Arwana Super Red: Sapuan Merah Tubuh sang Naga

Arwana super red sepanjang 30 cm hilir-mudik menyusuri akuarium. Ring-ring sisiknya tampak berkilau ditimpa cahaya. Nirwan sang pemilik memang piawai merawat ikan naga itu. “Arwana, terutama super red dan golden butuh sinar matahari. Tanpa itu warnanya pucat,” tuturnya.

Penelitian di Jepang menunjukkan, sinar matahari mempengaruhi pertumbuhan. Ikan kahyangan yang mendapat sinar matahari tumbuh lebih cepat. Pada umur 6 bulan mencapai 17 cm, lebih panjang 2 cm dibanding yang tidak mendapat sinar. Dengan sinar matahari itu pula warna merah muncul lebih dini. Kalau biasanya warna keluar setelah arwana berukuran 35 cm, dengan sering bermandi pancaran matahari panjang 15 cm sudah merah.

Pentingnya sinar matahari bagi arwana mudah dibuktikan. “Cobalah perhatikan arwana pada pagi hari. Warnanya pasti pucat karena semalaman tidak terkena sinar,” ungkap Nirwan. Menurut lajang yang menekuni arwana sejak 4 tahun silam itu, faktor genetik penting, tapi perawatan tak boleh diabaikan. Di habitat aslinya dan farm-farm di Kalimantan, Scleropages formosus itu mendapat penyinaran sepanjang hari. Maklum, wilayah itu berada di garis khatulistiwa.

Lampu pengganti

super red
Arowana super red

Gelombang-gelombang panjang sinar matahari pagi memperkaya spektrum warna sisik. Itu yang membuat variasi warna lebih lengkap: merah, biru, hijau, kuning, dan keunguan. Oleh karena itulah Nirwan menganjurkan, jika memungkinkan arwana dijemur selama 1-2 jam pada pukul 08.00-10.00 atau 16.00-17.00.

Hindari penjemuran pukul 14.00- 15.00 karena terlalu terik menyebabkan suhu air naik. Suhu di atas 29°C justru membuat warna ikan naga itu pucat. Idealnya ikan hias itu berada pada suhu kamar 27-28°C.

Namun, memanjakan arwana bermandi matahari pagi bukan persoalan mudah. Sebab, hobiis umumnya memajang arwana di ruang tamu yang tak terjangkau sinar matahari. Diboyong keluar-masuk setiap pagi jelas merepotkan dan menyita waktu.

“Sebagai pengganti sinar matahari digunakan lampu dengan spesifikasi plant grow,” ujar Nirwan. Lampu neon atau TL berkekuatan 5.000-20.000 calvin itu tersedia di toko-toko perlengkapan akuarium. Harganya Rp30.000- Rp 150.000, tergantung merek.

Lampu dipasang di dasar bagian depan akuarium supaya cahaya lampu menyorot tepat ke ring-ring sisik. Sebaiknya memasang 2 lampu sekaligus, masing-masing di depan dan belakang. Maksudnya, agar kedua sisi tubuh tersinari.

Penempatan lampu di permukaan boleh-boleh saja. Cuma, cahaya hanya mengenai punggung. Sisik tidak tersinari sehingga hanya warna merah yang muncul. Nyalakan lampu 24 jam atau cukup 12 jam, malam dimatikan. “Nonstop lebih baik. Tapi celakanya kalau mati lampu, ikan stres dan menabrak-nabrak dinding akuarium,” papar pria 32 tahun itu.

Jangan Diberi Makan Kelabang

Selain lampu, hobiis itu juga menganjurkan pemanfaatan latar akuarium warna gelap. Cat biru atau stiker beberapa alternatif. Atau yang lebih praktis dinding belakang dan dasar akuarium terbuat dari kaca riben dengan tingkat gelap 80%. Hindari penempatan aksesori seperti batu-batuan atau tanaman air. Keduanya akan menyulitkan sewaktu akuarium dibersihkan.

“Cukup dengan lampu dan background gelap penampilan arwana dijamin prima. Pengaruh pakan terhadap warna tidak signifikan,” kata Nirwan. Kelabang dan udang yang disebut-sebut bisa meningkatkan kecerahan warna tidak sepenuhnya benar.

Kelabang berdasarkan pengamatan Nirwan justru berbahaya karena berbisa. Di luar itu jika sudah diberi kelabang, siluk cenderung menolak pakan jenis lain. Berilah pakan ikan-ikan kecil, udang, kodok, dan jangkrik secara bergantian.

Yang perlu diperhatikan pakan diberikan tidak sampai kenyang, melainkan hanya 70% kapasitas perutnya. Jika sampai kenyang, ia bisa mogok makan dalam beberapa hari. Padahal, salah satu kenikmatan merawat siluk itu adalah pada saat menyantap pakan. Untuk itu, “Jangan sekali-kali disebar, sebab pemberian pakan menjadi tidak terkontrol,” kata Nirwan.