Bila Juragan Valas Kepincut Euphorbia

Mata Kang Chien Chung tak lepas menatap pergerakan angka di lapar komputer. Sesekali mimik wajahnya menegang berharap NT$ menguat. Rutinitas Kang di kantor terus berlanjut sesampainya di rumah di jantung kota Kaohsiung, Taiwan. Ia langsung menuju dak di lantai 6, tempat menyimpan euphorbia. Harap-harap cemas diamati satu per satu deretan euphorbia berumur 3 bulan. Raut mukanya seketika berbinar bak memenangkan pertaruhan kala menemukan bunga baru nan cantik.

Euphorbia hasil perbanyakan biji itu kemudian dipisahkan dari tanaman lain. Kang menyediakan petak khusus berukuran 1 m x 1 m untuk delapan dewa yang lolos seleksi. Puas di tempat persemaian, Kang beralih ke sudut lain sekadar memeriksa kondisi tanaman. Sesekali tangannya memangkas cabang-cabang yang tidak beraturan. Hampir 1,5 jam ayah 2 anak itu asyik berkutat dengan euphorbia kesayangannya.

Esok paginya pukul 05.00, mengenakan celana pendek dan kaos oblong, juragan valas itu bergegas ke kebun kecil di lantai 6. Satu demi satu tanaman diperiksa, siapa tahu ada yang mengeluarkan biji. Setiap pagi penggemar komputer itu rutin mengumpulkan biji. “Jika tidak dipetik pagi hari biji ini akan menghilang karena pecah,” ujarnya. Biji-biji itu kemudian disimpan di dalam kotak berdasarkan nama tanaman. Jika sudah mengering biji disemai di atas media pasir di dalam boks styrofoam. “Tunggu 3 bulan lagi biji ini akan berubah menjadi tanaman baru nan cantik,” harap pria berkulit putih itu.

Giat berburu euphorbia Langka


Bagi pemilik Sino Pac Company itu, euphorbia bunga yang menakjubkan. “Ia tidak berhenti berbunga sepanjang tahun, bahkan di musim dingin,” ucap Kang. Itu sebabnya ia tak henti-hentinya mengumpulkan tanaman berjuluk crown of thorn. Kini ada lebih dari 10.000 tanaman menghampar di kebun seluas 500 m2. Saat Trubus berkunjung ke sana awal Oktober, tampak seluruh tanaman memameirkan bunga berwama-wami.

Kebun tampak rapi meski populasinya padat. Tanaman besar setinggi 50 cm diwadahi pot plastik diletakkan di sudut kebipl dekat pintu masuk. Sementara tanaman kecil dan jenis-jenis baru dimasukkan dalam polybag dan ditata berderet mengelilingi dak. Tak ada jaring penaung yang memayungi tanaman. Maklum, “Tanaman ini tahan banting di segala cuaca,” tuturnya. Yang menarik, saat berada di kebun Trubus disuguhi pemandangan gedung-gedung bertingkat dan pegunungan.

Koleksi alumnus Chinese Cultur University itu didominasi euphorbia mini. Misalnya somonas, small word, denmark hybrid, dan dwarf apache. Penampilannya sungguh mempesona, kompak, berduri lunak, dan eksotik. Koleksi lain hasil perbanyakan biji juga tak kalah cantik. Justru dari biji banyak muncul euphorbia unik seperti tanpa duri dan kristata.

Untuk melengkapi koleksinya Kang giat berburu hingga ke pelosok mancanegara. Australia, Denmark, Jepang, dan Kanada merupakan tempat perburuan favorit Kang. Musababnya, di sana surganya euphorbia mini. Kang juga getol menyilang-nyilangkan untuk mendapatkan jenis baru. Ia banyak memanfaatkan small word sebagai indukan karena sosoknya rimbun. Hasilnya silangan Kang tampil memikat. Lihat saja si mini berwarna putih dengan tepi merah muda.

Jadi bisnis


Kang bukan pemain baru famili Euphorbiaceae. Hampir 10 tahun ia berkutat di euphorbia. Itu bermula dari pameran tanaman hias di Australia. Begitu melihat small word pria berusia 37 tahun itu langsung jatuh hati. Ia pun memboyong beberapa tanaman ke Kaohsiung. Perkenalannya dengan somonas di Jerman makin mengokohkan minat Kang menggeluti chin lin hwa—sebutannya di Taiwan. Empat ratus begonia dan portulaca yang dikumpulkan sejak kuliah pun disingkirkan.

Dulu Kang juga mengoleksi euphorbia dari Thailand. Namun, karena sosoknya cenderung nglancir ia menyingkirkan tanaman-tanaman itu. Menurutnya, euphorbia tak hanya cantik bunganya, tapi juga penampilan keseluruhan. Tajuk rimbun, kompak, berduri lunak, dan bunga muncul di atas.

Pantas selain berfungsi sebagai pot plant, kerabat kaktus-kaktusan itu juga bisa dipakai di landscape.

Fungsi ganda itu yang membuat Kang tertarik untuk membisniskan euphorbia. Bersama rekannya ia kini tengah mempersiapkan kebun di pinggir Kaohsiung. Tak tanggung-tanggung Kang membuka lahan seluas 3 ha. Ia optimis euphorbia punya pasar di landscape. Itu dibuktikan banyak importir dari Jepang dan Australia tertarik dengan hasil silangannya. Namun, Kang enggan melepas meski ditawar dengan harga tinggi.

Rawat sendiri


Kang tak sekadar menikmati keindahan bunga-bunga itu. Semua tanaman itu dirawat sendiri. “Ada kenikmatan tersendiri melihat perkembanagan tanaman,” ucap pria berpostur tinggi besar itu. Tak heran jika semua koleksinya tampil prima. Pujian meluncur dari rekan-rekan bisnisnya setiap melihat kebun mungil itu.

Supaya tanaman terjaga baik, perawatannya harus intensif. Penyiraman cukup dilakukan 2 hari sekali karena tanaman ini kurang suka air. Untuk pupuk Kang menggunakan pupuk organik dan guano. Ia memang menghindari pemberian bahan-bahan kimia pada tanamannya. Pestisida pun tak pernah disemprotkan. Toh, tanaman tumbuh subur dan kuat di segala cuaca.

Exit mobile version