Bedah Plastik Wajah Buah Nasional

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Pada periode 1996—2000, impor jeruk, apel, dan anggur rata-rata berturut turut mencapai 43.341 ton, 35.857 ton, dan 28.852 ton per tahun. Jumlah itu senilai Rp450-miliar per tahun, setara 40% nilai total buah segar Indonesia. Itu belum termasuk lengkeng dan durian dari Thailand yang secara periodik hadir di beberapa pasar swalayan.

Kondisi itu mengindikasikan, produsen buah nasional tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang menuntut segera dilakukan penataan kembali sistem perbuahan di tanah air. Di sisi lain, maraknya buah impor pertanda Indonesia sebagai pasar potensial.

Bacaan Lainnya

Potret buah nasional

Sentra produksi buah di Indonesia belum berskala ekonomis, tetapi berupa kantong-kantong produksi sempit dan terpencar di suatu kawasan. Seringkali beragam tanaman dengan kebutuhan agroklimat sama ditanam bercampur baur.

Pekebun pun belum memperlakukan buah sebagai tanaman pokok. Oleh karena itu, tidak ada pemeliharaan optimal. Tanaman seringkali diserahkan sepenuhnya kepada kemurahan alam.

Bibit berasal dari biji. Dengan perbanyakan vegetatif pun sering tidak menggunakan entres asal induk tunggal. Akibatnya kualitas buah sangat beragam. Kerap terdengar eksportir mengeluh,hanya untuk mengisi 1 kontainer mangga arumanis bermutu ekspor dari kebun rakyat, diperlukan waktu seminggu.

Sampai kini, banyak varietas unggul durian dilepas oleh Menteri Petanian. Namun, pasar masih menyajikan beragam jenis berkualitas rendah. Sementara, monthong asal Thailand lambat tapi pasti ’’menguasai” pasar-pasar swalayan di tanah air.

Kasus serupa terjadi pada lengkeng. Bahkan alpukat asal Australia seharga Rp30.000 per kg tetap laku di Jakarta dan kota-kota besar lain. Seolah tidak ada alpukat lokal berkualitas.

Permasalahan utama

Ada 6 permasalahan utama yang dihadapi perbuahan nasional. Yaitu, terlalu banyaknya varietas yang dikembangkan, belum ada sentra produksi berupa hamparan berskala ekonomis, pengelolaan kebun yang sederhana dan beragam. Penanganan pascapanen sekadarnya, sistem pemasaran yang sering tidak berpihak kepada pekebun, dan lemahnya kelembagaan petani.

Keenam masalah itu berkaitan dan secara simultan menyebabkan teknologi anjuran yang tersedia sulit diterapkan dengan utuh dan benar. Akhirnya produk yang dihasilkan sangat beragam, berkualitas rendah, sulit menembus segmen pasar menengah-atas, dan menciptakan kesan sistem perbuahan nasional ruwet dan tidak efisien.

Di sisi lain, buah impor tanpa hambatan berarti memasuki pasar dalam negeri. Konsumen begitu mudah terpesona dan mengagumi buah-buah impor. Wajar,selain bisa meningkatkan gengsi pembelinya, harus diakui buah impor selalu tampil memikat. Padahal sebagian di antaranya telah disimpan lama, bahkan terkadang bukan buah berkelas prima.

Itulah selera! Selera konsumen dalam negeri saat ini lebih mementingkan penampilan dibandingkan kualitas rasa. Akibatnya sia-sia meyakinkan masyarakat bahwa buah lokal lebih enak walaupun berpenampilan kurang menarik. Hal penting lain, standarisasi mutu buah nasional sulit diimplementasikan. Selain piranti belum memadai, buah yang dihasilkan pun sangat beragam dan bermutu rendah.

Terobosan yang harus dilakukan: kita harus segera membedah dan menata kembali sistem perbuahan nasional. Tujuannya agar sentra-sentra produksi mampu menghasilkan buah hanya dari varietas yang benar-benar unggul. Itu didukung pekebun yang berperilaku dan berbudaya hanya menghasilkan buah bermutu prima.

Untul itu perlu rasionalisasi jumlah varietas dan pengembangan agribisnis buah berdasarkan pola 4 K. Klonalisasi varietas, kolonisasi lahan, konsolidasi pengelolaan kebun, dan kelembagaan petani yang kuat.

Keberhasilannya tergantung pada keseriusan instansi terkait dalam melaksanakan program ini secara massal dan nasional.

