Rabu, Oktober 20, 2021
Beranda blog

Pasar Butuh Minyak Daun Cengkih

0

Pasar dunia butuh sedikitnya 2.500 ton untuk bahan baku obat dan pewangi per tahun. Indonesia termasuk pemasok utama bersama Madagaskar dengan pangsa sekitar 1.000 sampai 1.500 ton/tahun.

Ini sebuah peluang. Sebab, dengan harga jual Rp40.000/kg dan kapasitas produksi 45 kg/ hari, penyuling bisa meraup keuntungan Rp10-juta/bulan. Sayangnya, bahan baku makin langka.

Menurut TR Manurung, Ketua Asosiasi Pemasaran Minyak Asiri Indonesia, sejak era BPPC pasokan minyak cengkih Indonesia ke pasar dunia terus turun. “Separuh pangsa pasar pun bakal tak sanggup kita penuhi,” papar TR Manurung.

Bahkan sejak 1996 data ekspor minyak daun cengkih tidak tercantum lagi dalam buku Statistik Perdagangan Ekspor BPS. Saking kecilnya volume ekspor, kemungkinan digabung bersama data ekspor minyak asiri lain, demikian duga Mulyono dari PT Jasulawangi, salah satu eksportir.

Krisis bahan baku

Ekspor minyak daun cengkih Indonesia turun karena produksi sangat terbatas. Selama ini produsennya terpusat di Pulau Jawa. Padahal sentra produksi berada di wilayah Indonesia Timur terutama Maluku, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.

“Usaha penyulingan daun cengkih belum memasyarakat di sentra-sentra cengkih luar Jawa,” papar Mulyono. Di Minahasa, Sulawesi Utara misalnya. Beberapa tahun lalu pernah ada ujicoba penyulingan minyak daun cengkih.

Hanya saja gagal karena petani enggan mengumpulkan dan menjual daun cengkih yang berguguran. “Harganya mungkin dinilai terlalu rendah,” kata Mulyono.

Sentra cengkih di Jawa pun sejak beberapa tahun terakhir tak bisa banyak diharapkan. Sejak monopoli BPPC banyak cengkih rusak lantaran tidak dirawat, bahkan ditebangi karena harga sangat rendah. Akibatnya, daun cengkih bahan baku penyulingan pun makin sulit didapat.

Dari 54 unit alat penyulingan di Trenggalek, tinggal 20% yang masih beroperasi. Itupun tak rutin. “Kalau dulu bisa nonstop 3 sampai 4 kali sehari, kini dalam sebulan hanya 4 sampai 5 hari saja kegiatan penyulingan dilakukan,” jelas Ir. Agus Sudibyo, Kepala Dinas Perkebunan Kab. Trenggalek.

Agus Sudibyo membenarkan berkurangnya bahan baku di daerahnya karena populasi tanaman semakin menyusut. “Dari sekitar 6.000 ha pada 1995, pada 2000 tinggal 2.797 ha,” kata Agus.

Membaiknya harga cengkih mendorong petani merawat kembali tanamannya. Daun yang gugur pun makin berkurang. Padahal, saat ini penyuling tinggal mengharapkan bahan baku dari daun rontok. Hampir tak ada petani yang sengaja menebang tanaman dan menjual daun.

Penyulingan Daun rontok

Produksi minyak daun cengkih di Trenggalek berlangsung sejak 1960-an. Era 1990-an kabupaten itu menjadi salah satu produsen terbesar minyak daun cengkih.

Kegiatan penyulingan marak, terutama di kecamatan Dongko, Pule, dan Watulimo. “Waktu itu banyak petani yang memilih menebang cengkih karena rendahnya harga jual di masa BPPC,” urai Agus.

Daun dikumpulkan untuk disuling, sedangkan kayu laku sebagai kayu bakar. Tanaman yang tak ditebang pun tidak dirawat lagi sehingga banyak daun rontok. Namun sejalan meningkatnya harga bunga cengkih, bahan baku daun semakin sulit didapat.

Akibatnya, penyulingan kekurangan pasokan dan banyak yang berhenti beroperasi. Di Pule, dari 7 unit yang ada tinggal 2 yang aktif. Di Kec. Dongko bahkan tak ada lagi unit penyulingan.

Kisruh, penyuling di Desa Jombok, Kec. Pule, Trenggalek hanya mengoperasikan 1 unit dari 4 unit ketel miliknya. Namun dengan 1 unit pun kegiatan penyulingan tak lancar karena alasan bahan baku. “Untuk mengumpulkan 1 ton daun saja sulitnya minta ampun,” paparnya.

Padahal Kisruh menyebar agen-agen pengumpulnya ke beberapa desa untuk memudahkan perolehan bahan baku. Dalam sebulan, penyulingan hanya berlangsung 5 sampai 6 hari menunggu bahan baku terkumpul minimal 10 ton.

Saat ini Kisruh hanya mampu memproduksi 150 sampai 200 kg minyak daun cengkih per bulan. “Selain bahan baku kurang, rendemen minyaknya juga turun,” timpal ibu kandung Kisruh.

Kalau dulu 1 ton bahan baku menghasilkan 25 kg minyak, kini hanya 14 sampai 15 kg. Alasannya, selain bercampur daun lain, ketebalan daun juga makin berkurang.

Hal senada dialami Sutiyono, penyuling di Desa Tambakasri, Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Dari 2 ton daun yang disuling setiap hari, ia hanya memperoleh 15 kg saja.

Padahal saat memulai usaha pada 1997 ia bisa memperoleh 25 kg dari bahan baku sama. “Sekarang banyak orang mencampur daun dengan tanah atau kerikil,” katanya. Padahal harga bahan baku terus naik karena langka.

kelangkaan daun cengkih
Daunnya kini langka

Dua tahun lalu harga daun kering Rp300 sampai Rp350 per kg, akhir 2000 sudah Rp400/kg. Sekarang Rp500/ kg daun kering. Sutiyono bahkan terpaksa menampung juga daun basah meski kandungan minyak rendah. Contohnya pada Februari ketika banyak pohon cengkih tumbang karena angin besar.

Eksportir Mulai kewalahan

Meski sulit mendapatkan bahan baku Sutiyono tetap eksis menjadi penyuling. Pasalnya, harga jual minyak daun cengkih terus meningkat. Maret tahun lalu PT Anugerah di Dampit, Malang membeli minyak daun cengkih Rp39.000/kg.

Padahal setahun lalu harga baru berkisar Rp31.000 sampai Rp32.000 per kg. Itupun masih berupa crude-oil dengan kadar eugenol sekitar 70%. Untuk bisa masuk standar mutu ekspor, “Kami harus memproses lanjut hingga mencapai kadar eugenol di atas 97%,” papar Hadi Wiyono, Direktur PT Anugerah kepada Mitra Usaha Tani.

Rata-rata setiap bulan PT Anugerah menampung 5 ion minyak cengkih untuk dipasok ke eksportir. Namun diakui Wiyono, tak mudah mendapatkan minyak sebanyak itu dari penyulingan rakyat.

Padahal, “Berapa pun produksinya saya tampung,” ujar Hadi. Karena itu selain menampung minyak petani, PT Anugerah juga melakukan penyulingan sendiri dengan rata-rata produksi 2 ton/bulan.

Keterbatasan produksi minyak daun cengkih ini jelas membuat pelaku ekspor kewalahan memenuhi permintaan. Apalagi saat ini sudah banyak perusahaan pengolah minyak daun cengkih menjadi eugenol dan turunannya di dalam negeri. “Lebih dari separuh produksi minyak daun cengkih kita diserap industri eugenol di dalam negeri,”jelas Manurung yang juga direktur PT Sarana Bela Nusa.

Hasilnya, 90% diekspor ke luar negeri. Sisanya masuk industri kimia dan farmasi di dalam negeri.

PT Jasulawangi misalnya, saat ini butuh sekitar 800 ton/tahun minyak daun cengkih. Sebagian besar diolah menjadi eugenol standar, eugenol technical, ISO eugenol sebelum diekspor.

