Bangkitnya sang Naga yang Tertidur

Avatar
  • Whatsapp
Pemetikan buah naga
Pemetikan buah naga, 30 hari dari sejak bunga

Puluhan buah bersurai hijau masih menggelayuti sulur-sulur dragon fruit saat Trubus berkunjung pada akhir Desember silam. Seminggu sebelumnya, buah-buah berwarna merah mendominasi. Ya, buah naga di Rembangan, Jember, itu memang sedang berada dalam masa panen. Trubus sempat mencicipi sebuah yang matang. Menilik rupanya ia termasuk Hylocereus undatus. Kulit merah bersurai hijau. Begitu dibelah terlihat daging putih dihiasi biji-biji hitam. Rasanya manis asam menyegarkan dan berair banyak.

Jenis itu memang paling banyak ditanam di Indonesia. Buah naga dari berbagai kebun terutama dari Jatim itu dijajakan di pasar-pasar swalayan. Jenis lain buah naga merah berdaging merah yang Trubus pernah lihat di Cina. Di Indonesia ia sudah dikembangkan Vincent Edi Yasin, di Jombang. Di kebun Jolo Sutro Nusantoro di Pasuruan juga ada. Yang belum terlihat hadir di kebun dan pasar swalayan, kerabat dragonn fruit yang disebut pitaya.

Bacaan Lainnya

Pitaya berkulit kuning dan putih paling banyak dibudidayakan di Israel. Di Indonesia ia masih sebatas tanaman koleksi di kebun Jack Craig di Wonosobo. Padahal dari segi rasa ia paling manis.

Pemangkasan dan pupuk

Panen dragon fruit di kebun percontohan Pemerintah Daerah Jember itu semula hanya impian. Bagaimana tidak, tanaman seperti hidup segan, mati pun tak mau. Batang pokok setinggi 170 cm ditumbuhi banyak cabang dan sulur-sulur tumbuh tak beraturan. Sulur produktif yang diharapkan menghasilkan bunga dan buah malah memunculkan sulur baru.

Berbagai cara dicoba akhirnya pengelola angkat tangan. Buah yang ditunggu tak kunjung muncul. Mau tak mau harus didatangkan “dokter” ahli. PT Jolo Sutro Nusantoro yang memang pioner dalam penanaman dragon fruit diundang. Sapta Surya, pemilik perusahaan itu, langsung menerjunkan orang-orangnya untuk mendiagnosis kondisi lahan dan tanaman. Batang pokok dibersihkan dari cabang yang tak beraturan. Cabang siap produksi dipelihara; tidak produktif dibuang. Sulur kurang dari 80 cm tak boleh dibiarkan bertunas.

Dua puluh kilogram pupuk kandang langsung dibenamkan 2 kali sebulan per “rumpun” terdiri dari 4 tanaman yang disangga 1 tiang. Pupuk daun berkadar P dan K tinggi disemprotkan 3 hari sekali ke seluruh permukaan tanaman. Dosisnya 150 cc dilarutkan dalam 12 1 air, cukup untuk 200 tiang. “Pemangkasan mencegah pertumbuhan vegetatif. Hara P dan K merangsang bunga dan buah,” kata Supamo, staf agronomis perusahaan itu. Unsur hara itu diberikan lantaran tanaman memang sudah memasuki umur produktif.

Cabang-cabang pohon angsana yang jadi tiang penyangga pun dipangkas untuk menghidari kompetisi penyerapan hara. Penyiraman diintensifkan pagi dan sore. Total jendral setiap tanaman mendapatkan 3 sampai 5 liter air per hari. Perlakuan itu memicu 9.356 naga di lahan seluas 2 ha memunculkan bunga.

Bibit pendek

kebun buah naga
Andalkan air kolam untuk penyiraman

Menurut Suparno, pertumbuhan tanaman di sana tergolong lambat. Mestinya, pada masa pertumbuhan panjang sulur bertambah rata-rata 2 cm/ hari. Yang terjadi kurang dari 0,7 cm. Penyebabnya, bibit terlalu pendek, hanya berukuran 20 sampai 30 cm dan akar sedikit. Idealnya panjang bibit 50 sampai 60 cm dengan perakaran lebat.

Kerabat kaktus kaktusan yang ditanam di lahan dengan kemiringan 30° itu bertambah merana karena pengairan dan pemupukan tidak cukup. Lahan itu hanya disiram 3 hari dalam seminggu. Soalnya sumber air tergantung pada air “limpahan” kolam renang di bagian atas lahan. Pupuk kandang hanya dibenamkan 15 kg per tiang, setiap 6 bulan.

Pertumbuhan akar-akar udara lambat, karena pengikatan batang pokok pada tiang keliru. Akibatnya mata-mata tunas enggan tumbuh. Mestinya permukaan batang yang lebih lebar ditempelkan pada tiang.

Kondisi iklim juga mempengaruhi mandegnya pertumbuhan. Di lahan perbukitan berketinggian 500 m dpi itu cahaya matahari sulit didapat karena cuaca sering mendung dan berkabut. Pengaruhnya sangat kuat, antara lain kematangan buah lebih lama 5 hari dan rasa agak masam. Kebun PT Jolo Sutro Nusantoro di Pohgading, Pasuruan, berada pada ketinggian 199 m dpi sudah bisa dipanen 1 bulan setelah penyerbukan. Toh, lokasi berjarak 15 km dari pusat kota Jember itu masih sesuai untuk dragon fruit. Hanya saja butuh perhatian ekstra, misal tajuk pohon penyangga rutin dipangkas, agar cahaya matahari masuk.

Kebun wisata

Kini Pemerintah Daerah Jember boleh bergembira. Buah surga itu diharapkan jadi komoditas alternatif selain tembakau, kakao, dan kopi yang harganya fluktuatif. Harga dragon fruit yang tinggi diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan daerah. Menurut Dr Soeryo Rihandono, dari PT Jolo Sutro Nusantoro, di tingkat pekebun buah naga dijual Rp20.000 per kg. Di pasar swalayan harga menjadi Rp35.000.

Apalagi lokasi kebun sangat strategis berada di jalur wisata perbukitan Rembangan, sehingga cocok dijadikan wahana agrowisata. Pengunjung kolam renang dan vila di puncak bukit leluasa melihat bunga dan buah bergelayut di sulur dragon fruit. Meski belum dibuka resmi, beberapa orang sudah ke sana sekadar ingin tahu sosok buah naga dan cara penanamannya. Muklis Anas manajer kebun dan staf menemani tamu-tamu itu. Panen naga perdana ini diharapkan masih bisa dinikmati hingga Maret mendatang.

Pos terkait