Antara Surga dan Kurungan Burung

Seorang Sahabat Burung Indonesia (SBI), Hapsoro, protes keras atas perlombaan dan pameran ratusan burung dalam kurungan untuk merayakan hari lahir kota kecil kesayangannya. “Itu sungguh ironis dan bertentangan dengan upaya pelestarian lingkungan,” tandas gadis itu. Ia sangat cemas, kontes dan perdagangan burung berkicau memicu perburuan besar-besaran sehingga menghancurkan alam.

Hampir setiap bulan, di berbagai kota diselenggarakan kontes burung berkicau. Bogor, Tulungagung, Muaraenim, Prambanan, Klaten, dan kota kecil lain.
Bahkan, Palembang mempopulerkan diri sebagai tuan-rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), September  ini dengan melangsungkan kontes burung berkicau memperebutkan piala gubernur Sumatera Selatan.

Antara Surga dan Kurungan

Burung berkicau telah berabad-abad menjadi bagian dari masyarakat kita. Sebelum ada radio, televisi, VCD, DVD, film, dan kaset, burung telah dimohon atau dipaksa menyanyi untuk manusia. Karena itu jangan heran, pasar burung Ngasem di Yogyakarta, sudah boleh merayakan hari jadinya yang ke-200 tahun atau lebih. Pasalnya, dari awal abad ke-19, tepatnya 1809, sudah muncul litografi bagus yang melukiskan keramaian di pasar burung itu.

Selama ini dipahami pasar burung Ngasem adalah yang tertua dan terlengkap di tanah air kita. Sedangkan pasar burung Pramuka di Jakarta Timur yang terbesar. Seiring dengan itu, tentu ada buruknya. Di pasar burung, penangkar yang mulia harus berdampingan dengan penyelundup dan perusak alam. Mengapa? Sebab di pasar burung itu juga dijual terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, berbagai satwa lain yang nyaris punah. Karenanya jangan takut kalau ada mata-mata dari Direktorat Pelestarian Hutan dan Perlindungan Alam (PHPA).

Kenyataannya, bukan hanya burung langka seperti elang jawa, jalak bali, dan aneka paruh bengkok, tapi juga kukang, orangutan, dan macan sumatera. Yang penting ada uang. Satwa seunik apa pun, kabarnya bisa dicari. Itu bukan hanya di pasar burung besar seperti Pramuka, melainkan juga Barito, Kebayoran Baru (Jakarta Selatan), Karimata (Semarang), dan Sukahaji (Bandung). Di seluruh dunia, perdagangan satwa pada 2003 tercatat mencapai 8-miliar dolar, sepertiga di antaranya ilegal.

Jenis-jenis parrot, paruh bengkok, menduduki ranking pertama dalam penyelundupan maupun jual-beli burung berkicau. Lebih dari 500.000 ekor diperjualbelikan antamegara. Makanya, kita dapat melihat kakaktua warna-warni: biru, kuning, dan merah dengan ekor panjang maupun jambul indah, dipasarkan sampai Rp25-juta di pinggir jalan Barito.

Aviari dan bird farm

Bagi yang ingin membeli resmi dari Brazil, Kostarika, atau negara-negara Amerika Latin lain, perlu menyiapkan Rp75-juta untuk seekor, termasuk ongkos kirim dan asuransi. Jangan lupa, Anda perlu mempunyai aviari yang bagus dan sehat. Sejak dibangun dua aviari raksasa di Taman Mini Indonesia Indah, awal 1980-an, berbagai taman burung pun bermunculan. Rumah-rumah burung juga mendapat perhatian. Misalnya rumah-rumah burung mambruk (dara bermahkota) di Fort de Kock, Bukittinggi.

Kenyataan yang mengejutkan, berbagai burung dalam aviari ternyata cepat sekali berkembangbiak. Bahkan burung maleo dan cenderawasih pun mau bertelur, mengeram, dan menetaskan bayinya di Taman Burung, TMII. Taman Safari Indonesia di Cisarua, juga boleh dibilang sukses membudidayakan cenderawasih.

Semua burung kabarnya datang dari surga. Apalagi yang namanya sudah jelas-jelas bird of paradise”. Mereka hidup bebas, dan semestinya tidak dapat dinilai dengan uang. Jadi, sektor burung dalam agribisnis, hendaknya diberi catatan tegas: bukan mempromosikan perburuan, melainkan upaya pemuliaan. Bila kondisi alam semakin mengkhawatirkan, misalnya karena menyempitnya hutan, penangkaran atau pembiakan ex-situ menjadi alternatif yang harus diperhitungkan.

Oleh sebab itu, berkembanglah peternakan burung di berbagai tempat, khususnya Bandung, Malang, dan seperti yang diliput Trubus, Agustus 2004, di Palembang. Pada saat terjadi krisis, muncul perjuangan luar-biasa untuk memperbaiki keadaan. Misalnya seperti yang dilakukan Cuan Lie dengan membangun bunker-bunker burung dan hutan buatan. Seiring dengan itu, peternakan jangkrik dengan produksi minimal 5.000 ekor sehari, perlu dikembangkan.