Untuk menjamin pasokan Jasulawangi membuka jaringan kemitraan dengan beberapa produsen di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Itupun kami masih kekurangan,” papar Mulyono. Oleh karena itu, Jasulawangi bekerjasama dengan CV Indaroma di Yogyakarta untuk memenuhi permintaan pembeli.

Selain memproduksi eugenol standar, CV Indaroma juga mengekspor minyak daun cengkih sekitar 500 ton/tahun. yntuk memperoleh pasokan, perusahaan yang telah berbisnis minyak daun cengkih sejak 1960-an itu menjalin kerjasama dengan sekitar 50 penyuling di berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Namun karena permintaan yang terus meningkat, Indorama tak bisa memenuhi permintaan tepat waktu. “Diminta hari ini, kami minta ditunda pengirimannya dalam 1 sampai 2 minggu,” jelas Lily Wijaya, pengelolanya.

Sebab, sebelum dikirim ke Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Italia, Singapura, dan Hongkong, minyak pasokan petani harus diolah lagi dari kandungan eugenol 70% menjadi 99%. Lily membeli minyak daun cengkih dari penyuling dan penampung di daerah produksi Rp44.000 sampai Rp46.000 per kg.

Bisnis yang Menguntungkan

Menurut Mulyono, dari segi ekonomi, usaha penyulingan minyak daun cengkih sebenarnya menguntungkan dan dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat pedesaan.

Wajar bila di sentra-sentra produksi cengkih di Jawa, usaha penyulingan seperti ini menjamur. “Bahkan ada penyuling yang mampu memasok 5 sampai 6 ton minyak cengkih per bulan ke Jasulawangi,” katanya.

Kebanyakan penyuling menggunakan alat berkapasitas 1 ton bahan baku. Dengan lama penyulingan 6 sampai 8 jam per periode, berarti dalam sehari dapat dilakukan 3 kali penyulingan.

Dengan demikian bila bahan baku cukup, dalam sehari dapat disuling 3 ton bahan baku. Bila rendemen minyak rata-rata 1,5%, maka dalam sehari dapat menghasilkan 45 kg minyak daun cengkih. Bila sebulan ada 25 hari penyulingan, maka dihasilkan 1.125 kg per bulan.

Dengan harga jual Rp40.000 per kg, pemasukan dari produksi minyak cengkih mencapai Rp45-juta per bulan. Jika bahan baku Rp400 per kg, berarti biaya bahan baku hanya Rp30-juta.

Misal biaya produksi lain mencapai Rp5-juta per bulan, maka keuntungan yang diperoleh Rp10-juta per bulan. Suatu hasil yang menggiurkan kalau saja bahan baku tak jadi masalah.

Pertaruhkan Kualitas Kicauan Dengan Manajemen Kandang Yang Tepat

0

“Pak, mohon disiapkan untuk saya anakan cucak rawa sepasang. Uang segera dikirim.” Itulah percakapan melalui kawat komunikasi seorang konsumen di Kalimantan dengan Muchsinin, perawat kandang Megananda Bird Farm (MBF) di Bogor, Jawa Barat. Para konsumen yang kepincut burung-burung keluaran MBF mesti bersabar. Musababnya piyik masih terbungkus cangkang telur pun sudah antre diinden hobiis.

Katuranggan baik serta volume suara besar dan kuat merupakan penyebab tangkaran Megananda Daryono, sang pemilik, diburu para mania burung kicauan. Di arena kontes, banyak burung-burung keluaran MBF mengukir prestasi. Sri Melayu misalnya, merebut gelar jawara pada Gamako X di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara. murai batu berumur 2 tahun itu memiliki ketajaman dan variasi suara baik.

“Saya mengutamakan kualitas, bukan kuantitas,” ujar Mega sampai panggilan akrab Megananda. Tak heran dari 10 kandang cucak rawa, hanya dihasilkan 5 sampai 6 pasang per 3 bulan. Demikian juga murai batu, dari 17 kandang hanya 4 sampai 5 pasang. Harga dipatok Rp2 sampai 2,5-juta untuk setiap pasang. Beberapa induk masih pasangan muda sehingga produksi belum maksimal.

Burung dilepas ketika berumur 2 sampai 3 minggu. Burung seumur itu sudah dapat makan sendiri dan belajar mengoceh. Para pembeli harus datang langsung ke kandang agar mereka bisa melihat dan mendengar ocehan burung pilihannya. Meski MBF mensyaratkan pembelian seperti itu, “Peminat dari Kalimantan, Jawa tengah, Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Jakarta tetap berdatangan,” lanjut Mega.

Kandang Tertata Rapi

Penangkaran milik Megananda berlokasi di Kampung Cijujungtengah, Ciluar, Bogor. Areal seluas 6.000 m2 itu dibagi untuk kandang cucak rawa, murai batu, dan jalak suren. Ketika Trubus berkunjung tampak deretan kandang tertata rapi dan bersih. Khusus kandang cucak rawa, terlihat pepohonan yang sengaja ditanam di dalam kandang. “Kondisi kandang diusahakan sesuai habitat asli burung itu berasal,” ujar Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Farm yang dibangun sejak 1999 itu terwujud melalui perjalanan panjang. Pembangunan memakan waktu hingga 2 tahun. Maklum sebelum dibangun, ia harus berkonsultasi, dan mencari informasi kandang ideal. Termasuk berdiskusi dengan Cuan Lie, penangkar burung kicauan senior dari Palembang dilakoninya.

Lokasi itu cocok untuk penangkaran lantaran jauh dari keramaian dan lingkungan masih alami. “Di sini sejuk dan hari hujan lebih tinggi sehingga burung-burung terpacu untuk kawin,” ujar ayah 2 putri itu.

Kandang yang bersih
Kandang tertata rapi dan bersih

Atas kerja kerasnya menata tempat penangkaran yang demikian apik, pada 2019 Taman Burung TMII bersama Pelestari Burung Indonesia (PBI) pusat menetapkan MBF sebagai farm percontohan burung kicauan.

Pemilihan Indukan Berkualitas

Indukan yang digunakan untuk menghasilkan anakan berkualitas diambil dari koleksi sendiri. Sebelumnya, ia memiliki 5 pasang cucak rawa, 10 pasang murai batu, dan 2 pasang anis kembang. Kini, total indukan 44 pasang terdiri dari 20 pasang cucak rawa, 17 pasang murai batu, 2 pasang anis kembang, dan 5 pasang jalak suren.

Untuk memasarkan burung hasil tangkaran bagi MBF bukan hal sulit. Kesertaannya dalam kontes-kontes burung menjadi jalan pembuka berhubungan dengan para hobiis. ’’Kontes itu adalah sarana tepat untuk promosi,” kata lulusan SMU 3 Jakarta itu. Selain itu ia pun banyak berhubungan dengan instansi terkait sehingga sering tampil di berbagai seminar dan pameran.

Megananda
Megananda, obsesi bangun kondang penangkaran yang terbaik

Karena jaringan pasar telah terbentuk dan kualitas hasil tangkaran terjamin, usaha penangkarannya cepat berkembang. “Saya puas hobi tersalurkan dengan baik, meski belum meraup untung,” ujarnya. Ia tetap bergeming untuk terus melanjutkan penangkaran yang dinilainya prospektif.

Populasi Menipis di alam

Obsesi Mega membangun penangkaran bermula ketika ia ditugaskan kantornya ke Medan, Sumatera Utara. Di sana pria 52 tahun itu melihat populasi burung-burung bersuara merdu itu di alam makin menipis. “Bayangkan kalau murai batu dari Tapanuli Selatan punah, kasihan anak cucu kita,” ujar peraih Gelar Master di Pace of University, New York itu. cucak rawa di hutan-hutan Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan yang tak kalah indah juga hampir punah. Burung-burung itu memang mudah ditangkap sehingga penurunan populasi demikian cepat.

