Saat Pamor Halfmoon Kian Menanjak

Pantas jika rupiah yang digelontorkan Heri lumayan besar. Maklum puluhan halfmoon yang dikoleksi merupakan varian-varian baru yang tengah naik daun di negeri Siam dan berharga lumayan mahal. Sebut saja jenis halfmoon copper, rose tail, black copper, green mask, dan crane gold halfmoon. Halfmoon copper misalnya dibeli seharga Rp 500.000 per ekor dari penangkar di Jakarta Barat. Padahal untuk jenis yang kini mulai usang itu, Heri setidaknya memiliki 3 pasang.

Semua halfmoon koleksi itu memang berasal dari beragam sumber. Di saat melawat untuk kepentingan bisnis di Jakarta, bujangan berusia 24 tahun itu selalu menyempatkan diri mampir ke kolega cupang di Tomang, Jakarta Barat. Begitu pula ketika bertugas ke Singapura dan Thailand. Beberapa penangkar besar tak luput dikunjungi. Crane gold halfmoon misalnya diperoleh setelah ia menyambangi negeri Singa sebulan silam.

Ada tantangan

Menurut direktur CV Mandiri Sejahtera, penyewa alat-alat berat di Pekanbaru itu, ketertarikannya mengoleksi halfmoon karena ada tantangan untuk mendapatkan bentuk sirip halfmoon seperti huruf D di kala ngedok. “Kalau lagi ngembang indah dilihat mata,” ujar alumnus Syinburne University di Melbourne, Australia, itu.  Apalagi jika itu favorit yang sulit didapat, seperti halfmoon merah solid dan crane gold halfmoon.

Tak hanya mengoleksi, ahli komputer itu belakangan mengadu untung menangkarkan beberapa halfmoon koleksi. Sepetak lahan seluas 15 m x 25 m disiapkan untuk keperluan itu. Beberapa bak semen dan sederet akuarium pun dibuat. “Sekarang saban minggu, setiap jenis halfmoon yang ada akan dikawinkan,” ujarnya. Tak sia-sia, 3 bulan silam, beberapa induk yang dipijahkan sudah bisa menelurkan anakan.

Heri hanyalah satu dari sekian banyak hobiis yang menyukai halfmoon. Penggemar lain ialah Ifan Suryo di bilangan Menanggal, Surabaya. Siswa Menengah Atas kelas 3 di kota Pahlawan itu memiliki 10 akuarium halfmoon. Jenis yang dipelihara merupakan halfmoon-halfmoon angkatan lama bercorak solid seperti hijau, merah, dan biru. “Di lomba, yang banyak peserta kan di kelas solid,” ujar kelahiran Surabaya 18 tahun silam itu memberi alasan. Jenis baru bukannya tidak mau dimiliki, tapi harganya dianggap masih belum bersahabat.

Joty Atmadjaja, gencar menangkarkan varian baru halfmoon
Joty Atmadjaja, gencar menangkarkan varian baru halfmoon

Mulai marak

Geliat maraknya halfmoon sudah dirasakan sejak setahun silam. Tak dapat dipungkiri merosotnya tren lou han menjadi salah satu sebab. Pada kontes INBS (IndoBetta Splendens) Award pada Agustus 2002 di Plaza Gajahmada, halfmoon hanya dipertandingkan 1 kategori dengan 30 peserta. Kondisi itu berbalik sejak awal 2004. Pada kontes INBS III di Raiser Cibinong, kemudian berlanjut Cengkareng dan kontes Indonesia Fish pada

Agustus 2004, kategori halfmoon melesat menjadi 3 yakni warna dasar, warna kombinasi, dan warna bebas. Peserta pun mulai membludak meski tetap di bawah kategori favorit, serit. Kehadiran jenis-jenis baru asal Thailand ikut memicu maraknya halfmoon di tanah air. Halfmoon copper misalnya, “Yang pesan banyak tapi barangnya sedikit,” papar Hermanus.

Setiap bulan alumnus Informatika Bina Nusantara itu mampu melepas belasan copper berukuran 2-3 inci seharga Rp 300.000-Rp 500.000 per ekor untuk kualitas kontes hasil ternakan sendiri. Pembelinya tersebar dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk memperluas pasar, ayah 2 putra itu kini tengah bersiap-siap melepas silangan copper dan warna solid seperti hitam (black copper), hijau (green copper-green mask copper), dan gold copper.

Joty Atmadjaja pun setali tiga uang. Ketua Klub INBS itu kini giat memperbanyak halfmoon gold dan jenis warna baru lain seperti black copper, white halfmoon, cooper guest, dan purple guest. “Banyak permintaan dari kolektor di Jawa maupun di luar Jawa, apalagi menjelang kontes,” ujar direktur pemasaran internasional perusahaan makanan di Jakarta Pusat itu.

