Anggrek bulan di Baju sang Perancang

Avatar
  • Whatsapp
Taman tropis
Taman tropis tampil cantik dengan Vanda rinchostilis

Label Milo’s kadung identik dengan busana menawan rancangan Emilio Migliavacca. Hasil karya desainer kondang asal Italia yang kini bermukim di Bali itu jadi incaran wanita penggemar pakaian indah dan eksklusif. Namun, Milo yang satu ini bukan baju malam nan anggun atau kemeja batik berpotongan elegan. Nama itu disematkan untuk sesosok dendrobium berwarna pink dengan antena merah tua. Itu tanda mata dari seorang sahabat yang juga penggemar anggrek di Singapura.

Jam menunjukkan pukul 22.00 WITA. Alam hening di sekeliling sebuah rumah bergaya tradisional di kawasan Seminyak, Kuta, Bali.Seberkas sinar menerobos gelapnya malam dari salah satu ruang. Di sana ditemani sunyinya malam Emilio Migliavacca-ia lebih suka dipanggil Milo-tepekur menghadapi lembar-lembar kertas berisi desain pakaian terbaru.

Di dekatnya ada tumpukan kain batik yang baru selesai dikerjakan perajin di Madura, Bandung, dan Malang. Batik- motifnya ia rancang sendiri-andalan pemilik 8 rumah mode Milo’s itu. Helai demi helai diteliti mencari cacat atau kotor yang mengurangi kesempurnaan hasil. Bila sudah begitu bisa berjam-jam perancang kondang asal Italia itu mengurung diri di dalam studio kerja bernuansa etnik itu.

Toh itu tidak sia-sia. Hasil rancangan Milan, Italia, 56 tahun silam itu jaminan untuk penampilan eksklusif dan nyaman dipakai. Desainnya menawan menonjolkan karakter etnik. Ia menggabungkan budaya timur dan barat, antara elemen modern dan tradisional hingga kombinasi antarbudaya di Indonesia. Tak heran seorang Justin Pasek, wanita cantik sejagat versi Miss Universe 2002 asal Panama, pun berkenan mengenakan rancangannya.

Anggrek bulan

Dunia rancang-merancang busana sudah Milo kenal sejak berumur 18 tahun. Milan, New York, dan kota-kota busana lain bolak-balik ia jelajahi. Di kota-kota itu pula ia pertama kali memperkenalkan busana bertema batik dan Bali yang ia geluti sejak bermukim di Pulau Dewata itu.

Di tengah hiruk-pikuk itu masih sempat menjenguk ribuan koleksi anggrek di halaman rumah. Di sebelah kanan pintu masuk langsung terlihat bangunan terbuka setinggi 4 m dinaungi plastik dan shading net. Di dalamnya ribuan tanaman muda dan remaja hasil silangan sendiri ditata di atas rak besi. Dua kipas raksasa dipasang di sisi bangunan untuk mengatur kelembapan dan sirkulasi udara.

Masuk ke dalam, mata dimanjakan dengan pemandangan taman bergaya tropis. Di sana tumbuh bromelia, philodendron, bambu, kamboja, beringin karet, dan pandan wangi. Sebuah bangunan-Milo menyebutnya ruang karantina-diselubungi shading net di salah satu sudut dipenuhi anggrek yang baru saja datang dari Singapura. Sebut saja cattleya lucky strike berlidah besar, DTPS kenneth schubert-phalaenopsis mini berwarna ungu dengan lidah ungu, dan vanda mimi palmaz bergaris hitam.

Tepat berhadapan dengan teras depan, 3 pohon kamboja setinggi 4 m digelayuti beragam vanda berwarna merah, merah muda, dan bertotol hitam, serta rinchostilis-kerabat vanda. Di depan bangunan sarat anggrek silangan berdiri studio kerja Milo. Bila suntuk mendesain, pria berambut panjang itu cukup berjalan-jalan di seputaran taman.

Jatuh cinta pada anggrek tak pernah Milo rencanakan-sama seperti waktu ia tak kuasa menolak keelokan Bali dan memutuskan tinggal di Pulau Dewata itu. Itu gara-gara kunjungan ke rumah ayah seorang arsitek yang mendesain rumahnya pada 1975. “Di sana banyak koleksi phalaenopsis, kebetulan sedang berbunga,” kenang pria yang hijrah ke Bali pada 1973 mengenang. Itulah kali pertama ia melihat anggrek bulan di alam terbuka. Di Eropa anggrek “dipenjara” dalam rumah kaca. Sang perancang pun jatuh cinta pada sang puspa pesona.