Kecintaan Mega pada burung sebetulnya telah ditunjukkan sejak kuliah. Di tempat kosnya ada beberapa sangkar berisi cucak rawa, murai batu, kenari, dan lain-lain.Bahkan Mega kerap menjual-beli burung. Otomatis sehari-hari tak lepas dari memanjakan diri dengan klangenannya. Hingga lulus pada 1979 dan bekerja di sebuah perusahaan perkebunan, hobinya tak pernah pudar, malah kian menggila.

Buktinya ketika sekolah di Amerika Serikat ia juga memelihara burung. Di apartemen ia tak bisa tidur tanpa ditemani kicauan burung. Saat itu kenari menjadi pilihan. Pria berkacamata itu membeli 2 sampai 3 ekor. Tak hanya itu, karena suaranya yang bagus klangenannya diikutkan kontes.

Kandang cucak rawa
Kandang cucak rawa dibuat seperti di alam

“Kontes di sana berbeda dengan Indonesia,” kenang pria kelahiran Bukittinggi, 20 Januari 1952 itu. Suasana hening, tak ada teriakan penonton seperti kontes-kontes di tanah air. Burung maju satu per satu untuk dinilai para juri. Setelah semua kontestan dinilai, pemenangnya langsung diumumkan.

“Kurang seru karena kita tidak bisa berteriak,” ujar Mega. Justru dengan teriakan itulah kita bisa refreshing. Kini tak hanya kontes yang rajin diikuti, kedatangannya 2 kali setiap pekan ke penangkaran bisa mengusir kepenatan. Apalagi jika telepon berdering, menandakan pesanan kembali mengalir. (Mitra)

Eric Yonathan: Pulang Pergi ke Jepang Demi Koi

0

Berburu koi ke Jepang bagi Eric Yonathan tak ubahnya mencari harta karun. Di sana ia mengaduk-aduk farm-farm koi kenamaan. Dimulai dengan mengunjungi jejeran kolam kohaku, showa, dan sanke di farm Maruyama. Hari berikutnya giliran Dai Nichi dan Matsuno Suke, di Nigata, Jepang, yang diincar. Belum puas dengan hasil buruannya, ia pun menambah koleksi ogon, taisho, shusui, goshiki, dan jenis lain di farm Hosikin. Hasilnya, 600 koi berkualitas senilai lebih dari Rp1 miliar terbang bersama ke Indonesia.

Setiba di tanah air, ratusan koi itu diperlakukan bak putri raja. Sebuah showroom seluas 500 m2 khusus dibangun untuk menampung semua hasil buruan. Di dalamnya, Eric membangun 17 kolam dengan 9 chamber berteknologi canggih introduksi dari Jepang. Filter sistem vortex, pompa, chiller pendingin air pengontrol volume air, dan solarguard untuk menopang hidup koleksinya. Bos perusahaan aki itu tidak peduli harus keluar uang miliaran rupiah khusus untuk itu, asal “Mereka tumbuh sehat,” kata Eric.

Saat Kami berkunjung, di kolam-kolam itu berseliweran ratusan koi: ogon, shiro utsuri, tancho, taisho, kohaku. Bahkan koi-koi eksklusif, seperti showa ginrin, showa kuchibeni, dan kujaku juga dikoleksi. “Biayapakan mereka Rp10-juta per bulan,” kata Eric. Wajar biaya pakan tinggi lantaran yang dipakai Momotaro High Quality Koi Food, khusus diimpor dari Jepang.

Kolam Eric itu dirancang dengan teknologi canggih asal Jepang. Semua sistem filterasi dan aerasi bekerja secara otomatis selama 24 jam non stop. Bahkan sistem pengurasan air kolam pun bekerja setiap 4 jam sekali. Untuk itu ia harus membayar Rp10-juta per bulan untuk biaya listrik agar 9 chamber berisi filter dan aerator bekerja maksimal.
itu belum termasuk biaya 3 sampai 4 pekerja sebesar Rp4-juta sampai Rp5-juta per bulan.

Cinta koi

Eric Yonathan
Eric Yonathan, miliaran rupiah demi koi

Hobi Eric yang supermahal itu jarang ditiru orang lain. Bayangkan saja konstruksi dan rancangan kolamnya saja menelan biaya miliaran rupiah. Apalagi kalau ia melihat koi yang menarik minatnya.”Berapa pun harganya saya beli kalau ikan itu memiliki patern yang cantik dan unik,” kata kelahiran Surabaya 47 tahun silam itu. Buktinya, shusui jawara Ali Indonesia Combined Young Koi Show 2004 di Semarang diboyong seharga Rp60-juta.

Bagi pemilik Nirwana Koi Centre itu, liukan budo guromo, hi utsuri, akabeko, ai kurumu, dan showa asagi menjadi pelipur stres. Selepas bergelut dengan urusan bisnis Eric memanjakan mata hingga larut malam di tepi kolam. Senyum sumringah selalu menghiasi bibir kala melihat koi berebut pakan dan berenang lincah.

“Kalau melihat ikan perasaan menjadi tenang dan senang. Hati saya bahagia di sini,” tutur Eric sembari senyum menghias bibirnya. Keunikan patern, kombinasi warna dan gaya berenang yang anggun mampu meluluhlantakkan kejenuhan dan kepenatannya selepas bekerja.

Koleksi koi ayah 4 putra itu laksana harta berharga. Untuk mencegah penyakit, pakan bernutrisi lengkap selalu tersedia. Pemeriksaan kesehatan pun rutin dilakukan. “Koi harus rutin dicek kesehatan dan pertumbuhannya. Kalau ikan enggan berenang berarti ia sakit,” tutur Erik sembari mengukur panjang koi dalam bak khusus.

Walaupun kolam berteknologi tinggi, pH, kadar kalsium, dan KH selalu dicek secara teratur. Wajar bila ia sedih saat koi kesayangan sakit atau mati. Itu pernah terjadi ketika listrik padam. Akibatnya sistem sirkulasi udara dan air dalam kolam terganggu, beberapa koi kualitas tinggi mati meregang nyawa. Kecintaan Eric pada koi pun ditunjukkan saat bertransaksi. Pemilik perusahaan kimia di bilangan Pangeran Jayakarta itu pasti menolak menjual seekor showa atau sanke seharga Rp35-juta karena kondisi kolam dan air pembeli tidak memenuhi syarat. “Sayang bila melepas mereka lalu tidak dirawat dan dipelihara dengan baik,” ucap Eric.

Rutin berburu

Puncak kecintaan Eric kepada koi sejak 3 sampai 4 tahun silam. Maraknya kontes dan beragam jenis koi impor yang masuk ke Indonesia membuatnya semakin kepincut untuk memelihara ikan berpola unik itu. “Semua jenis koi harus dimiliki,” kata Eric. Bak terhipnotis, segala cara dilakukan untuk bisa mendapatkan koi berkualitas. Walaupun harga selangit, niat dan semangat Eric untuk mencari Cyprinus carpio terus berlanjut.

Setiap Januari dan Oktober Eric menyempatkan diri bertandang ke Jepang. Memenuhi panggilan hobiis di Jepang, Singapura, dan Cina menjadi agenda khusus. Bukan tanpa alasan ia berburu pada waktu-waktu tertentu di Jepang. Pada saat itu, para hobiis negeri Sakura dilanda demam auction (lelang, red) koi super dengan kualitas tinggi. “Ikan yang dilelang berukuran jumbo, di atas 50 cm. Kualitasnya pun luar biasa,” tutur Eric yang sempat menyaksikan pelelangan di Jepang.

Menurut pria berkulit putih itu, di negara bekas jajahan Amerika Serikat itu koi sangat dipuja dan dibanggakan. Tak heran membeli koi di sana bak meminang putri raja. Seekor koi kualitas kontes bisa dibandrol dengan harga selangit, ratusan juta hingga miliaran rupiah per ekor. Kohaku bercorak merah pekat ukuran 70 sampai 80 cm saja dihargai hingga dua juta yen atau setara Rp 160-juta per ekor. Sanke ukuran sama dijual Rp28O-juta per ekor. Bahkan untuk 3 ekor sanke atau showa kualitas tinggi dinilai Rp440-juta.

