Segmentasi Pemeliharaan Itik di Tanah Air

Di Indonesia para petani umumnya memelihara ayam kampung sebagai sumber protein hewani. Di Taiwan, itiklah yang memegang peran itu. Saking membudayanya pemeliharaan itik di halaman rumah, di Taiwan sampai timbul peluang bisnis yang kait-mengait untuk melayani usaha peritikan nasional.

5 Segmentasi Penting

Ada 5 segmen usaha yang tumbuh dalam proses produksi daging itik itu.

  1. Pertama, kelompok perusahaan pembibitan, yang khusus mengawinsuntikkan induk ras itik unggul (baik itik pedaging maupun itik petelur).
  2. Kedua, perusahaan penetasan telur penghasil DOD (day old duck) untuk melayani permintaan para petani “pembesar” itik. Setiap 3 bulan sekali, mereka perlu DOD baru, karena itik piaraan sebelumnya sudah dipanen sebagai itik potong.
  3. Ketiga, usaha pemeliharaan anak itik menjadi itik potong, yang kebanyakan dilakukan para petani, di samping oleh berbagai perusahaan skala besar maupun kecil.
  4. Keempat, perusahaan pengolahan daging itik hasil pemeliharaan kelompok ketiga.
  5. Kelima, perusahaan penghasil pakan ternak unggas.

Dari induk ke telur

Kawin suntik di perusahaan pembibitan dilakukan, karena cara ini dapat menjamin daya tunas dan daya tetas telur secara massal dan pasti. Lagi pula hanya diperlukan itik pejantan yang sedikit (5 ekor pejantan untuk 100 ekor betina), daripada cara tradisional (18 pejantan untuk 100 betina). Sebab, sperma yang “disuntikkan” tidak ada yang tercecer di dasar kandang, tetapi seratus persen masuk ke kloaka betina sampai titik sperma penghabisan. Semuanya membuahi sel telur. Pakan yang harus disediakan tentu saja lebih sedikit karena rombongan itiknya kecil.

Ada perusahaan pembibitan yang selain mengawinsuntikkan itik juga menetaskan telur hasilnya menjadi DOD. Namun, banyak yang tidak dan langsung saja menjual telurnya kepada perusahaan penetasan telur pihak lain.

Dari telur ke DOD

Perusahaan penetasan menetaskan telur secara mahal juga, dengan mesin tetas. Tidak hanya telur itik pedaging seperti White Tsaiya saja yang ditangani, tetapi juga itik petelur seperti Brown Tsaiya untuk melayani petani peternak, dan perusahaan itik penghasil telur konsumsi.

Ada itik pedaging (ras Mule) hasil silangan antara itik peking dan itik muskovy yang sangat disukai para peternak. Tumbuhnya memang lebih cepat, dan dagingnya lebih banyak daripada itik induk moyangnya. Dalam 2,5 bulan saja sudah dapat mencapai bobot 3 kg. Dibanding dengan itik peking moyangnya, kadar lemak tubuhnya lebih sedikit. Suatu sifat yang sangat disukai para penggemar daging itik.

Penjualan anak itik hasil penetasan dilakukan secara profesional, dengan membuka pemesanan lebih dulu. Anak-anak itu dikirim ke pemesan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Jadi tiba di kandang petani, kondisi itik masih prima.

Dari DOD ke itik konsumsi

Keluarga petani peternak di Taiwan hanya membesarkan anak itik sampai cukup umur untuk dipotong. Selesai menjual hasil, ia mulai memelihara anak yang baru dari awal lagi.

Pakan yang diberikan berupa duck starter cruble, selama 2 minggu. Setelah itu pakan dicampur dengan duck grower pellet. Baru sesudah itik berumur 1 bulan, pakannya berupa pellet seluruhnya. Namun, kalau itik-itik seumur itu bisa digembalakan di sawah, pakan pellet hanya merupakan pelengkap saja. Di sawah mereka diharapkan makan biji-bijian yang jatuh ke tanah, telur hama serangga, cacing dan siput.

Pakan itik dibuat perusahaan ternak secara masai, dan dapat dibeli di toko koperasi tani dengan harga kulakan yang miring. Di kantor koperasi ini pula datang para pedagang yang mencari itik potong untuk diecer di pasar, atau dipasok ke perusahaan pengolahan daging itik untuk ekspor.

Itik hasil piaraan rumahan dijual pada umur 3 – 3,5 bulan. Bobot tubuhnya rata-rata 4 kg (yang jantan) dan 2 – 3 kg (yang betina). Menahan mereka lebih lama dalam kandang tidak ada gunanya, karena mereka toh tidak bertambah lagi bobotnya, dan memboroskan pakan.

Dipotong di RPA

Produksi itik pedaging dinilai cukup tinggi. Itu sebabnya pemerintah Taiwan berkampanye agar itik juga dipotong di salah satu dari 23 RPA (Rumah Potong Ayam) yang dibangun sejak 1994 di beberapa kota provinsi Taiwan utara, tengah, dan selatan. RPA memakai mesin pemotong otomatis yang dijalankan dengan listrik. Hasil berupa karkas itik yang sudah dibuang jeroannya, diborong oleh para pemasok restoran dan pasar domestik. Mereka menjualnya sebagai daging itik segar yang dijajakan dalam lemari pendingin.

Di restoran dan rumah usaha para penjaja makanan keliling, karkas itik bebas jeroan kebanyakan diolah menjadi itik panggang sebelum ditawarkan ke konsumen. Tetapi perusahaan eksportir mengolahnya menjadi ham (pindang) itik dan itik asapan, setelah dipotong lebih lanjut dengan mesin menjadi 3 bagian. Paha, sayap, dan dada. Setelah dikuliti, khusus bagian dada ini juga ada yang dijadikan fdlet untuk diekspor beku.