Desain Ideal Rumah Walet Sarang Putih Dua Lantai

Rumah Walet sarang putih milik H Kholil itu unik. Sepintas gedung beratap genteng itu seperti rumah tinggal karena pintu, jendela, dan rolling door yang dulu dipakai sebagai garasi mobil masih ada. Namun, siapa sangka puluhan kilogram sarang walet telah dituai dari gedung yang dibangun sejak 1940 itu.

Rumah yang terletak 7 km dari Laut Jawa itu terdiri dari 4 bangunan yang saling berhubungan membentuk huruf O. Awalnya, gedung utama terletak paling depan berukuran 15 m x 7 m untuk tempat tinggal pemilik. Bangunan di kiri dan kanannya tepat di belakang gedung utama, masing-masing berukuran 3 m x 10 m dimanfaatkan sebagai ruangan keluarga.

Sementara bangunan yang terletak paling belakang berukuran 3 m x 21 m dipakai untuk menyimpan padi. Ada ruangan kosong mirip halaman berlantai semen berukuran 10 m x 7 m yang menghubungkan ke-4 bangunan. Ketika panen tiba, tempat itu biasa digunakan untuk menjemur padi.

Lubang Masuk Rumah Walet sarang putih berada di tengah

Entah sebab apa, tiba-tiba puluhan walet nyasar ke gudang pada 1996. Sang pemilik pun membiarkan burung itu bersarang begitu saja. Toh kehadirannya tidak mengganggu aktivitas penghuni rumah. Lambat laun Collocalia fuciphaga itu beranak-pinak. Bangunan lain pun dimasuki walet, termasuk rumah utama. “Dugaan saya walet tertarik lantaran rumah itu relatif nyaman untuk huniannya. Apalagi sumber pakan yang berasal dari gudang cukup tersedia,” kata Ade H Yamani, praktisi di Majalengka, Jawa Barat.

Dua tahun kemudian gedung utama direnovasi menjadi 2 lantai setinggi 7 m. Semula lubang keluar-masuk Walet sarang putih dibuat di setiap lantai. Namun, lubang atas akhirnya ditutup lantaran kurang efektif dimasuki walet. Hanya lubang di bawah yang diaktifkan untuk pintu. Menurut Abeng—panggilan akrab Ade H Yamani, hal itu wajar karena kebiasaan walet keluar-masuk dari lubang bawah. Bangunan lain direnovasi secara bertahap, masing-masing dilengkapi lubang berukuran 15 cm x 60 cm.

READ  Mesin Pemipil Jagung Otomatis Dari Tanah Abang Karya Anak Bangsa

Halaman bekas menjemur padi pun beralih menjadi bak penampung air berukuran 4 m x 6 m x 1 m, tepat di tengah-tengah lubang. Bak itu berguna sebagai penampung air ketika musim hujan. Begitu bak terisi penuh, air dialirkan melalui pipa PVC ke kolam besar yang dibangun di sisi kanan gedung utama.

Lubang utama pintu keluar-masuk Walet sarang putih berukuran 2 m x 3 m terletak tepat di atas bak air. Lubang itu dibuat dengan cara mengecor bagian atas ruangan kosong yang menghubungkan ke-4 bangunan. Abeng butuh waktu sekitar 3 bulan untuk merenovasi rumah.

Rumah Walet sarang putih
Lubang Besar Pada Bagian Atap sebagai akses masuk walet

Efektif

Menurut pria kelahiran Karawang 32 silam itu keputusan untuk merenovasi bangunan ternyata berdampak bagus. Setelah diamati, model itu mempunyai beberapa kelebihan. Lubang secara vertikal itu berdampak pada ruang gerak burung (rooving area) terbuka. Hal itu memudahkan walet melakukan manuver sebelum masuk ke rumah. Ia yakin, disain bangunan itu cocok dibangun untuk daerah sentra yang rata-rata jarak antar rumah waletnya berdekatan.

Keunggulan lain, tempat berputar grooving room) di ruangan dalam pun cukup luas. Walet sarang putih terbang berputar-putar terlebih dulu, setelah itu baru menuju ke kamar masing-masing {resting room). “Mungkin desain rumah walet itu mirip tempat tinggal ular naga yang menyukai ruangan besar di gua-gua. Orang di sini (Karawang, red) menyebutnya model gua naga,” ucap Abeng.

Lubang menghadap ke atas memang berisiko meningkatkan intensitas matahari ketika siang hari sehingga menaikkan suhu ruangan. Demikian pula ketika musim hujan, air masuk melalui lubang menggenangi ruangan. Namun, Abeng bisa mengakali dengan membuat bak penampung tepat di bawah lubang yg bertujuan agar membuat rumah walet lembab. Ia menganjurkan untuk membuat bak 2 kali lipat ukuran lubang. Selain mampu menampung air lebih banyak, sinar matahari tidak memantul ke dinding.

READ  Ektraks Temulawak Sebagai Antibiotik Alami Untuk Hewan Ternak

Ia memang belum mengukur suhu dan kelembapan di ruangan secara akurat. Namun, menurut pengalamannya selama 5 tahun menangani rumah walet, suhu dan kelembapan relatif stabil. Suhu ideal di ruangan 26— 29°C, kelembapan 80—95%.

2 Rumah jadi 1

Walet sarang putih
Dua rumah di gabungkan Menjadi satu

Ukuran rumah Walet sarang putih milik H Kholil itu luar biasa besar karena menggabungkan beberapa rumah menjadi satu. Abeng menduga karena faktor itulah yang berpengaruh pada peningkatan populasi sekaligus meningkatkan produksi sarang. “Perkembangan walet di rumah itu temasuk cepat sejak digabung menjadi satu. Meski tidak terukur, saya memprediksi panen meningkat,” katanya.

Menurut Abeng rumah model itu bisa dibuat dengan berbagai cara, yaitu menggabungkan 2 rumah menjadi satu atau merenovasi rumah. “Yang penting rumah itu sudah dihuni walet, meskipun baru 2—3 pasang,” ujarnya. Untuk merombaknya perlu teknik khusus. Jangan sampai renovasi itu malah membuat walet kabur.

Sayang, model rumah itu kurang efektif mengundang walet. Tweter speker pemancing walet mengarah ke atas menyebabkan suara yang dihasilkan menyebar sehingga tidak terdengar walet. Risiko lain, tweter mudah rusak karena terkena air hujan.