Masalahnya, bagaimana menghitung peran agribisnis burung berkicau dalam konteks perekonomian nasional. Kita mendengar ada perkutut laku sampai Rp300-juta atau lebih. Kita juga melihat daftar harga kenari, poksai, jalak, kepodang, gelatik, kutilang, dan murai di toko-toko burung. Bagaimana administrasi perpajakan dan pengelolaan dana untuk perlindungan, apalagi pengembangan burung itu? Setiap tahun sekitar 60.000 satwa (termasuk mamalia dan reptil) terdaftar sebagai komoditas ekspor.

Setiap jual-beli yang resmi, tentu ada hasil yang disisihkan untuk perlindungan dan pelestarian. Dalam era pasar bebas, transparansi dan akuntabilitas penting sekali. Kita tidak bisa membiarkan kebebasan berlangsung dalam kegelapan. Justru karena bebas itulah, semua harus dihitung dengan benardan dipertanggungjawabkan. Di atas semuanya, harus bersih dari unsur-unsur pencurian, penyelundupan, dan penggelapan.

Maka, sekecil atau sebesar apapun, kontribusi pasar burung menjadi penting. Produk-produk turunan burung juga perlu perhatian dan pengembangan. Sangkar, pakan burung, asesori, buku-buku, dan VCD petunjuk penangkaran, juga menyumbangkan angka yang signifikan dalam bisnis dan industri. Kalau benar bahwa burung menjadi tradisi dan bagian dari sejarah yang tak terpisahkan, hitungan ekonominya harus jelas baik sekarang, maupun di masa datang.

Populasi burung perkapita

Semua orang bisa mencintai dan melindungi burung. Pertama kali, pada 1958—1959 saya punya burung betet. Tinggal di tepi hutan jati, bagian barat Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mendapat burung adalah hal biasa. Betet itu jinak dan tidak pernah tidur dalam sangkar. Ia punya tempat hinggap di teritis dapur. Kalau mau makan, ia pasti pulang. Selebihnya beterbangan di pekarangan dan rumah-rumah tetangga. Sedihnya, pada suatu saat si betet terjungkir masuk ke sebuah bumbung pagar mati. Itulah bahayanya terbang sendiri.

Sangkar, betapa pun buruknya, masih sering berguna sebagai alat memperpanjang umur burung-burung kesayangan. Pertanyaan paling mendasar untuk setiap penyayang burung di seluruh dunia adalah: berapa jam Anda bicara dengan burung-burung itu setiap hari? Kita melihat pola hubungan manusia dengan hobi masing-masing ikut membentuk relasi masyarakat, menciptakan tradisi, dan ikut menentukan corak kebudayaan. Burung berkicau, berikut aspek positif dan negatifnya, tidak lepas dari hal itu.

Hapsoro, aktifis dari Sahabat Burung Indonesia, termasuk sedikit perempuan Indonesia yang punya semangat tinggi dalam membela burung. Saya ikut mendukungnya ketika berkampanye melestarikan dataran tinggi Dieng, yang terkenal akan flora dan fauna langka. Pada 2000-an BirdLife meminta perhatian agar masyarakat melindungi dan mencintai burung-burung di sana. Di antara yang paling rentan dan perlu perlindungan adalah elang jawa.

cucakrawa, poksai, dan beo. Namun, bagaimana hal itu terjadi selama kiat-kiat berburu burung terus digalakkan. Belakangan ini kita mendengar tiga cara utama dikembangkan untuk memburu cucak biru (blue fairy) yang sedang naik daun. Di hutan-hutan sekitar Lampung, cucak biru didapat melalui jebakan, jeratan, dan dipaser atau dipanah.

Hal-hal seperti itulah yang melukai hati Hapsoro dan membuatnya marah. Setiap pameran dan kontes burung, selalu mendorong perburuan. Pada Agustus 2004, pameran dan kontes diadakan di berbagai kota. Mulai dari pelataran candi Prambanan, hingga lapangan sebuah SD Negeri di Muaraenim. Demikian pula di luar negeri. Amerika punya agenda mingguan eksibisi burung dari kota ke kota. Puncaknya adalah Bird Mart bertaraf nasional di Virginia, Oktober mendatang.

Dalam setiap eksibisi, paruh bengkok alias parrot hampir selalu mendominasi pasar burung eksotik, sekaligus burung berkicau. Berbagai jenis bayan inilah yang sejak dulu menemani manusia meneruskan dongeng dan membuktikan, burung bisa berdoa. Tidak berlebihan kalau bangsa pencinta burung seperti Indonesia, kembali memperkuat masyarakat perburungan. Masih ingat H Kamil Oesman, Presiden Masyarakat Burung Indonesia di tahun 1970-an? Dialah yang berhasil memperjuangkan berlakunya peraturan agar kontes burung hanya diikuti oleh hasil penangkaran.

Tidak boleh burung bebas dijerat, dijebak, dikurung, lalu diperlombakan untuk kepentingan manusia. Kecuali hasil penangkaran, seperti perkutut unggulan yang ditetaskan sendiri, dipelihara, dilatih dengan penuh kasih sayang, pantas dihargai, dan diberi hadiah bila menang dalam kompetisi. Masa depan burung berkicau tidak sepenuhnya di tangan manusia. Ada wabah flu burung yang memerlukan penelitian dan kewaspadaan. Namun ada juga hati nurani bersama, yang selalu menjaga agar kehidupan selalu dalam kebebasan antara surga dan kurungan. ***

Exit mobile version