Kendala Seputar Ekspor Impor Vanili

Menurut Johny Sinaga, penampung vanili di Bogor, beberapa bulan terakhir banyak eksportir menutup pintu pembelian. Pemasok hanya mengandalkan pasar lokal yang daya serapnya terbatas. Stok di gudang penampung pun melimpah.

Imbasnya, harga terjun bebas. Johny sendiri terpaksa harus menjual secara ketengan 100—200 kg saja ke beberapa industri. Itu pun dengan harga rendah, paling tinggi Rp800.000 per kg. “Daripada stok menumpuk di gudang, lebih baik dilepas,” paparnya.

Kontrak dagang

Tertutupnya pintu pembelian di kalangan eksportir juga diakui Harwanto, penampung di Parakan, Temanggung. “Saat ini hampir tak ada eksportir yang melakukan pembelian,” tuturnya. Ia pun menghentikan usahanya. Padahal, selama ini Harwanto tercatat sebagai penampung vanili terbesar. Dalam kondisi normal ia memasok 40 ton kering per tahun.

Gejala seretnya pembelian oleh eksportir sudah terasa sejak harga menggila mencapai Rp3-juta per kg. Mereka menganggap harga itu tidak wajar.

“Harga vanili yang terus meningkat akibat ulah para spekulan yang menerapkan pola hit and run,” papar Sidik, adik Harwanto.

Sebab, di pasar ekspor harga vanili paling banter US$300/kg. Beberapa eksportir terpaksa tetap membeli. “Itu karena terikat kontrak dagang yang harus dipenuhi,” ungkap Petrus Parjiono, penampung di Temanggung.

Benda asing

Vanili Indonesia mulai memasuki masa sulit. “Di luar negeri vanili kita sekarang banyak ditolak konsumen,” keluh Petrus. Oktober lalu, misalnya, ratusan ton vanili ditolak Amerika Serikat karena banyak kasus benda asing di tumpukan vanili.

Tak hanya serbuk besi, paku, dan kawat pun sengaja diikutkan saat mengepak vanili. Bahkan, ada pula vanili yang terkontaminasi zat-zat kimia berbahaya. “Mereka sengaja menyuntikkan air raksa yang mengandung merkuri ke dalam vanili untuk menambah bobot,” paparnya.

READ  Pachypodium Yang Anti Air

Ini jelas sangat disayangkan. Sebab menurut Sidik, kondisi vanili di Madagaskar pemasok terbesar sebenarnya belum stabil. “Kalau pun sudah mulai berproduksi, volumenya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar,” paparnya. Peluang pasar masih terbuka lebar.

Ida Bagus Raka Wiryanatha, ketua Asosiasi Eksportir Vanili Bali juga mengakui, tertutupnya pintu ekspor bagi vanili Indonesia bukan lantaran kejenuhan pasar melainkan karena krisis kepercayaan. “Kepercayaan pasar terhadap vanili Indonesia kini menurun akibat ulah sebagian pemasok nakal,” paparnya.

Akibatnya, saat ini sulit bagi eksportir kita mengirim pasokan ke pasar luar negeri. Lantaran vanili ditolak pasar, banyak eksportir menghentikan pembelian. Buntutnya, pekebun juga yang dirugikan. Sebab, harga di lapangan menurun terus. (Fendy R Paimin)