ  Kunci Sukses Tabulampot Jeruk keprok Agar Berbuah Lebat

Punggur hanya tahan simpan di suhu kamar selama 2 hari. Di ruang pendingin lebih cepat lagi, beberapa jam saja kulit langsung menghitam. Oleh karena itulah pemasaran punggur hingga sekarang terbatas di seputar Kalimantan. Paling jauh ke Pulau Batam. “Jakarta dan pasar ekspor Singapura sebetulnya minta pasokan. Hanya karena kendala di peijalanan impian mengapalkan punggur ke Jawa dan Jakarta belum terwujud,” tutur ayah 2 anak itu.

Yusni, “Saya hanya punya 1.000 pohon.”

Ribuan hektar

Berbeda dengan sentra di Jawa dan Sumatera, duku punggur dikebunkan dalam skala luas. Lansium domesticum itu ditanam secara monokultur dengan jarak tanam teratur. Setiap petak berisi 20-30 pohon. Yusni menduga kini terdapat lebih dari 1.000 ha penanaman duku punggur. “Beberapa pekebun memiliki sampai 4.000 pohon,” ucap lelaki bertubuh kecil itu. Artinya jika populasi setiap hektar 70—80 pohon, minimal 50— 60 hektar untuk mengebunkan 4.000 pohon.

Menurut Yusni kebun-kebun itu umumnya warisan keluarga. Wajar jika diameter batang rata-rata di atas 30 cm. Meski tidak dirawat intensif produksinya ada yang mencapai 400 kg sekali panen. Duku dibiarkan tanpa pupuk dan pestisida. Yang penting kebutuhan air tercukupi karena krusial untuk tanaman tengah berbuah. Bila kekeringan, kulit retak-retak begitu hujan tiba. Akibatnya duku tak laku dijual.

Buah Duku dijual dengan sistem tebatasan setelah buah siap petik, yaitu sekitar 4 bulan sejak bunga mekar. Pemilik pohon tinggal menunggu para Bandar, pedagang antarkota atau antarpulau, mendatangi kebun-kebun. Harga tergantung kelebatan buah dan musim. Saat panen raya pada November— Desember sebatang pohon yang berproduksi sekitar 2 kuintal laku ditebas Rp400.000. Harga melonjak tinggi hingga Rp 1 -juta ketika panen selingan yang terjadi pada Juli—September. “Kalau di pedagang harga tidak bergeser jauh, tetap bertengger pada kisaran Rp8.000—Rp10.000/kg,” kata Yusni. Itu karena duku punggur selalu dicari.

READ  Permasalahan Seputar Rantai Pasok Buah Nasional