Multihobi

Kolam koi
Kolam koi berteknologi canggih

Pria bertubuh besar itu tidak hanya tergila-gila pada koi. Empat belas tahun lampau ia memelihara ratusan ayam bangkok. Tidak tanggung-tanggung, kocek Rp800-juta digelontorkan demi kesehatan dan penampilan ayam bangkoknya. Sembilan tahun menekuni ayam bangkok, Eric lalu kepincut kemolekan burung dara. Hobi burung ini pun menghabiskan uang miliaran rupiah. Hasilnya, burung dara koleksinya acap menjuarai lomba nasional di Jawa Tengah, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Dari beberapa hobinya itulah, ia mulai merambah dunia bisnis di luar pekerjaan utamanya. Tak jarang burung dara miliknya ditawar hingga puluhan juta rupiah per ekor. Itu belum termasuk koi koleksinya yang dibeli hobiis dengan harga Rp50-juta sampai Rp60-juta per ekor.

Namun, bagi pemilik PT Permata Chemindo Jaya itu koi sebatas hobi, ia tidak memperhitungkan untung dari jualan koi. Ikut kontes atau mengumpulkan koi-koi berkualitas lebih utama. Karena itu pula pemilik kumis tebal siap-siap turun ke Koi & gold Fish, Expo dan Bazaar 2005 pada Januari di Raiser, Cibinong, Bogor. (Mitra)

Ketika Tanah Kembali Gembur

0

Hasil panen cabai pada Juli 2018 sebanyak 16 ton/ha membuat Dian Sofyan bergairah. Setahun sebelumnya, pekebun di Kampung Tarikolotdua, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat, itu hanya menuai 9,6 ton/ha. Peningkatan hasil itu setelah ia mengaplikasikan effective microorganism (EM) setahun silam. “Struktur tanah lebih gembur, zat hara meningkat sehingga pertanaman tumbuh subur. Hama penyakit pun jarang,” katanya.

Beruntung Dian Sofyan memperoleh informasi teknologi itu. Kalau tidak, ia mesti mengeluh lantaran produksi cabai merosot sejak 2 tahun silam. Bagaimana tidak setiap kali musim tanam Dian hanya menuai 8 10 ton/ha. Itu pun kalau tanaman selamat dari serangan hama dan penyakit. Kegagalan acap dialami akibat penyakit layu fusarium. “Tanah lengket dan sulit diolah, kemungkinan menjadi penyebab,” kata anggota kelompok tani Antanan itu.

Pekebun lain di beberapa sentra, seperti Bandungan, Muntilan, Kopeng, Batu, Cipanas, dan Karanganyar juga mulai merasakan hal sama. Hasil panenan mereka terpuruk. Daya tahan tanaman terhadap penyakit pun berkurang. “Itu karena kualitas tanah pada posisi leveling off, sehingga perlu diperbaiki,” kata Djoko Widianto, konsultan pertanian di Yogyakarta.

Budidaya Makin marak

Eksploitasi secara besar-besaran, tanpa mempertimbangkan keseimbangan daya dukung lahan menyebabkan kualitas tanah turun, lalu rusak. Celakanya, begitu tanaman terserang penyakit, pekebun “menghantam” dengan menyemprot pestisida dalam dosis berlebihan. “Manajemen seperti ini jelas tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, akan membuat masalah pada hari-hari berikutnya,” ucap alumnus Fakultas Perikanan UPN Veteran, Yogyakarta. Buktinya, beberapa pekebun di Brebes, Jawa Tengah, mengeluh lantaran kadar residu pestisida dalam bawang merah tinggi.

Beberapa pekebun yang sadar akan hal itu mencoba berpaling ke produk-produk yang dapat memperbaiki struktur tanah. Potensi ini akhirnya dilirik beberapa produsen, seperti PT Songgolangit Persada, PT Khalatam Sari Bumi, PT Biotama, dan PT Tani Unggul Sarana. Mereka begitu gencar mempromosikan berbagai merek produk pembenah tanah. “Kalau melihat perkembangannya, permintaan produk-produk pembenah tanah makin meningkat setiap tahun,” kata Adi Saputra, direktur pemasaran Biotama.

Dwi Kartiko, staf lapangan PT Tani Unggul Sarana juga melihat perkembangan pasar produk-produk pembenah tanah cukup bagus. Itu dapat dilihat dari beragam merek yang dijual di pasaran. Namun, di tengah maraknya produk itu sebaiknya ada batasan yang jelas antara pembenah tanah dan pupuk organik. Meskipun keduanya sama-sama bertugas memperbaiki kualitas tanah.

Menurut Djoko Widianto, jika kandungan N di atas 7 termasuk pupuk organik; di bawah 7, pembenah tanah.

Berdasarkan analisis M. Zakky Husein dari PT Songgolangit Persada, prospek produk pembenah tanah cerah di masa datang. Apalagi saat ini banyak konsumen mulai peduli terhadap kesehatan. Isu ramah lingkungan dinilai turut memotivasi. Apalagi harga pembenah tanah murah dan mudah diaplikasikan.

Para pekebun
Pekebun bisa meramu sendiri

Indonesia mestinya meniru pekebun di Chantaburry, Thailand. Mereka mengelola lahan pertanian secara organik sehingga kualitas tanah terjaga. Toh, sayuran dan buah-buahan tumbuh subur tanpa pestisida. “Raja Thailand sangat mendukung program itu. Apalagi, ada semacam mitos siapa pun yang menyelamatkan tanah akan dikaruniai Tuhan,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Nasional Jakarta itu.

Proses Yang Gampang

Efektifitas produk pembenah tanah tak luput dari peran beberapa bakteri yang terkandung di dalamnya. Di antaranya bakteri fotosintesis, ragi, Lactobacillus, Actinomycetes, dan Streptomyces. Mereka bekerja secara sinergis untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Contohnya, Lactobacillus yang bertugas memfermentasikan bahan organik menjadi senyawa asam laktat agar dapat diserap tanaman. Peran sebagai penghasil antibiotik yang bersifat toksik terhadap penyakit atau patogen dipegang Actinomycetes, dan Streptomyces.

Ada 2 aplikasi dikocor ke lahan atau difermentasikan, tergantung tujuan. Oleh karena itu sebelum dipakai baca petunjuk pemakaian di setiap kemasan. Misalnya, EM-4 keluaran PT Songgolangit Persada perlu difermentasikan selama seminggu agar bakteri bekerja efektif. Ambil 80% bahan organik, seperti jerami dan sekam padi, 10% pupuk kandang, serta 10% dedak halus. Campurkan bahan itu, lalu guyur EM-4 dengan dosis setiap 10 ton bahan butuh 1 liter EM-4. Setelah seminggu, ramuan itu bisa ditebar ke lahan dan siap ditanami.

Pemakaian Bioplasma dan Mitra Tani dari Bio’tama langsung diguyur ke tanaman. Hamony BS dan Chitosan produksi PT Tani Unggul Sarana pun sama. Yang jelas pemakaian produk pembenah tanah relatif mudah. “Ibaratnya, pekebun yang tidak mengenyam pendidikan tinggi pun bisa melakukannya,” kata Zakky.

Proses panjang Dan Berliku

Sayang, dari sekian banyak pekebun belum semua menggunakannya. Pekebun konvensional memilih cara praktis dan instan. Mereka masih berpandangan bila hari ini disemprot, besok harus sudah tampak hasilnya. Padahal, produk pembenah tanah perlu waktu lama. Djoko Widianto memperkirakan butuh sekitar 2—3 tahun untuk memperbaiki tanah “rusak” sehingga pulih seperti semula. “Kalau kerusakan tanah kategori sedang, dalam setahun kembali baik,” katanya.

Fatalnya lagi, beberapa pekebun malah menganggap tanahnya belum bermasalah. Apalagi hasil panen yang didapat setiap perode tanam relatif stabil. Dwi Kartiko menduga itu terjadi karena benih disesuaikan dengan daerah tersebut, termasuk kualitas tanahnya. Padahal, kalau diuji di laboratorium kandungan zat hara dalam tanah menurun, bahkan beberapa unsur hilang.

