Hati Hati Jamur Beracun

Cisolok, Sukabumi tiba-tiba gempar. Pasangan suami-istri, Misdia dan Kesih serta 3 anaknya ditemukan tewas di rumahnya. Tak hanya mereka, 29 orang penduduk lainnya harus dirawat intensif. Usut punya usut, ternyata jamur beracun penyebabnya.

Kasus kematian akibat jamur memang bukan satu-dua kali terjadi. Umumnya terjadi ketika musim pertumbuhan jamur, yakni saat musim hujan tiba. Masih terbatasnya pengetahuan orang terhadap sifat dan sosok jamur beracun jadi penyebab utama. Sampai sekarang masih sulit menentukan suatu jamur beracun atau tidak.

Dari sekian belas ribu jenis jamur liar, diduga baru beberapa ratus saja dikenal sifat-sifatnya. Sosoknya amat variatif, baik bentuk dan warna jamur. Termasuk di antaranya jamur liar yang berbahaya bagi kesehatan, bahkan mematikan. Pasalnya, belum ada acuan secara visual berdasarkan bentuk dan warna tubuh buah, yang menggolongkan suatu jamur beracun.

Ciri Ciri Fisik Jamur Beracun

Meski begitu, ada beberapa ketentuan yang bisa dijadikan pedoman awal. Umumnya jenis jamur beracun memiliki warna mencolok. Merah darah, cokelat, hijau, hitam legam, dan biru tua di antaranya, meski ada pula yang kuning muda atau putih. Namun, ini tak berarti semua jamur yang berwarna sama tak bisa dimakan. Beberapa jenis jamur konsumsi ada yang berwarna putih (tiram), cokelat tua (shiitake), dan kehitaman (jamur kuping).

Terkadang jamur beracun menghasilkan bau menusuk hidung, seperti bau busuk. Penyebabnya senyawa sulfida yang dimiliki jamur. Itulah sebabnya mengapa serangga atau binatang kecil enggan hinggap di sana.

Ada pula yang mempunyai cincin atau cawan. Walaupun, jamur merang mempunyai cawan, tetapi tidak beracun. Jamur beracun biasanya tumbuh pada tempat kotor, seperti pembuangan sampah.

Cara lain untuk mengetahui jamur beracun yaitu mengerat badan jamur dengan pisau terbuat dari perak atau pisau biasa Hasil keratan itu jika didekatkan pada benda perak asli seperti sendok, garpu, cincin, atau pisau) akan terbentuk warna lain Pada permukaan benda perak tersebut terdapat warna hitam akibat reaksi dengan sulfida, atau biru lantaran bereaksi dengan sianida.

Jamur beracun juga cepat sekali berubah warna ketika dimasak atau dipanaskan. Kebiasaan ini dilakukan secara turun-temurun oleh para petani. Mereka bisa dengan mudah menentukan beracun atau tidaknya suatu jamur. Caranya, dengan merebus jamur dengan nasi dalam daun pisang atau “memepesnya” bersama nasi putih. Bila warna nasi berubah jadi berwarna lain, contohnya cokelat, kuning, merah, atau kehitaman, menandakan jamur tersebut beracun.

Senyawa racun

Pada jamur beracun terdapat senyawa-senyawa bersifat merugikan. Kholin, racun pada jamur yang paling berbahaya. Pasalnya, senyawa itu memiliki daya mematikan sangat besar. Beberapa jenis jamur mengandung kholin yaitu Amanita, Lepiota, Russula, Collybia, Boletus, dan sebagainya.

Muskarin, juga racun jamur yang cukup berbahaya dan mematikan. Dengan takaran antara 0,003g-0,005g saja sudah bisa membunuh manusia. Hampir mirip sifatnya dengan senyawa itu yakni falin, atropin, dan asam helvelat. Di samping efek mematikan, ada senyawa jamur yang bisa mengakibatkan halusinasi. Penyebabnya senyawa psilosibin. Orang yang mengkonsumsinya akan mengalami halusinasi. Seperti halnya keadaan ketika mengisap daun ganja, ekstrak daun koka, atau candu. Jenis jamur yang mengandung senyawa tersebut, Psilocybe. Sosoknya kecil, panjang tangkai 3cm-4cm, diameter tudung lem-2cm. Orang banyak menemukannya di timbunan kotoran kandang, terutama kuda.

Selain yang beracun, jamur yang awalnya tak beracun bisa pula berbalik sifat kalau dibiarkan membusuk. Kemungkinan besar jamur yang membusuk ditumbuhi bakteri penghasil racun. Contohnya, Clostridium sp, Pseudomonas sp, dan Salmonella sp.

Perawatan Pertama

Jika seseorang keracunan jamur gejala yang tampak amat khas, Keracunan yang diakibatkan oleh senyawa muskarin bisa berakibat fatal. Setelah mengkonsumsinya, 5-10 menit kemudian konsumen akan mengeluarkan air mata, peluh, atau ludah. Kemudian diikuti dengan penyempitan pupil mata. Makin parah lagi : sesak napas, banyak buang air, pusing, tidak sadar, dan koma. Tak jarang diikuti dengan kejang-kejang dan berakhir mati.

Keracunan akibat senyawa lainnya dicirikan dengan rasa haus yang hebat, muntah-muntah, diare. Gejala ini mulai muncul 4jam-6jam setelah mengkonsumsinya. Lama-kelamaan konsumen akan mengalami depresi dan bila parah bisa menimbulkan kematian.

Bila menemukan gejala di atas, paling aman cepat-cepat meminta bantuan dokter atau paramedis lainnya. Biasanya dokter akan melakukan usaha simtomatik atau suportif, misalnya memberikan thiosulfas natrikus. Sedang untuk penderita yang gawat diberi suntikan l/2mg antropin secara intra muskular atau per oral. Untuk penderita yang mengalami depresi, pertolongan pertama yang bisa dilakukan yakni memberikan larutan garam NaCl 0,85%.

Sering pula digunakan obat penawar yang sifatnya universal. Terdiri dari 2 bagian arang kayu (bisa diganti dengan bakaran roti atau beras sampai hangus), 1 bagian garam inggris, 2 bagian asam tanin (alternatif lain, teh kental). Dari campuran itu, ambil satu sendok teh dan kemudian diseduh dalam 1 gelas air masak. Ramuan itu lalu diminum untuk mengurangi pengaruh racun dari jamur.