Pertanian semi organik Hasilkan Tomat 4 kg per Tanaman

Deretan tanaman di lahan 20 hektar digelayuti puluhan buah ranum, bersemburat jingga dan hijau. Tanaman itu doyong lantaran sarat buah. Sepasang ajir setinggi 2 m tak sanggup menopang batang tanaman anggota famili Solanaceace itu. Itulah panorama kebun milik Arief Darmono di Undrusbinangun, Selabintana, Sukabumi.

Tanaman tampak sehat tanpa gejala serangan. Dari 50.000 isi kebun, kurang dari 50 tanaman yang terserang fusarium. Maklum daya tahan tanaman meningkat berkat pemberian cendawan. Bubuk cendawan itu disebar bersama pupuk kandang seminggu sebelum penanaman dengan dosis 100-200 g per 1.000 m2. Perlakuan itu membenahi permasalahan keamanan hayati dan kepedulian lingkungan untuk mengurangi fitotoksisitas akibat penggunaan pestisida berlebih.

Penurunan dosis

Inisiatif Arief demikian Arief Darmono biasa disapa menggunakan produk organik sejak Mei 2018 karena ramah lingkungan. Padahal, peralihan sistem pertanian konvensional menuju organik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penyediaan sarana organik, pengontrolan, dan sosialisasi bagi seluruh pegawainya membutuhkan perencanaan matang. “Banyak faktor yang harus diperhitungkan bila ingin serius,” ujar ayah 2 putra itu. Untuk itu, ketika tawaran produk organik disodorkan salah seorang rekannya, ia menyambut dengan tangan terbuka.

tomat organik
tomat organik

Penerapan

perdana di lahan kentang, buncis, sawi putih, dan cabai seluas 1 ha pada pertengahan 2004. Hasilnya? Sangat menggembirakan. Penyakit dan hama yang disebabkan patogen drastis menurun. Pehobi sepakbola itu lalu mencoba untuk seluruh luasan penanaman Lycopersicon esculentum seluas 12 ha.

Sejak menggunakan produk alami itu penggunaan pupuk kimia otomatis berkurang. Penurunan dosis mencapai 90%. Semula dosis dibutuhkan 2 ton per ha termasuk untuk kocoran. Setelah beralih ke pupuk organik hanya memakai 2 kuintal per ha. “Biaya produksi pun menjadi lebih hemat,” kata pria 36 tahun itu. Secara total biaya produksi per luasan tidak berbeda jauh, tetapi biaya pokok produksi dapat ditekan.

Kandungan asam-asam organik mampu melengkapi kebutuhan unsur N, P, dan K. Dampaknya tanaman tumbuh subur dan produksi meningkat tajam. Selain itu residu sisa pupuk kimia terurai sehingga dapat berfungsi kembali untuk tanaman.

Awalnya coba-coba, akhirnya menjadi ketagihan. Padahal sebelumnya ia tak yakin. “Kalau saja bahan organik itu menghasilkan produksi yang sama, akan saya pakai,” katanya. “Ternyata produksi malah meningkat,” lanjutnya. Ia berkomitmen menggunakan sistem organik walau masih transisi di kebunnya yang terhampar seluas 20 ha.

Pergiliran kedua

Arief beruntung lantaran lokasi kebun di kaki Gunung Pangrango berketinggian 800-1.200 m dpi, jauh dari perkampungan maupun keramaian. Itu sesuai untuk penerapan sistem pertanian organik. Ketersediaan air tanah baik sehingga turut menyuburkan tanaman. Dengan pencahayaan 11-12 jam, tanaman optimal menyerap unsur hara.

Tanah berjenis latosol itu diolah setiap 1,5 tahun sekali dengan rotasi tanaman 3-4 jenis sayuran. Tomat ditanam setelah cabai sehingga tidak memerlukan olah tanah maupun pemberian pupuk kandang kembali. “Itu memang menentang teori menghindari penanaman komoditas sefamili pada lahan yang sama,” ungkapnya. Namun, ternyata itu tidak berlaku untuk pekebun yang telah menggeluti dunia agribisnis selama 10 tahun itu.

Jarak tanam 60 cm x 60 cm dengan parit antarbedeng 50-60 cm Jadi, total populasi mencapai 18.000 per ha. Kebutuhan benih 10 pak setara 100 g per ha. Cendawan organik itu diaplikasikan seminggu sebelum bibit ditanam. Bahan berupa serbuk itu diencerkan dengan air dan disiramkan pada lahan serupa dengan mengaplikasikan pupuk kocoran. Zat glyovirin yang dikandung Gliocadium sanggup mematikan cendawan patogen. Itulah kunci menangkal serangan layu asal patogen tanah.

Parit 50-60 cm untuk melayani ketersediaan air
Parit 50-60 cm untuk melayani ketersediaan air

Tidak aplikatif

Pupuk organik yang ditaburkan Arief sebetulnya hanya melengkapi pupuk kimia.Namun, pemakaian terus-menerus terbukti bisa menghemat biaya. Nyatanya, di kaki Gunung Pangrango itu tomat cuma diberi pupuk dasar NPK sebanyak 10 g/ tanaman. Lazimnya 100 g per tanaman. Toh, produksi 1.000 ton dari 12 ha sanggup diraupnya dalam satu periode.

Sebenarnya Arief ingin memakai sistem organik secara total, termasuk pemakaian pestisida nabati olahan sendiri berbahan baku daun mimba. Namun, usaha itu belum semulus perkiraannya. Penangkal hama itu hanya bisa dilakukan pada luasan ratusan meter persegi. “Diaplikasi ke seluruh luasan belum memungkinkan karena butuh banyak bahan baku,” ujarnya.

Jadi, sekarang penerapan organik terpaksa memakai pupuk organik, hormon organik, dan cendawan dalam tanah. Sedangkan penggunaan pestisida sintetis belum bisa dihindari. Namun, harapan tak pernah pupus, setelah kesuksesan meningkatkan produksi terlaksana, ia pun berharap sistem organik dapat diterapkan di seluruh kebun.(Pupu Marfu’ah)