omzet puluhan juta rupiah Dari beternak jalak suren

Setiap bulan pesanan minimal 50 kali setara 150 pasang burung dari bisnis penangkaran jalak suren yang dikelolanya. Belum lagi pasokan rutin yang mencapai puluhan pasang. Dengan harga Rp l,5-juta per pasang, pria 34 tahun itu meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulan hanya dari usaha beternak jalak suren.

Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, Anda- panggilan Anda Priyono memang disibukkan dengan urusan burung. Menjawab pesanan lewat telepon genggam, mengontrol kesehatan Gracupica contra miliknya, atau mengirimkan pesanan ke berbagai kota. Ketika mitra usaha tani berkunjung ke sana, kelahiran Surabaya 18 Juli 1970 itu tengah sibuk menyiapkan 10 pasang jalak suren dan 3 pasang cucakrawa untuk memenuhi pesanan dari Surabaya, Jawa Timur.

Aktivitas seperti itu rutin dijalani Anda setiap hari sejak 2 tahun silam semenjak mengeluti usaha beternak jalak suren. Apalagi pada Sabtu dan Minggu, kesibukannya dipastikan meningkat karena hobiis dari luar kota datang ke farmnya untuk membeli burung. Menurut perhitungan, total permintaan kedua burung itu mencapai 100 pasang/bulan. Itu belum termasuk permintaan melalui SMS. “Kalau setiap SMS memesan 3 pasang jalak suren yang sudah gacor, maka kurang lebih 150 pasang/bulan yang harus dikirim,” ujarnya.

Padahal, ayah 2 anak itu hanya mampu melayani 70 pasang/bulan. Itu hasil penangkaran 20 pasang induk jalak suren dan 10 pasang cucakrawa dan hasil temakan dari 25 penangkar mitranya di sekitar Solo, Klaten, dan Yogyakarta.

Banting stir menjadi Penangkar jalak Suren

Mondar-mandir dari satu farm ke farm lain mirip dengan pekerjaan Anda 4 tahun silam. Saat itu ia bekeija sebagai pemasar obat di salah satu perusahaan terkenal di Yogyakarta. Mendata stok barang yang bakal dikirim menjadi kegiatan rutin setiap hari selama 5 tahun. Cuma bedanya, kalau dulu ia harus bersusah payah naik motor dan keluar-masuk apotek, kini sebuah toyota kijang LGX diesel terbaru siap mengantarkannya pergi. “Ini dari hasil jual burung, lho,” ujar alumnus STIE YKPN itu.

Di tengah kesibukan menjual obat, anak tunggal itu kerap bertandang ke pasar burung. Merdunya kicauan mampu mengusir penat. Tak cuma itu, di sanalah naluri bisnisnya terusik. “Saya tertarik karena melihat ada peluang bisnis burung. Ide itu pun muncul ketika mampir ke pasar burung. Harga seekor jalak suren mencapai Rp 600.000, kok menggiurkan,” kata Anda mengenang.

Pekerjaan sebagai pemasar obat kemudian ditinggalkan sejak 2000 dan beralih menjadi penangkar burung. Di Sagan, Yogyakarta, ia mulai membuat penangkaran jalak suren sendiri dan mulai menangkarkan masing-masing 2 pasang jalak suren dan cucakrawa. Kedua burung itu dipilih karena prospek cukup bagus dibanding jenis lain. Maklum, kedua jenis itu di alam hampir punah.

Sebagai pemula di dubia beternak jalak suren, ia juga sering gagal menjodohkan. Kematian piyik pun acap dialaminya. Toh kendala itu tak mengendurkan semangatnya.

Hasil anakan pertama tidak langsung dijual, tetapi dibesarkan untuk induk. Jumlah kandang pun ditambah menjadi 10 buah. Dua tahun kemudian ia membangun 30 kandang di lantai ke-3 Solo, Jawa Tengah. Begitu produksi anakan cukup banyak, barulah ia menjual hasil temakannya. Semula ia menenteng sendiri temakannya ke pasar burung. Kemudian ia berpromosi di salah satu koran lokal. Strategi itu ternyata membuahkan hasil.

Dalam sebulan sebanyak 40 pasang jalak suren teijual. Saat itu harga sepasang Rp 1.250.000, sehingga ia mengantongi Rp 25-juta/bulan. Penghasilan dai usaha penangkaran jalak suren terbilang lumayan tinggi bila dibandingkan saat ia menjadi salesman yang hanya bergaji Rp 2-juta/ bulan.

penangkaran jalak suren
jalak suren jantan

Menjalin kemitraan Dengan Hobiis

Menurut Anda meningkatnya permintaan jalak suren dan cucak rawa seiring dengan maraknya lomba di berbagai daerah. Hobiis menyukai burung hasil ternakan karena jinak sehingga mudah dipelihara dan ditangkarkan lagi. Anda menjamin kualitas induk yang dibeli. Ia juga memberikan bimbingan teknis hingga penangkaran itu berhasil. Penangkar pun bebas menjual hasil temakannya, dikirim ke Anda atau orang lain. “Biasanya mereka percaya sehingga tetap menjual burung ke saya,” ujar suami Dewi Savitri itu.

Peluang itu menarik minat 25 penangkar di sekitar Yogyakarta, Klaten, Solo, Surabaya, dan Jakarta untuk bermitra. Listyanto, misalnya, salah satu mitra yang tinggal di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, mampu meraup omzet Rp 25-juta/bulan. Peternak plasma tak susah payah memasarkan anakan jalak suren jantan hasil dari beternak jalak suren. Soalnya, semua hasil ternakan diterima Anda. Keuntungan Anda, kontinuitas pengiriman burung terjaga.

Lantaran usaha penangkaran jalak suren mempunyai prospek yang cerah, pria energik itu sedang sibuk membangun 80 kandang lagi di Wedi, Klaten. Bahkan, rencana pembuatan 70 kandang lagi bakal dilakukan pada tahun mendatang. Semua itu ditempuh lantaran produksi kurang dibanding jumlah permintaan yang mencapai 2 kali lipat.

Hari-hari Anda seolah dihabiskan untuk burung. Sejak bangun tidur pikirannya melayang ke binatang bersuara indah itu. Begitu terdengar suara, tut…, tut…, tut…. di telepon genggamnya, bunyi SMS itu mungkin saja permintaan, “Saya pesan 10 jalak suren, bisa dikirim segera”. Pesan pendek itu bakal menghasilkan rupiah yang mengisi pundi-pundinya

Gracupica contra