Untuk itu perlu kesadaran pekebun. Memang sepintas ada penambahan biaya. Namun, kalau mendapatkan hasil maksimal, kenapa tidak. Contohlah, Kidi, pekebun di Cikole, Pandeglang, Banten. Setelah 3 tahun menerapkan EM di lahannya, ia akhirnya tersenyum begitu melihat hasil panen tomat tahun ini, 32 ton/ha; sebelumnya, 20 ton/ha. Dengan harga Rp3.000/kg, berarti Rp96-juta bakal masuk ke koceknya. Keuntungan tinggi, buah bagus, dan kualitas tanah pun teijaga hingga anak cucu. (Mitra)

Segarnya Sayuran dari Kota Musim Semi Abadi

0

Pagi itu sinar matahari malu-malu menerobos masuk di antara dahan-dahan pohon pinus. Kabut putih melapang tipis memeluk deretan bukit-bukit hijau di Langbian Lam Vien, dalam bahasa Vietnam bagian dari dataran tinggi Cao Nguyen. Di sebuah rumah makan sederhana, semangkuk sup menghangatkan tubuh yang menggigil digigit udara dingin mirip Lembang, Bandung.

Sup panas ala Vietnam yang diseruput sambil menikmati keindahan Dalat 305 km dari Ho Chi Minh City, ibukota Vietnam berisi potongan ketela pohon, kikil, plus beragam sayuran. Di situ juga ada penganan mirip lumpia semarang. Kulit “lumpia” berwarna putih dan tipis terbuat dari tepung beras itu diisi rajangan sayuran segar dan ikan atau daging.

Kalau tidak suka kombinasi yang ada, silakan buat “lumpia” sendiri. Di piring-piring tersedia rajangan wortel, kubis, seledri, parsley, mint, bawang bombay, mentimun, dan basil segar. Pun udang, ikan, daging, dan kulit “lumpia”. “Kita pilih sendiri kombinasi sayuran dan lauknya. Taruh di kulit “lumpia”, gulung, baru dimakan,” tutur Ir Agus Setiyono, sales manager PT Seminis Vegetable Seed Indonesia yang berkunjung ke Dalat pada penghujung Agustus.

Buah buahan di pasar
Buah-buahan juga dijajakan

Buat yang belum terbiasa, cara makan seperti itu memang merepotkan. Toh, masih ada pilihan lain. Macam-macam miberbahan tepung beras layak dicoba. Lagi-lagi potongan sayuran ikut bergabung dalam semangkuk pho salah satu jenis mie yang mengepulkan asap.

Daun dan rempah

Harap mafhum, sebagian besar menu masyarakat Vietnam memang berbasis sayuran. Pada 2000, tingkat konsumsi sayuran di negara Indocina itu mencapai 58 kg per tahun per kapita. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 37 kg per tahun per kapita, Filipina (14), dan Thailand (45). Tingkat konsumsi itu bakal dinaikkan menjadi 83 kg per tahun per kapita pada 2010. Pantaslah di negara bekas jajahan Perancis itu, para gadis terlihat langsing-langsing.

Sayuran-sayuran itu antara lain dipasok dari Dalat. Bermacam jenis ditanam di sana. Sebut saja bawang bombai, tomat, dan kubis. “Tapi paling banyak sayuran daun dan rempah,” kata Agus. Daerah yang punya julukan kota musim semi abadi—karena udaranya selalu sehangat musim semi, bersuhu antara 15—24°C—juga produsen buah-buahan dan tanaman hias.

gudangnya sayuran
Dalat, gudangnya sayuran dan buah subtropis

Stroberi bersosok gemuk berwarna merah terang terlihat dijajakan di pasar-pasar tradisional di Dalat. Masih di tempat sama, tumpukan daun bawang, seledri, kacang kapri, bit, radichio, dan artichoke tertata rapi. Semua bersih tanpa tanah dan bagian yang busuk.

Peran Dan Dukungan pemerintah

Pantas Dalat menjadi salah satu-sentra hortikultura Vietnam. Daerah yang disebut-sebut sebagai Paris dari Timur itu beriklim sejuk, tanah subur dengan kontur cenderung mendatar walaupun terletak di daerah pegunungan. Kota terletak di Provinsi Lam Dong yang bergunung-gunung itu dikhususkan untuk produksi sayuran dataran tinggi dan buah-buahan subtropis.

Tanaman yang dibudidayakan mirip dengan sentra sayuran di utara Vietanam. Sebut saja Vinh Phuc, Bac Gang, Bac
Ninh, Hai Duong, Ninh Binh, Nam Dinh dan Hai Phong di sepanjang delta Sungai Merah. Sementara di delta Sungai Mekong di wilayah barat daya Vietnam,sayuran dan buah-buahan dataran rendah yang dikembangkan.

Sebagian lahan pertanian di Dalat semula bekas bukaan hutan yang telantar. “Pemerintah membantu menjadikannya kebun-kebun dengan mengoperasikan alat-alat berat untuk membentuk kontur lahan. Lahan yang kurang subur karena topsoil tipis, diberi pupuk kandang,” papar Agus. Kebutuhan air dipenuhi dengan membentangkan beratus meter selang dari mata air menuju kebun-kebun pribadi, rata-rata 2.000 m2per orang.

Dukungan kuat pemerintah memang salah satu kunci sukses pengembangan pertanian di Vietnam. Iklim investasi dibuat sekondusif mungkin untuk menarik minat investor luar. “’Selama 4 tahun pertama, investor tak perlu membayar pajak dan bunga pinjaman bank,” ujar Torn Hooft dari Dalat Hasfarm Agrivina grup PT Perkebunan Mangkurajo—yang membuka kebun tanaman hias dan sayuran di sana.

Fasilitas lain, kemudahan dalam mengimpor sarana produksi tanaman, seperti mesin, bibit, hingga greenhouse. Maklum teknologi budidaya mutakhir, seperti hidroponik mulai diperkenalkan. Semua dengan mudah didatangkan ke Vietnam tanpa bea masuk. Urusan surat izin investasi pun tak berbelit-belit. Pantas bila areal penanaman sayuran (dan buah) naik 29% dari 1991 ke 2001 menjadi 445.000 ha. Jumlah itu terus ditingkatkan menjadi 600.000 ha pada 2005 dan 800.000 pada 2010.

Dengan kondisi itu Vietnam bak naga kecil yang tengah menggeliat. Negara yang bentuknya seperti 2 keranjang padi dan pikulannya itu juga mengekspor mentimun, tomat, kubis, bawang bombay, kacang-kacangan, jagung, dan cabai. Tujuan utamanya ialah Cina, Australia, Jepang, Singapura, Taiwan, Korea, dan Amerika Serikat. Kalau Indonesia tidak hati-hati, “Lima tahun mendatang, Vietnam bakal jadi pesaing kita,” kata Agus. (Mitra)

Bisnis Manis Jagung Manis Kaleng

0

Satu per satu tongkol jagung itu berbaris di atas conveyer mesin pengalengan. Setelah masuk ke dalam mesin, ratusan tongkol itu dipipil, dibersihkan, dan dipisahkan secara otomatis. Tak lama kemudian, 250 g pipilan jagung dicemplungkan ke dalam kaleng setinggi 10 cm berisi cairan pengawet. Keluar dari mesin, tangan-tangan terampil siap melabeli kaleng jagung manis itu.

Setelah dilabel, ribuan kaleng itu dimasukkan ke dalam dus masing-masing berisi 20 kaleng. Jagung manis dalam kaleng pun siap didistribusikan ke pasar-pasar swalayan di Thailand dan diekspor ke luar negeri.

Pabrik pengemasan jagung manis di Chiangmai, Thailand itu memproduksi ratusan hingga jutaan kaleng jagung manis setiap tahunnya.