Masih Terasa Asing

Hingga 2001 Menteri Pertanian telah melepas sekitar 146 varietas buah unggul nasional, antara lain 40 durian, mangga (9), rambutan (12), salak (9), jeruk (18), dan apel (2). Sekadar menyebut contoh, durian sunan, petruk, mas, sijapang, sawerigading, tembaga, asoe kaya, mansau, matahari, bantal mas, dan takada 02.

Nama-nama tersebut barangkali kedengaran asing bagi masyarakat, kecuali sebagian penggemar berat durian. Kondisi itu sangat berbeda dengan monthong yang diakrabi konsumen menengah-atas di kota-kota besar di Indonesia. Masalahnya sekarang, masih adakah pohon-pohon induk buah-buahan itu? Jika ada, di mana? Apa yang salah dengan varietas unggul buah nasional kita?

Apakah kurang promosi? Atau mungkin tidak ada yang berani mempromosikan, karena selain alasan mutu buah jelek, ketersediaannya sangat terbatas.

Lalu, apa yang harus dilakukan dengan varietas unggul yang telanjur banyak? Salah satu alternatif adalah memilih 2—3 jenis paling unggul melalui kontes buah. Pemenangnya lantas diberi nama baru yang lebih komersial dan mengglobal. Misal, untuk kelompok durian dari Jawa, diberi nama durian java, atau durian bomeo untuk pemenang asal Kalimantan. Durian java dikembangkan di Sumatera Utara atau Sulawesi Selatan jika tuntutan agroklimatnya dapat dipenuhi berdasarkan peta kesesuaian lahan. Artinya, sentra produksinya dijumpai di seluruh Indonesia sehingga pemenuhan kebutuhan konsumen dalam dan luar negeri tidak harus dari Jawa.

4 langkah

Untuk itu perlu dilakukan klonalisasi varietas di sentra produksi kebun rakyat. Maksudnya, jenis buah di sentra produksi atau kawasan pengembangan tertentu diganti dengan satu varietas unggul nasional hasil rasionalisasi. Yang ditanam bibit hasil perbanyakan vegetatif dari turunan pohon induk tunggal varietas unggul nasional yang telah ditentukan Dalam mengganti varietas tak harus menebang pohon lama, baru menanam varietas baru. Itu memakan waktu lama. Jangan-jangan ketika buah dituai, selera konsumen sudah berubah. Cara jitu yang dipilih ialah dengan melakukan top working atau penyambungan pohon dewasa.

Langkah berikutnya ialah klonalisasi lahan. Untuk mendekatkan kantong-kantong produksi yang sempit dan terpencar. Yaitu dengan menanam bibit hasil perbanyakan klonal tunggal di antara kantong-kantong produksi. Untuk itu perlu dibuat peta kesesuaian lahan agar pengembangan daerah sentra produksi tidak keluar dari zona agroklimat untuk komoditas itu.

Klonalisasi varietas dan lahan akan sia-sia bila pengelolaan oleh masing-masing pekebun dan kelompok tani berbeda. Akibatnya kualitas buah yang dihasilkan beragam. Dengan konsolidasi, penerapan teknologi anjuran lebih mudah diterapkan.

Oleh karena itu, keberadaan kelompok tani sangat penting. Seiring dengan berkembangnya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kelompok tani perlti dihimpun dalam wadah seperti asosiasi, koperasi, atau yayasan. Kebutuhan itu meliputi ketersediaan sarana produksi, sistem pemasaran yang lebih adil dan berpihak kepada pekebun, kemudahan mendapatkan modal, pemenuhan kebutuhan teknologi lebih maju atau kemudahan akses informasi penting.

Pasca klonalisasi

Bila proses itu berjalan lancar, dalam 2—3 tahun kawasan sentra produksi yang terpecah-pecah berubah menjadi wilayah pengembangan berskala ekonomis yang lebih utuh. Dengan varietas seragam, dan dikelola dengan menerapkan teknologi anjuran spesifik lokasi, buah yang dihasilkan berkualitas baik dan seragam. Saat itulah rumah pengemasan dibangun di lokasi strategis. Industri rumah tangga produk olahan seperti sari buah, manisan, dodol atau produk lainnya pun potensial berkembang.

Kelancaran pemasaran memacu

pekebun untuk mengelola kebun lebih baik. Sistem pengkelasan yang diterapkan rumah pengemasan menjadi acuan bagi kelompok tani untuk menghasilkan buah bermutu. Itu semua demi mewujudkan agribisnis buah di kawasan sentra produksi yang berkelanjutan, kompetitif, dan berkerakyatan.

Pos terkait