Keseriusan kelahiran Bandung 45 tahun itu dibuktikan dengan rutin membeli halfmoon asal penangkar-penangkar top di negeri Gajahputih. Farm-farm kondang seperti Betta Boy, Grad Betta, Attison Betta, Nice Betta, dan Betta 2 U, menjadi tempat yang wajib didatangi saat datang di sana. “Bila tak sempat saya selalu memesan lewat e-mail,” papar ayah 2 putra itu. Hal senada juga ditempuh Irwan Sugandhi di Jakarta Barat. “Saya mendatangkan variasi-varisasi cupang dari Thailand terutama rose tail,” ujar mantan pemain lou han itu. Tujuannya jelas untuk menambah semarak pasar cupang.

Meski demikian halfmoon tradisional yang bercorak tunggal seperti biru, hijau, hitam, dan putih tidak serta merta tersingkir. “Ada gejala tren halfmoon akan kembali ke warna dasar lagi dan halfmoon bertopeng seperti green mask dan blue mask,” ujar Hermanus.

Berjayanya corak merah solid saat menjadi grand champion di kontes Lapangan Banteng pertengahan tahun silam menjadi salah satu pemicu. Yang lain belum ada kejelasan kategori untuk jenis baru. “Kalau copper masuk ke warna dasar gelap jelas kalah. Begitu pula nasib black copper yang masuk kelas kombinasi. Kecuali bila bertanding di luar negeri,” tuturnya.

Serit masih teratas

Di luar serbuan halfmoon yang identik dengan Thailand, pasar cupang hias lokal seperti serit kini sedang menuju tren seperti kurun 2001-2002. Hasil lacakan Mitra Usaha Tani menunjukan gairah di berbagai sentra lama. Tengok saja Muhhamad Yakin di Surabaya. Peternak sekaligus pedagang di bilangan Tambak Rejo itu mengaku kewalahan memenuhi order. “Sejak kontes rutin diselenggarakan, permintaan naik terus sampai 40%,” ujarnya. Sejak Febuari 2004 ia rata-rata melepas 3.000-5.000 cupang seharga Rp 10.000-Rp l5.000 per ekor ke pedagang di seputaran Surabaya, Blitar, Kediri, dan Mojokerto.

Hal senada dialami Muhammad Rusdi peternak lama di Kecapi (Kelompok Cupang Hias Slipi), Jakarta Barat. Menurut kelahiran Jakarta 25 tahun silam itu, permintaan yang masuk meningkat 75% jika dibandingkan saat tren lou han kurun 2003. “Permintaan dari Bandung dan Pekalongan terutama ikan berkualitas A dan B sudah sulit dipenuhi,” ujar alumnus Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah di Ciputat, Tangerang. Halfmoon dan serit berumur 3 bulan kualitas C rata-rata dijual Rp l.000 per ekor. Untuk kualitas A dan B dapat mencapai harga Rp 10.000-Rp 25.000 per ekor.

Banyak pemain baru kini melirik berbisnis cupang. Joni Sumantri misalnya, sejak 6 bulan lalu berkecimpung di cupang hias. Pelukis di Yogyakarta itu setiap bulan mengumpulkan 400-500 serit dan halfmoon dari peternak di seputaran Ambarawa, Temanggung, dan Semarang. Bermodal Rp 5.000 per ekor, 3 bulan kemudian pelukis itu menjual kembali seharga Rp 20.000-Rp 40.000 per ekor ke Yogya, Muntilan, dan Solo. “Lebih untung ketimbang melukis,” ujarnya terkekeh.

Pasar halfmoon diakui memang masih terbatas. “Serit masih menguasai sekitar 70%, sisanya campuran seperti halfmoon dan plakat,” ujar Sugiharto dari Blitar Beru Spiendens. Permintaan cupang serit tetap tinggi lantaran di setiap kontes, dialah yang punya kategori terbanyak seperti maskot, solid, kombinasi. Itupun masih dikelompokan lagi dalam kategori senior dan yunior.

Meski demikian penyebaran hobiis halfmoon kini semakin meluas. Tak hanya di kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta, tapi juga menyebar hingga kota-kota di luar Jawa seperti Banjarmasin, Samarinda, Medan, Makassar, dan Denpasar. Bagi mereka memelihara dan menikmati halfmoon seperti Heri menjadi hobi baru yang mengasyikan. (Dian Adijaya S/Peliput: Pupu Marfu’ah)