Selama 8 sampai 10 jam setiap hari mesin pengalengan terus bekerja mengolah puluhan hingga ratusan tongkol jagung manis. Itu lantaran permintaan jagung manis kaleng meningkat dari dalam maupun luar negeri. Awetan jagung manis itu dikemas dalam kapasitas 10 kg atau setara 40 buah kaleng kecil berbobot 250 g. “Semua itu untuk memenuhi permintaan konsumen,” kata Afrizal Gindow, manajer PT Seminis Vegetable Seed Indonesia. Menurut Afrizal setengah hasil panen jagung manis pekebun Thailand diolah dalam bentuk kalengan.

Tahap Pengalengan

Pengawetan jagung manis dalam kalengan bukan sesuatu yang baru di negeri Gajah Putih itu. Sejak 2 tahun silam, pekebun skala sempit maupun luas sudah memanfaatkan teknologi itu secara besar-besaran. Sebab dengan diawetkan, “Keuntungan bisa berlipat ganda dibandingkan dengan penjualan biasa,” kata Afrizal. Menurut kelahiran Padang 41 tahun silam itu dengan adanya pabrik pengalengan harga jagung manis tidak pernah turun meski panen raya.

Kebutuhan jagung manis untuk memasok pabrik-pabrik pengalengan memang tinggi. Sebuah pabrik pengalengan jagung manis diChiangmai, Thailand misalnya membutuhkan Zea mays saccharata itu 20 sampai 30 ton pipilan per hari, setara 10 ha panen per hari. Jumlah itu menghasilkan 80.000 sampai 120.000 kaleng jagung manis untuk diekspor ke Malaysia.

Dampaknya para pekebun meluaskan areal penanaman. Hal itu tercermin dari besarnya permintaan benih jagung manis yang terus meningkat. Di negeri kaya bangunan pagoda itu, “Kebutuhan benih jagung manis meningkat hingga 80 ton per tahun,” tutur Afrizal. Pekebun jagung berambut putih itu tersebar di Pathumtani, Chiangmai, dan Chiangrai. Menurut Afrizal market share perusahaannya di Thailand mencapai 25 sampai 30% untuk benih jagung manis. Pasalnya, para pekebun di Malaysia juga menginginkan benih unggul jagung manis dari Thailand.

Home industry

Di tanah air pengolahan anggota keluarga Gramineae itu belum dikenal luas. Musababnya, lidah masyarakat Indonesia lebih mengenal rasa jagung manis rebus dan bakar ketimbang sebagai campuran es krim, manisan, dan cokctail. Makanya pasar awetan jagung manis pun tak semanis produknya. “Pasar di sini masih sempit karena masyarakat belum mengenal jagung manis dalam kalengan,” ucap Afrizal.

Padahal untuk mengusahakan pengalengan jagung manis skala home industry (industri rumahan, red), hanya dibutuhkan dana Rp100-juta. Dengan biaya itu, sebuah mesin pengalengan berkapasitas 200 sampai 250 kaleng/jam seharga Rp25-juta sampai Rp30-juta siap beroperasi. Sisanya, diperuntukkan biaya pengadaan kaleng, tenaga keija, dan biaya operasional lain.

Menurut hitung-hitungan alumnus angkatan 19 Jurusan Budidaya Pertanian IPB itu untuk memproduksi 1 kaleng hanya dibutuhkan 2 tongkol jagung manis segar dengan biaya Rp5.000. Bila dijual dengan harga Rp8.500 sampai Rp 10.000 per kaleng maka keuntungan lebih dari 50%. Dengan running 8 jam per hari total jenderal produksi dari mesin sederhana itu bisa mencapai 1.600 kaleng. Itu berarti membutuhkan 1,3 ton tongkol segar per hari atau setara 400 kg pipilan jagung manis per hari.

perluasan areal penanaman
Jagung manis butuh perluasan areal penanaman

Afrizal memprediksi, lambat tapi pasti konsumsi jagung manis kalengan akan merebak di Indonesia. Buktinya, grafik penjualan fresh com sedikit demi sedikit mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. “Tahun lalu belum ada fresh com dijual di pasar swalayan, tapi sekarang ada di mana-mana,” ucapnya. Dampaknya pertumbuhan pasar jagung manis Indonesia dari US$ 400-ribu meningkat menjadi US$ 1,5-juta saat ini, atau 3 kali daripada tahun sebelumnya.

Butuh Jagung Varietas khusus

Pasar tradisional jagung manis yang terbentang harus diimbangi dengan areal penanaman.Maklum, areal penanaman jagung manis masih terbatas dan tersebar di beberapa sentra seperti Garut, Sukabumi, dan Solo.

Apalagi tidak semua jenisjagung manis dapat diawetkan. Ia harus memiliki bulir besar, seragam, dan mudah dipipil. Gunakan jagung yang memiliki masa panen 65 hari sehingga kadar air dan kandungan gula maksimal. Maklum kadar air yang terlalu rendah mengakibatkan kualitas turun.

Itu pula yang mendorong PT Seminis Vegetable Seed Indonesia merencanakan membuka lahan baru untuk penanaman jagung manis. “Kita akan menebar 4 ton bibit di luasan 600 sampai 650 ha,” ujar Afrizal. Dengan menggunakan varietas golden sweeter, alumnus program studi Agronomi IPB itu mentargetkan panen 1,2 ton tongkol jagung manis atau setara dengan 7,2 ton pipilan.

Golden sweeter memiliki bulir penuh di sepanjang tongkol dan biji berukuran besar sehingga gampang dipipil. “Jagung manis yang banyak ditanam pekebun kurang seragam dan terlalu lembut. Kalau dipipil bulir akan rusak,” kata Afrizal. Biji jagung manis asal Thailand itu juga tak gampang pecah dan rusak saat dipipil.

Dengan pengalengan kekhawatiran jatuhnya harga saat panen raya yang selalu membayangi pekebun bisa ditepis. Ini adalah harapan baru bagi pekebun yang ingin mencecap manisnya jagung manis dalam kaleng. (Mitra)

Merry Andani: Antara Dangdut dan Organik

0

…antara kita berdua terhalang dinding pemisah yang tak mungkin dilalui walaupun sampai di akhir nanti…” Lirik lagu merdu Dinding Pemisah itu bukan terlantun dari sebuah stasiun televisi. Melainkan terdengar di sebuah kebun asri seluas 1.200 m2 di Desa Cimande, Caringin, Bogor. Yang melantunkan, Merry Andani, sambil mengayunkan cangkul untuk bertanam sayuran organik.

Dengan mengenakan sepatu bot karet, celana panjang yang dilinting, serta topi caping Merry menghampiri guludan-guludan tanaman sayuran. Ia tampak menikmati pekerjaan menanam pakcoy, cabai merah, terung, dan berbagai sayuran di lahannya itu. Setelah peluh bercucuran ia istirahat sejenak di pendopo bambu yang asri. Aktivitasnya berlanjut dengan memancing dan membakar ikan dari empang di samping kebun sebagai lauk pelengkap lalap.

Itulah kesibukan Merry bersama keluarga di akhir pekan. Sayuran yang disantap dipetik dari hasil kebunnya “Sayuran lebih manis dan renyah karena dibudidayakan secara organik,” ungkap Merry panggilan akrab Merry Andani. Trubus yang dibekali sekantong terung merasakan manisnya terong organik itu di rumah. Merry biasanya baru kembali ke Jakarta selepas makan siang untuk menjalankan aktivitas rutin sebagai seorang artis.

Organik mania

Persentuhan presenter “Rockdut” dengan produk organik bermula dari kekhawatiran akan kesehatan putra-putrinya. “Sekarang sayuran dan buah banyak mengandung residu pestisida,juga polusi udara Jakarta yang makin kotor,” ujar ibu 3 anak itu. Akhirnya produk organik rutin dikonsumsi sejak 1 tahun lalu. “Manfaatnya segera terasa, daya tahan tubuh meningkat dan jarang sakit,” tambahnya.

Produk organik biasa ia dapatkan dari pasar swalayan atau toko-toko khusus organik. Amani Organic misalnya. Tempat itu paling sering dikunjungi karena jarak tempuhnya paling dekat dari rumah, di bilangan Jatibening, Bekasi. Ia pun hati-hati memisahkan produk organik di lemari pendinginnya. Maklum belum keseluruhan bahan pangan yang dikonsumsinya berupa produk organik.