Keterpesonaan Milo kian menjadi-jadi waktu ia berkunjung ke rumah seorang kenalan di Blahbatu-1 jam dari Denpasar. Sang teman-Jelantik-menempelkan 20-30 anggrek bulan pada bonggol kopi. Kebetulan waktu Milo datang anggrek sedang berbunga. “Indah seperti air terjun,” ujar pria yang mewarisi bakat merancang dari sang ibunda itu. Dari ketertarikan itu mulailah Milo mengoleksi anggrek.

Dokter gigi Singapura

Demi memburu koleksi, setiap kali pameran anggrek digelar sulung dari 2 bersaudara itu tak pernah ketinggalan. Hampir semua nurseri di dalam negeri ia sambangi. Sebut saja Flora Bali, Royal Orchids, Sien Orchids, Edward & Frans Orchids-ketiganya di Prigen, Pasuruan, serta nurseri di Bandung seperti Rizal Orchids danj^acie Orchids. Kunjungan ke berbagai negara tak disia-siakan untuk menambah koleksi.

Suatu ketika saat sedang mengikuti pameran mode di Paris ia menyempatkan diri mengunjungi salah satu nurseri terbaik dunia. Dibelinya angraecum-anggrek Madagaskar. “Sayang sampai sekarang 2 pohon yang saya beli belum berbunga. Padahal menurut literatur iklim di sini dengan Madagaskar sama,” katanya anggrek gagal berbunga bukan cerita sedih satu-satunya. Gara-gara anak buah salah menyiram,200 phalaenopsis yang dibawa dari Perancis mati dalam 2 bulan.

Bersama dokter giginya di Singapura ia menjelajahi nurseri di negeri berlambang singa itu, seperti Hillview Nursery milik Neo Tuang Hong dan Song Orchids milik Puah Gik Song. Kebetulan suami sang dokter John Elliot presiden South East Asia Orchids Society. “Terakhir saya berkenalan dengan Yusuf Alsagof (dedengkot anggrek Singapura, red). Yusuf saya anggap sebagai guru karena ia salah satu yang paling hebat menyilang,” kata pria yang hobi berselancar itu.

Harga nyaris tak masalah. “Untuk membeli pohon tergantung ‘kesurupan’ saya,” seloroh Milo. Asal pohon itu bagus dan belum dimiliki, apalagi bisa dijadikan bahan silangan langsung dibeli. Ia pernah membeli anggrek seharga US$ 1.000. Namun kebanyakan pada kisaran Rp200.000-Rp300.000/pot.

Sebagian koleksi ditanam di Bedugul berketinggian sekitar 1.200 m dpi. Kebun seluas 2 ha itu khusus menyimpan anggrek asal daerah dingin, misal dendrobium nobile, miltonia, dan cymbidium. Kecantikan anggrek-anggrek koleksi Milo pun membuahkan penghargaan. Meski Taman tropis tampil cantik dengan Vanda rinchostilis baru pertama mengikuti kontes, cymbidium miliknya keluar sebagai jawara dalam ajang Bali Orchids Show akhir Juni silam.

silangan anggrek
Disini hasil silangan sendiri dikembangkan

Penganggrek sukses

Belakangan Milo tak sekadar mengoleksi. Anggota American Orchid Society sejak 1985 itu mulai tekun silang-menyilangkan. Ia mengibaratkan seperti sedang mendesain. “Menyilangkan anggrek bersifat ini dengan yang itu saya sudah bisa membayangkan bunga yang dihasilkan,” kata ketua PAI cabang Denpasar itu.

Toh, hasil akhir tak selalu persis seperti yang diinginkan. Pertama kali menyilangkan 2 dendrobium kesayangan pada 1999 bunga yang keluar sangat beragam. Makanya bunga mekar merupakan saat yang dinanti-nanti. Kecintaan pada anggrek pun tercurah pada karyanya. Baju pria dari katun, atau busana perempuan berbahan sutera, katun, dan rayon berlabel Milo’s kerap dihiasi motif bunga tanaman epifit itu.

Bila karir di bidang desain sudah ia genggam kini obsesi yang dimiliki menjadi penganggrek sukses. Dari 50.000 anakan hasil silangan sendiri, 10.000 di antaranya diserahkan pada seorang petani kepercayaan untuk dibesarkan. Bukan tak mungkin 2-3 tahun ke depan bunga-bunga cantik silangan Milo meramaikan dunia anggrek.