Anggur Hijau Kuning dari Don Kruai

Udara terasa kering di bawah sorotan sang surya tengah hari. Suasana sunyi senyap, tak ada gemuruh kendaraan roda dua atau empat dijalan beraspal mulus itu. Sayup-sayup sampai terdengar suara orang bercakap-cakap di tengah ladang. Hening, …

anggur White malaga

Udara terasa kering di bawah sorotan sang surya tengah hari. Suasana sunyi senyap, tak ada gemuruh kendaraan roda dua atau empat dijalan beraspal mulus itu. Sayup-sayup sampai terdengar suara orang bercakap-cakap di tengah ladang. Hening, itulah situasi sehari-hari di Tambon Don Kruai, Amphur (kecamatan, red) Damnoensaduek, Provinsi Ratburi, Thailand. Padahal, dari desa itulah sejumlah toko buah dan pasar swalayan di Bangkok memperoleh anggur-anggur nan ranum.

Dari jalan yang menghubungkan Provinsi Samutsongkhram dan Ratburi itu sama sekali tidak terlihat para-para tempat anggur merambat. Yang menjadi panorama justru kebun asparagus, kailan, kacang panjang, dan kadang-kadang kebun jambu air. Seluruhnya ditanam dengan sistem suijan. Artinya, lahan dibagi dalam beberapa petak dan setiap petak dipisahkan oleh parit berisi air. Namun begitu bus berhenti dan Kami betjalan memasuki jalan tanah selebar 1 m sejauh 100 m, mulai tampak bibit-bibit anggur setinggi 50 cm yang ditanam dekat ajir bambu.

Di depan kebun yang baru ditanami itu, di bawah naungan gubuk bambu, Monthian dan Chadchai Boonyarat, dua bersaudara pemilik kebunx sudah menunggu kedatangan Kami. Disamping mereka,seonggok anggur hijau berbentuk lonjong bertumpuk di keranjang bambu. Ketika kulit buahnya yang agak tebal dikunyah, hm… rasa manis langsung menyengat lidah. Rasa manisnya sangat menggiurkan, walaupun masih ada 1 sampai 2 butir biji di dalamnya. Saat satu dompol anggur ditimbang, jarum penunjuk bergeser ke angka 500 g.

White malaga

Monthian kemudian memandu Kami berjalan kaki sejauh 50 m lagi dari gubuk tersebut. Sampai ke tujuan, nun di seberang parit selebar 3 m, bergelantungan a-ngun -kosa kata Thailand untuk anggur -memenuhi para-para terbuat dari kawat. Warna buah yang hijau kekuningan itu sungguh kontras dengan tanah bedengan yang hitam legam dan bertaburan jerami.

Tak ada satu pun dompolan yang terserang powdery mildew atau botrytis, dua musuh bebuyutan pekebun anggur.

White malaga dari keluarga Vitis vinifera, itulah varietas anggur yang ditanam oleh Chadchai dan Monthian. Mereka memilih anggur lonjong itu lantaran alternatif lain, cardinal, rasanya manis agak asam, walaupun warnanya lebih menarik, merah marun. Di Thailand memang hanya 2 varietas itulah yang dianjurkan ditanam.

Yang istimewa, produksi per blok bisa mencapai 40 ton sekali musim tanam. Satu blok berisi 1.000 tanaman. Setiap 4 bulan anggur-anggur itu dipanen sampai bulan ke-16. Dua bersaudara itu kemudian menjualnya di pasar lokal seharga 20 baht/ kg. Harga yang pada suatu ketika bisa lebih tinggi daripada durian.

Sama seperti di Taiwan, anggur di Don Kruai itu dirambatkan di para-para terbuat dari kawat. Bedanya, Monthian memakai bambu sebagai ajir sekaligus tiang untuk kawat. Bambu yang ditanam bersamaan dengan penanaman bibit itu ketinggiannya mencapai 1,75 m, sesuai dengan tinggi para-para.

Kulit tebal, tapi manis
Sistem surjan, ciri khas budidaya di Thailand

Kami berkunjung ke kebun anggur dataran, rendah itu pada Mei saat suhu berkisar pada angka 16°C sampai 22°C. Itu adalah waktu panen terakhir di Thailand. Bulan depan, Juni sampai Desember, bertiup angin dari arah Cina. Perubahan suhu yang drastis membuat tanaman sama sekali tidak berproduksi. Jika pada kondisi normal bisa dipetik 3 sampai 5 ton buah/rai sekali panen, pada kwartal kedua paling banter hanya 0,5 ton anggur/rai/panen. Satu rai setara dengan 0,16 ha.

Teknik Pemangkasan Batang

Kebun Monthian dan Chadchai itu sungguh spektakuler lantaran keberhasilan mereka ‘ menjadikan para-para dipenuhi dompolan anggur sejauh mata memandang. Salah satu kunci sukses ialah teknik pangkas yang mereka lakukan. Setelah bibit mencapai ketinggian para-para, dilakukan pemangkasan batang utama. Menurut Monthian, pemangkasan itu kira-kira menyisakan 7 sampai 10 ruas pada batang utama. Untuk memperoleh cabang pembuahan, dilakukan pula pemangkasan cabang. Cabang dipangkas pendek sampai tersisa 5 mata. Kadang-kadang ada juga yang dipangkas sedang. Artinya, tersisa 6 sampai 10 ruas. Cabang-cabang itu diarahkan ke empat penjuru mata angin. Apabila cabang baru sudah mencapai 75 sampai 100 cm, kembali dilakukan pemangkasan

Teknik pangkas itu ditunjang oleh pemupukan yang teratur. Tanah di kebun yang jenuh air dan kaya hara secara teratur ditaburi bubuk tulang sapi dan pupuk kandang ayam. Daunnya pun disemprot pupuk NPK dengan perbandingan 12:42:12. Kelembapan dijaga dengan menaburkan jerami di seluruh bedengan selebar 5 m. Setiap hari, pagi dan sore, berwahana perahu Mothian bergantian dengan Chadchai menyiram seluruh bedengan dengan air dari parit. Penyiraman dilakukan dengan pompa yang dirancang khusus, sehingga tatkala perahu melaju, air secara otomatis terpompa ke atas dan membasahi bedengan yang dilewatinya.

Dompolan anggur berbentuk kerucut memanjang itu berisi buah-buah berukuran besar. Itu terjadi karena pada setiap dompolan dilakukan penjarangan sampai tersisa setengah dari buah yang ada. Penjarangan dilakukan ketika anggur berdiameter 5 mm. Dua minggu sebelum panen buah disemprot insektisida untuk mencegah serangan hama.

Selesai panen daun langsung dirompes. Sebenarnya setiap usai panen pun harus dilakukan pemangkasan. Namun, Monthian mengatakan, hanya ada 5 kali panen dalam 2 tahun. Itu berarti mereka menahan diri, hanya memangkas 5 kali dalam dua tahun. Dengan cara ini maka tanaman sempat beristirahat, tidak berbuah. Akibatnya, fisik tanaman terlihat sehat. Ditunjang pupuk memadai, maka imbalannya ialah dompolan-dompolan a-ngun yang memenuhi para-para. (Mitra)

Document Last Updated on 5 September 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.