Kebun terong
Terungnya renyah dan manis

Rupanya kepedulian akan produk organik itu menular kepada seluruh anggota keluarganya. Putra-putrinya yang masih kanak-kanak sudah dikenalkan dengan sayuran organik yang kerap dikonsumsi. Sewaktu berkumpul bersama keluarga besar 7 bersaudara , dengan semangat ia mempromosikan sehatnya berorganik.

Bahkan di sela kesibukannya sebagai selebriti, ibu Alisya Putri Salsabila, Athalia Putri Sania, dan M. Syarif Alam Hakim itu masih menyempatkan untuk mengikuti berbagai seminar mengenai organik. Ia pernah menjadi salah satu pembicara dalam acara seminar organik nasional di Balaikota DKI Jakarta beberapa bulan silam. Walaupun masih tergolong pemain baru, tetapi perempuan kelahiran Bandung 1 November 1969 itu tampak lihai memaparkan pengalamannya.

Budidaya Komersial

Bukan hanya sebagai konsumen organik yang dilakoni ibu bertubuh mungil itu. Bisnis organik pun diliriknya. Tak segan-segan ia mencemplungkan Rp150-juta untuk usaha pembuatan pupuk organik cair. “Pengolahan pupuk sudah berjalan sejak 6 bulan lalu,” paparnya bersemangat. Lokasi pengolahan di kediamannya. “Lahan yang dibutuhkan tidak terlalu luas kok, hanya 500 m2,” katanya. Kegiatan itu dilakukan di setiap akhir pekan bersama keluarga dan dibantu 3 orang pegawainya. Profesinya sebagai artis tidak terganggu dengan bisnis sampingannya itu.

Merasa belum cukup pengalaman di dunia organik, Merry tak segan untuk selalu berdiskusi dan berkonsultasi dengan para senior. Ir Dharma Setiawan dari Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) dan Martha Yanche Mario, seorang pemain organik senior, dipilihnya menjadi staf ahli CV Mentari Alam Sentosa perusahaan pupuk organik cair yang didirikan Merry bersama sang suami, Ali Andoko.

Dari merekalah ilmu tentang pengolahan pupuk organik cair didapat. Menurut Merry prosesnya sederhana dan tidak perlu alat macam-macam. Ia hanya membutuhkan bak penampungan untuk bahan baku berupa tepung ikan, sekam, dan pupuk kandang. Masukkan bahan-bahan itu dengan komposisi seimbang dan air secukupnya ke dalam bak berukuran 3 m3.

Setelah selama 2 bulan difermentasikan dengan bantuan aktivator buatan sendiri, lalu disaring ke sebuah tangki berkapasitas 3.000 1.Dengan sebuah pompa cairan akan disedot ke 2 buah tangki di atasnya yang berukuran masing-masing 3.0001. Setelah dicampur dengan aktivator dan molase, calon pupuk cair itu difermentasikan kembali selama 3 bulan sembari diaduk setiap hari. Dari lokasi itulah sebanyak 6.000 1 pupuk cair organik diproduksi tiap 6 bulan.

“Saya sudah mencobanya untuk bertanam sayuran dan beternak ikan. Hasilnya bagus,” katanya. Tak hanya itu, tanaman yang ada di rumah, bonsai beringin dan pohon mangga, rutin ia berikan. Kedua tanaman menjadi subur dan rajin berbuah.

Produk pupuk cair organik Merry tak sekadar untuk keperluan sendiri, tapi juga mulai dikomersialkan. Buktinya produknya telah dirilis dalam rangka menyambut Indonesia Sehat 2010 yang dicanangkan pemerintah. “Alangkah bahagianya bila kami mengambil peran di dalam pengembangan produk organik,” ujar Martha yang sekaligus menjadi direktur perusahaan Merry Andani.

Dalam mengembangkan usahanya, mojang priangan itu bersama tim-nya gencar mempromosikan produk bertajuk Quick Grow Fl ke beberapa pekebun. Para pekebun di Pangalengan, Purwakarta, serta Bogor disambangi dan diberikan sampel pupuk untuk diaplikasikan.

“Walau kini produk kami baru berupa pupuk organik cair, bukan tidak mungkin nanti bertambah dengan pestisida organik, dan sayur organik,” ujar wanita berkulit putih itu. Niatnya itu bukan ucapan belaka, lahan seluas 1,6 ha di lokasi sekitar kebun sudah siap dibidik. (Mitra)

Rekonsiliasi Sektor Agribisnis Tanah Air?

0

Saya lahir 100 tahun setelah singkong gencar ditanam di Pulau Jawa. Teman saya, wartawan terkemuka asal Pulau Sawu merasa iri, karena di sana tak ada ketela pohon. “Singkong dibawa oleh Belanda ke Pulau Jawa pada 1852 sebagai pengganti tanaman karbohidrat yang lahannya habis untuk tebu,” katanya.

Empat tahun berikutnya, pada 1856, Gubernur Jenderal van Den Bosch yang menggalakkan tanam paksa [1]., membuat singkong menyebar ke berbagai sudut Pulau Jawa. Karena lahan-lahan basah yang semula bagus untuk padi dialihkan ke tebu, tembakau, dan kopi, maka rakyat harus diberi makanan tambahan yang mudah diproduksi, yaitu ketela pohon, alias singkong, alias menyok, casava dalam bahasa Inggris, atau Manihot utilissima, bahasa Latinnya.

Ketika saya lahir di Jawa Timur pada 1956, semua sudah jadi anak singkong yang dibesarkan oleh nasi gaplek, tiwul, kerupuk kanji, rondo royal atau janda berpesta, balung kethek atau tulang monyet, tapai peuyeum, dan aneka makanan lain turunan singkong.

Yang jelas, setiap negeri yang didatangi singkong, langsung meledak jumlah penduduknya. Itu terjadi di Pulau Jawa, bukan Kalimantan, apalagi Papua. Teman saya di Pulau Sawu, sebetulnya beruntung. Ia tidak pernah menjadi anak singkong, seperti saya. Namun, ia juga merasa kecewa, karena banyak praktek pertanian dan pengembangan teknologi di Jawa, tanpa disadari mempermiskin, bahkan menghancurkan mereka. Contohnya?

Kalau di Pulau Jawa, punya kebun tomat seperempat hektar saja sudah dapat sertifikat tanah. Di pulau-pulau Nusa Tenggara Timur (NTT), puluhan hektar kebun rumput laut tak pernah tercatat. Tak ada akte kepemilikan dan tak pernah dilindungi undang-undang. Padahal, seperempat hektar tomat, cabai, atau kacang panjang jelas dikonsumsi sendiri. Sedangkan berhektar rumput laut untuk diekspor, mendatangkan devisa dan mengharumkan negeri.

Satu praktek agribisnis lainnya, pengiriman kuda sawu. Dulu, setiap minggu puluhan kuda dari NTT dikirim ke Jawa untuk menarik dokar dan mengangkut hasil bumi. Namun, setelah oplet, bemo, dan truk membanjiri Pulau Jawa, orang tak lagi minta dikirim kuda sawu, timor, dan sumba. Akibatnya para peternak di sana bangkrut dan pelahan-lahan berhenti memelihara kuda.

Hal itu juga menular pada sapi. Semula, sapi-sapi potong dari kawasan padang sabana di Sumbawa, Timor, Sumba, Sawu, dan pulau lain di NTT, boleh diekspor langsung. Namun, setelah pelabuhan ekspor dipusatkan di Surabaya, peternak jadi gentar dan tidak sanggup menjual lembunya? Kenapa? Biaya pengiriman dari desa ke pelabuhan di NTT, lalu dilanjutkan ke Surabaya menjadi mahal dan berisiko tinggi.

Teman saya dari NTT itu, Peter A. Rohi, menyelidikinya dengan seksama, dan menemukan sesuatu yang membuat kecewa. Jangankan urusan kuda, singkong pun jadi masalah, karena tak ada cadangan pangan yang mudah ditanam dan dipanen. Kampung halamannya jadi rawan paceklik. Mudah terlindas bencana kelaparan [2].

