Asparagus Unggul di Tangan Sorawut

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
panen asparagus

Wajar saja jika produksi Sorawut menjadi incaran eksportir. Tingkat keseragaman tinggi, sosok panjang, rebung renyah, manis, dan tak berserat. Inilah cara pekebun di Provinsi Rayong, 200 km dari Bangkok itu menangani rebung asparagus.

Hamparan kebun sayuran asparagus di Kabupaten Damnemsaduak, Provinsi Ratchaburi, Thailand itu tampak dominan. Lahan seluas 100 rai (16 ha) itu berciri khas produk organik.

Asparagus rayong demikian ia dikenal memang spesial. Walau ditanam di dataran rendah berketinggian di bawah 200 m dpi, tetapi bermutu tinggi. “Bentuknya lebih seragam, rasanya lebih renyah dan manis. Apalagi kalau ditumis,” tutur Sorawut, ketua kelompok tani di Damnemsaduak. Pantas jika produksinya menjadi incaran para eksportir. Setiap 2 hari eksportir menjemput hasil panen untuk memenuhi permintaan pasar Singapura.

Sejak 1991 Sorawut menggunakan bibit F1 hibrida produk Pacific Corporation Co. Ltd, sebuah perusahaan gabungan Jepang-Thailand. “Demi kualitas, selain bibit, penguasaan teknik pascapanen menjadi kunci jaminan kualitas,” ujar pria berusia 42 tahun itu. Pascapanen meliputi waktu dan cara panen, sortir, serta pengemasan.

Perlu Perawatan Yang ekstra

lahan asparagus
Perawatan Lahan penanaman asparagus

Pekebun asparagus dituntut berdisiplin tinggi. Pasalnya, sayuran rebung itu tidak boleh terlambat dipanen. Idealnya dipanen saat mahkota tunas masih kuncup, batang tunas lurus berwarna hijau muda, panjang sekitar 20 sampai 25 cm. Biasanya diameter tunas masih 1 sampai 2 cm.

Hindari salah potong atau mencabut ketika panen. Pekebun di Rayong menggunakan pisau khusus berbentuk bulan sabit panjang 15 cm. Lengkung bagian dalam | sangat tajam. Pisau dipegang di antara jari telunjuk dan jari tengah, lalu leher tunas dipotong sekaligus dengan sayatan serong 10 sampai 30°. Waktu paling ideal untuk panen pukul 06.00 sampai 07.00 pagi.

Di Rayong pekebun membudidayakan anggota Liliaceae itu di bedengan yang dikelilingi parit. Oleh karena itu panen dilakukan oleh 3 orang. Dua orang di bedengan, satu orang di atas perahu kayu yang terapung di parit. Setelah rebung dipotong oleh 2 pekeija lalu dimasukkan ke keranjang plastik segiempat 40 cm x 60 cm x 30 cm. Pekerja dalam perahu mengikat tiap 500 g dengan karet gelang lebar. Tidak boleh terlalu ketat dan posisinya hanya 8 sampai 10 cm di atas pangkal batang.

Seluruh permukaan keranjang sebelumnya telah diberi 2 sampai 3 alas plastik bening agak tebal. Ke-4 sisi plastik dijahit dengan rami menyatu dengan sisi keranjang. Itu untuk mencegah kulit tunas asparagus lecet.

Uniknya asparagus tidak dicuci, kotoran yang menempel lepas cukup dengan dikibaskan. Hasilnya asparagus tidak mudah busuk. Apalagi jika disimpan pada suhu 0 sampai 2 °C dan kelembapan 95 sampai 100%. Asparagus bisa tahan 2 sampai 3 minggu.

Dari lahan, sayuran berumah 2 itu dibawa ke gudang sortasi. Di atas meja kayu belapis perlak plastik, asparagus hasil panen dipilah sesuai kelas. Kelas A berpenampilan batang tunas lurus, mahkota masih kuncup, dan diameter pangkal batang maksimum 1.5 cm. Di luar kriteria itu masuk kelas BS.

Tenaga profesional cukup mengamati kondisi fisik tunas. Bagi pemula dapat memakai alat bantu berupa kotak seng 30 cm yang dilengkapi pisau di atasnya. Alat ini mampu memuat 500 g sekali potong. Hanya dalam tempo 3 jam, 2 supervisor dan 10 tenaga keija rampung menyortir 500 kg.

Kualitas asparagus

asparagus kelas satu
asparagus berkualitas

Rebung lolos sortir lalu diikat per 500 g, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang plastik dengan posisi berdiri. Kuncup mahkota tunas menghadap ke atas. Tiap keranjang ditimbang agar masing-masing berbobot 12 kg.

Kelas A untuk memasok eksportir dan pasar swalayan dijual seharga Baht 40/kg setara Rp9.000. Pasar tradisional menyerap kelas BS yang dibeli Baht 30/kg, setara Rp 6.750. “Kelas A sama sekali tidak berserat, renyah, ramping, manis, dan enak untuk ditumis setengah matang. Kelas BS seratnya masih lembut, renyah, agak besar, agak lentur tapi masih manis. Cocok untuk dimasak campur atau sup,” tutur Sorawut.

Wajar saja jika asparagus yang dihasilkan pekebun Rayong bermutu tinggi. Mereka menerapkan sistem budidaya yang intensif. Kerabat bawang merah itu ditanam di bedengan yang membentang arah utara selatan. Dengan demikian laju fotosintesis lebih maksimal. “Biaya produksi dan volume kerja menjadi lebih efisien dari persiapan lahan tanam sampai pemanenan,” tambah Sorawut.

Persiapan tanam dimulai setelah lahan berbentuk parit dan tegalan. Pengerjaannya cukup dilakukan oleh 2 orang untuk luasan 1,6 ha. Setelah ditaburi pupuk kandang, tanah diberakan. Penyiraman menggunakan perahu motor. Air tersembur setinggi satu meter ke kiri dan ke kanan saat perahu melaju di parit antara 2 baris petak bedengan. Perahu dayung dipakai saat panen saja.