Bisnis Sayuran Tuntutan Zaman

Itulah impian sampai terutama kaum perempuan yang sibuk. Impian itu tahun ini mungkin bakal terwujud. PT Saung Mirwan, produsen sayuran eksklusif, tengah mempersiapkan produk baru itu. Sejak akhir 2003 perusahaan di Bogor, Jawa Barat, itu merintis pasar dengan produk fresh cut. Intinya, sayuran dipotong-potong sesuai peruntukan, cuci bersih, dan dikemas.

Pemotongan sayuran tertentu seperti wortel terdiri atas 3 bentuk tergantung pemanfaatan akhir. Bundar untuk sup, melintang untuk capcay, atau berbentuk seperti lidi untuk salad. “Konsumen tinggal pilih dan siap masak,” ujar Manajer Pemasaran Saung Mirwan Hugo Ari Soekarno. Total jenderal ada 15 macam seperti wortel, kembang kol, brokoli, buncis, bawang bombay, dan bawang merah. Bobot kemasan 200 sampai 250 g.

Bacaan Lainnya

Semula ketika produk dilempar di pasaran, tanggapan konsumen kurang menggembirakan. Ari sampai sapaan Hugo Ari Soekarno sampai menduga masyarakat belum familiar. Suhu ruang tempat memajang fresh cut juga tak stabil pada angka 4°C sehingga sayuran mudah rusak. Ari tak patah arang menghadapi kondisi itu. Ia mengirim orang khusus yang ditempatkan di gerai-gerai pasar swalayan. Di sana tugasnya menjelaskan kelebihan sayuran siap masak itu kepada konsumen.

Perlakuan khusus

Upaya Ari diimbangi dengan menstabilkan suhu tempat sayuran dipajang. Hasilnya, luar biasa. Permintaan mengalir deras sampai-sampai Saung Mirwan kelimpungan. Produk fresh cut keluaran PT Saung Mirwan terdapat di beberapa pasar swalayan seperti Carrefour dengan volume pengiriman sekitar 60 pak sehari. PT Matahari Putra Prima pengelola pasar swalayan Matahari dan Hero juga meminta pasokan. Perusahaan yang didirikan oleh Theo Hadinata itu membandrol Rp4.500 per kemasan.

Selain itu PT San Miguel Purefood minta pasokan fresh cut bawang bombay dan daun bawang. Masing-masing 100 kg per pekan. Belum lagi restoran cepat saji Mc Donald yang rutin dipasok lettuce, bawang daun, dan paprika masing-masing 1 ton, seledri dan bawang daun 250 kg-semua per pekan. Itu bukan sekadar permintaan,tetapi sudah dilakukan oleh Saung Mirwan. Dari Lampung, Philip memesan 3,3 ton fresh cut kol dan wortel untuk sekali kirim. Menurut Hugo Ari Soekarno, frekuensi pengiriman sebulan sekali. Perusahaan

itu juga meminta fresh cut daun bawang, bawang merah, dan bawang putih. Sayang, lantaran besarnya volume, belum mampu dilayani. Permintaan dari perusahaan lain terus berdatangan dan belum mampu terpenuhi.

Itu indikasi sayuran fresh cut yang praktis mulai diterima masyarakat. Saung Mirwan bukan satu-satunya perusahaan yang mengendus peluang bisnis fresh cut. PT Mitratani 27 di Jember, Jawa Timur, malah lebih dulu berniaga produk sejenis. Mitratani lebih berkonsentrasi pada mix vegetables. Yang dimaksud mix vegetables adalah beragam bahan baku untuk membuat menu tertentu yang siap olah dan dalam kemasan. Dua jenis mix vegetables yang disiapkan Mitratani adalah sayur asam dan gudeg alias sayur nangka muda.

Namun, jangan harap menemukan produk keluaran Mitratani 27 di pasar swalayan. Sebab, ia hanya melayani perusahaan-perusahaan tertentu. Contoh, pengiriman untuk PT Freeport Indonesia di Papua rata-rata 200 ton per tahun. Bagi Freeport Indonesia yang berlokasi Timika, pasokan mix vegetables amat penting. Sebab, tak mudah mencari sayur-mayur di sana.

