Babak Baru Bisnis Rebung Tanah Air

“Saat ini kita masih kewalahan memenuhi permintaan Jakarta dan Surabaya,” jelas Tjondro, staf Misi Teknik Pertanian Taiwan (ROC sampai ATM). Dari permintaan 1 ton dalam seminggu, mereka baru bisa mencukupi separuhnya. Tak hanya kebutuhan lokal, …

“Saat ini kita masih kewalahan memenuhi permintaan Jakarta dan Surabaya,” jelas Tjondro, staf Misi Teknik Pertanian Taiwan (ROC sampai ATM). Dari permintaan 1 ton dalam seminggu, mereka baru bisa mencukupi separuhnya.

Tak hanya kebutuhan lokal, pasar ekspor pun masih menunggu. “Kita masih menerima berapa pun pasokan rebung segar,” tutur Elisa, bagian produksi PT Ini Pioner. Perusahaan pengalengan rebung bambu di Karawang itu kini sedang menggarap pasar Hongkong dan Taiwan.

Bisnis rebung bambu memang sudah lama digeluti. Mulai dari perusahaan besar hingga petani yang hanya menggantungkan dari hasil samping bambu. Melihat peluangnya yang masih cukup bagus, beberapa pengusaha kini menggelutinya secara serius.

Darwin, manajer kebun rebung bambu di Karawang adalah contohnya. Bersama dengan investor asal Taiwan, ia membuka lahan seluas 6 ha dari 13 ha total lahan sekitar awal 1996. Jenis bambu yang dikembangkan juga berbeda dengan lokal.

Jenisnya diambil dari jepang, yakni mabamboo dan green bamboo. Berbeda dengan bambu betung yang butuh waktu bertahun-tahun, kedua tanaman itu berumur genjah yaitu 8 bulan. Hasilnya pun termasuk produktif, 40kg/tahun setiap rumpunnya (berisi 3 sampai 4 batang).

Tahap Awal Mulai produksi

Lantaran kesulitan mendapatkan bibit, diperlukan waktu sekitar 2 tahun untuk pengembangan. Mereka harus membesarkan bibit asal setek dan memperbanyaknya.

Kini kebun yang berlokasi di Klari ini bisa memproduksi sekitar 1,2 ton sampai 1,4 ton setiap minggunya. “Panen bisa dilakukan 2 sampai 3 kali seminggu,” jelas Sugianto.

Hasil panennya langsung disetor ke pabrik untuk diolah lebih lanjut dan dikalengkan. “Mereka yang mengolah, mulai dari menguliti, membersihkan, memotong, dan sekaligus mengalengkan,” kata pria asal Madiun tersebut. Hasil kalengan langsung dikirim ke berbagai konsumen di luar negeri.

Tak hanya kebun Karawang, kebun bambu di Boyolali pun memasok pabrik itu. Kebun tersebut dibawah binaan Dinas Pertanian setempat dan ROC-ATM. Pengembangan daerah sebagai sentra rebung memang dipersiapkan untuk industri pengalengan sejak 1,5 tahun yang lalu.

“Tujuan utamanya adalah mendirikan pabrik prosesing dengan membidik pasar ekspor,” ucap Kung Chu Wu, expert ROC-ATM. Pasalnya Hongkong, Jepang, dan Amerika masih banyak memerlukan.

“Diharapkan setelah 3 tahun luasan areal penanaman sudah mencapai 50 ha sehingga dapat memasok pabrik secara kontinu,” tambah pria asal taiwan tersebut.

Budidaya Rebung Bambu Di luasan 20 ha, pekebun sebanyak 20 orang bisa memproduksi 500kg setiap minggunya. “Tiga kuintal dikirim ke Jakarta, sisanya ke Surabaya,” tutur Tjondro. Jumlah tersebut sebenarnya masih jauh dari kurang.

Untuk sementara target yang diminta pasar lokal sebanyak 1 ton per minggu. Perlahan tapi pasti Wu optimis bisa meningkatkan hasil. “Dengan makin mudahnya petani mendapatkan bibit, pengembangannya sekarang relatif lebih mudah,” tambahnya.

Hanya Mengembangkan Jenis Rebung Kualitas Unggul

Jenis yang dikembangkan memang tergolong baru. “Keistimewaan rebung ini adalah kualitas rebungnya,”papar Wu, saat ditemui mitra usaha tani. Keunggulan lainnya adalah tidak berserat. Sehingga amat cocok untuk bahan baku sayuran segar, acar, campuran isi lumpia semarang, dan rebung kering.

Untuk mabamboo bobot kotornya bisa mencapai 1 kg per rebung. Sesudah dikupas tinggal 850g. Sedangkan green bamboo ukurannya jauh lebih kecil. Bobot rata-rata rebung hanya 200g saja. Hingga produksinya lebih rendah.

Rasa kedua jenis bambu tersebut juga amat disenangi karena manis. Namun green bamboo relatif lebih manis ketimbang mabamboo. Faktor lingkungan pun berpengaruh. “Rebung yang tumbuh di sekitar Boyolali sekitar musim kemarau terasa sangat enak dan bercita rasa khas,” kata Wu.

Dalam satu hektar dibutuhkan bibit sebanyak 350 batang. Harga bibit berumur 1 tahun sekitar Rp 25.000/batang. Namun, “Petani tak perlu lagi membeli setelah menanamnya,” kata Tjondro.

Mereka tinggal mengambilnya dari kebun produksi. Dari hasil tersebut petani bisa memungut hasil setelah 8 bulan penanaman. Mutu A dengan bobot 1kg sampai 2kg, dan masa petik dibawah 5 hari dihargai Rp2.000/kg. Sedangkan mutu B dengan bobot 0,5kg sampai lkg bisa laku Rpl.000/kg.

Tak hanya itu, ROC-ATM sebagai penampung juga menerima bentuk awetan. “Produk awetan yang telah diolah kami terima dengan harga Rp3.000/250g,” kata Tjondro. Untuk menghasilkannya, rebung dikupas, dipotong persegi ukuran 3cm x 5cm, direbus dengan garam 18%.

Selanjutnya rebung didinginkan, dibungkus dalam plastik, dipress selama 2 minggu dan terakhir dikemas dalam plastik. Produk akhir ini ternyata cukup digemari. Tak heran bila ROC mengincar untuk menghasilkan olahan tersebut.

Document Last Updated on 10 November 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.