Pemasaran ke Mancanegara

Tak hanya pasar lokal yang bergairah menanti pasokan, tetapi juga pasar ekspor. PT Agroindo Usahajaya rata-rata memasok 72 sampai 200 kg sekali kirim ke Arab Saudi. Artinya, volume ekspor itu terdiri atas 144 sampai 400 piring yang masing-masing berbobot 0,5 kg. Frekuensi ekspor sekali sepekan, tiap Rabu. Agroindo mengkhususkan diri pada jenis sayur asam yang dikemas di atas styrofoam (baca: Dari Betawi ke Negeri Petrodolar, halaman 96-97).

Permintaan meningkat 20 sampai 30% menjelang puasa Ramadhan hingga pascaidul Adha seperti sekarang ini. Total durasi mencapai 4 bulan. Maklum, jemaah haji Indonesia  salah satu konsumen di sana terbesar di dunia. “Otomatis kebutuhan logistik juga besar,” ujar Manajer Ekspor Agroindo Husin Abdullah. Wajar jika banyak eksportir mengatakan, prospek mix vegetables sangat bagus.

Belum lagi banyaknya bedinde alias tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah merupakan pasar empuk. Agroindo Usahajaya pun mengekspor sayuran serupa ke Belanda dan Perancis. Volume masing-masing sekitar seperempat dari pengiriman ke Arab Saudi. Lonjakan permintaan Belanda dan Perancis mencapai 20% pada Oktober sampai Desember. Di samping Agroindo, pendulang dinar mix vegetables adalah PT Alindo dan PT Masindo Mitra Mandiri, keduanya di Jakarta.

Terkendala transportasi

Biaya produksi satu kemasan sayur asam berbobot 0,5 kg sekitar Rp5.800. Ketimbang biaya transpor yang mencapai Rp20.000 per kg biaya produksi itu relatif kecil. Itu meliputi biaya penerbangan US$l,60 (setara Rp 14.720), sewa gudang di bandara US$0,05. “Yang dinamakan sewa itu hanya melewati saja,” katanya. Harus diingat semua biaya itu per kg kotor, padahal eksportir menjualnya dalam bobot bersih. Oleh karena itu biasanya eksportir mengalikan lebih dulu dengan 20%.

Jadi, untuk biaya penerbangan menjadi Rp 17.664 per kg. Di luar itu masih ada handling fee dan pengemasan ,mencapai US$0,5 perkg.Sejak September 2004 setiap eksportir dikenakan biaya input data Rp 100.000 per dokumen. Seluruh biaya itu kemudian ditagihkan kepada importir. Wajar jika harga 0,5 kg sayur asam mencapai hampir Rp30.000. Menurut Husein, laba bersih dikutip 10%. Tentu saja di Arab Saudi harganya jauh lebih tinggi.

Menurut Husin masa puncak permintaan mix vegetables sudah menjadi rahasia umum maskapai penerbangan tujuan Riyadh, Amsterdam, dan Paris. Dampanya, mereka kerap memanfaatkan kondisi itu dengan mengatakan tak ada ruang untuk pengangkutan mix vegetables. Yang sebenarnya terjadi, mereka ingin menaikkan tarif. “Maskapai asing juga begitu karena yang memegang operasional kan orang kita,” katanya.

Saat banyak permintaan kadang sulit memperoleh jasa kargo. Dua tahun lalu, contohnya, kargo Garuda dan Assaudi 2 maskapai langganan Agroindo selalu penuh. Apa boleh buat, Agroindo lalu menggunakan jasa maskapai lain. Sayangnya, maskapai itu transit dan berganti pesawat beberapa kali sebelum tiba di Arab Saudi. Dampaknya, “Kualitas menurun 40%,” kata Husin.

Banyak orang beranggapan, bahan fresh cut dan mix vegetables merupakan sayuran kelas dua. Padahal produsen memanfaatkan sayuran terbaik. Wajar jika rendemennya hanya 60%. Karena tak menghasilkan sampah, sehingga dibutuhkan bahan baku lebih banyak. Itu memang masih menjadi hambatan lantaran kadang konsumen menuntut keseragaman. Contoh, diameter umbi wortel harus 3 cm. Tentu agak sulit memenuhi permintaan itu lantaran komoditas pertanian bukan dicetak pabrik.

Produsen yang dihubungi menuturkan prospek mix vegetables amat cerah baik untuk mengisi pasar lokal maupun ekspor. Manusia yang hidup di abad modern memang dituntut untuk cepat, praktis, dan higienis. Itu dapat dipenuhi oleh fresh cut dan mix vegetables. Keduanya menjadi sayuran tuntutan zaman.

Pos terkait