Semua tamu

Tentu saja kita tidak membiarkan sang teman kecewa. Dia perlu tahu, hampir seluruh tanaman pangan, termasuk jagung, beras, ayam, dan daging sapi, sebagian datang dari luar negeri. Kapas dan terigu 99% impor. Artinya, ada porsi besar komoditas pangan, sandang, dan bahan obat-obatan harus diakui sebagai ternak atau tanaman tamu.

Adakalanya betul-betul mumi tamu. Datang dari luar negeri, ditanam di sini, dan dijual lagi untuk konsumsi luar negeri. Misalnya tembakau untuk cerutu, kakao untuk cokelat, dan beberapa jenis jamur kualitas ekspor. Jadi, kalau sebaliknya kita lihat produk impor, mulai dari biji-bijian, daging, telur, bunga-bungaan, dan buah-buahan sekarang merajai pasar, harap maklum. Kita diminta selalu sadar, semua tumbuhan dan hewan, pada dasarnya internasionalis, warga dunia yang universal.

Tidak satu tanaman pun boleh dijadikan fanatik pada aliran politik, agama, atau etnis tertentu. Memang banyak yang endemik, hanya hidup dan tumbuh produktif di tempat tertentu. Namun pada dasarnya, semua buah termasuk kurma dan zaitun diciptakan untuk semua manusia, tidak terbatas pada aliran kepercayaan, suku bangsa, apalagi partai politik. Karena itu kurma diciptakan untuk semua orang. Begitu juga ubi cilembu serta kentang yang tumbuh subur dan berbuah lebat di tempat tertentu.

Padahal, seperti kita dengar pada awal pembicaraan ini, setiap produk unggulan itu punya asal muasal dan tempat leluhur sendiri. Buktinya, singkong yang paling murah pun datang dari negeri di balik bumi. Dan kita menyaksikan, hampir setiap saat muncul pendatang baru, baik dari tanaman hias, pohon pelindung, tanaman industri, ternak, dan buah-buahan.

Kenyataannya, meskipun diberi nama duku palembang, umumnya datang dari Jambi. Terong belanda banyak di Medan. Asam jawa dan cabai jawa subur di Malaysia, dan seterusnya. Moralnya sudah jelas, tanaman mengajarkan manusia toleransi yang tinggi. Bukan toleransi dalam arti menerima, membiarkan, tapi juga melindungi dan mengembangkan. Topik seperti inilah paling pas untuk renungan akhir tahun.

Pertanyaannya, bagaimana aspek agribisnis bagi tanaman dan ternak tamu ini? Secara 5 3 ekonomis seringkali dominan, ” karena membawa aspek dan finansial tinggi. Namun, dari bisnis, produk tamu dikhawatirkan bakal membunuh, bahkan melenyapkan hasil dan kerja di dalam negeri.

Proteksi dan rekonsiliasi

Topik terpenting dunia agribisnis memasuki 2005 mendatang, bisa jadi akan menyangkut proteksi. Hal itu sudah berawal secara gegap-gempita pada masa kampanye 2004 silam, tentang proteksi untuk para petani tebu. Sejarah menunjukkan, Indonesia pernah menjadi eksportir gula nomor dua terbesar di dunia, dengan produksi 3 juta ton pada 1930. Akhirnya, karena ketinggalan teknologi dan memburuknya produktivitas tanah serta kualitas manajemen pertebuan kita, Indonesia jadi pengimpor gula yang besar.

Jauh-jauh hari sebelum menjadi Menteri Koordinator, Ir Abu Rizal Bakrie sebagai ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), selalu tampil sebagai pendukung proteksi untuk produk-produk pertanian. Motivasinya sederhana, menyelamatkan dan melindungi produk-produk lokal dari serbuan impor.

Mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih, juga cukup memberikan dasar untuk memperkuat petani. “Petani Indonesia hams belajar berdagang,” begitu nasihatnya dalam sebuah pekan agribisnis, sesaat sebelum habis masa jabatannya. Dengan semangat berdagang itu, berbagai daerah yang kini hidup di alam otonomi dan desentralisasi diharapkan dapat berlomba-lomba mengunggulkan agribisnisnya. Sebuah kabupaten, seperti Majalengka, misalnya, bertekad menjadi pemasok daging sapi terbaik di Jawa Barat.

Kabupaten Boyolali, di Jawa Tengah, bahkan lebih visioner dengan mengembangkan produksi kentang di dua kecamatan yang terletak di ketinggian 1.000—1.500 m dpi. Uniknya, segala upaya itu ditempuh melalui kerjasama dengan produsen kentang terbesar di dunia, yaitu Kanada. Sepintas akan ada gejala munculnya rekonsiliasi, perdamaian antara pengusaha besar dan pengusaha kecil.

Kenyataannya, rekonsiliasi dalam perdagangan hasil bumi bisa menjadi tantangan terberat untuk pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Persaingan pedagang besar dan kecil yang dipicu oleh perang harga, yaitu berlomba untuk menjual lebih murah, pada akhirnya merugikan semua pihak.

Sekadar ilustrasi, tengok saja pasar Blitar, tak jauh dari rumah ibunda Presiden SBY. Pedagang telur besar (lebih dari 5.000 butir/hari), berani menjual separuh dagangannya dengan harga peternak, untuk menutup munculnya pesaing-pesaing kecil. Kalau sekilo telur dibeli dengan Rp8.000 di peternak, bisa dilempar ke pasar dengan harga sama. Bahkan diturunkan jadi Rp7.500 untuk menghancurkan kompetitor kecil yang baru ingin muncul.

Memang telah cukup lama dunia diwarnai oleh perang dagang, saling serbu, saling mematikan antara pengusaha multinasional dan pebisnis lokal maupun nasional. Namun, bila kita kembali pada karakter universal di dunia pertanian, ketakutan bahwa yang besar membahayakan yang kecil, dan yang kecil mengancam yang besar, rasanya tidak perlu dibesar-besarkan.

Justru sebaliknya yang bakal terjadi, para petani gurem pun dapat menyediakan bahan baku eksklusif untuk industri besar.

Contohnya, para penanam jagung khusus untuk sebuah pabrik bir di Filipina. Bukan gairah saling membunuh yang harus digalakkan, tetapi semangat saling mengisi dan bekerjasama di antara petani gurem dan pebisnis raksasa.

Kita harus yakin bahwa para penggemar apel malang tidak akan hilang, karena tertelan habis oleh banjir apel Washington, apel perancis, dan apel kalifomia. Sebaliknya, justru beragam varitas buah, ternak, dan sayur-sayuran lokal akan memperkaya dan membuat produk-produk tamu lain tetap terhormat. Kenyataan menunjukkan, di bawah bombardir telur dan daging ayam impor pun, peternak ayam kampung malah mendapatkan penggemar setia.

Yang lebih penting dari itu, Kepulauan Nusantara ini masih terus terbuka dengan tanaman dan ternak-ternak varietas baru. Mereka tidak pernah terbayangkan bakal bisa hidup dan berkembang di sini sebelumnya. Kalau pun tidak dapat bersaing pada kualitas bahan baku, masih terbuka peluang di bagian hilir, inovasi pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya. Satu-satunya modal yang diperlukan untuk itu adalah kesediaan bekerja keras dan berjiwa besar. Itulah kelebihan manusia pertanian, yang tanpa kenal lelah, selalu ingin memberikan yang terbaik, sambil menyadari bahwa mereka juga hanya tamu yang mampir minum di dunia.***

Referensi

[1] Digital Batavia – – – Profil Tokoh. https://bataviadigital.perpusnas.go.id/tokoh/?box=detail&id_record=46&npage=4&search_key=&search_val=&status_key=&dpage=1. Accessed 9 Sept. 2021.

[2] “Kementan Dorong Pendayagunaan Singkong Untuk Cadangan Pangan Keluarga dan Masyarakat.” pangannews.id, https://pangannews.id/public/berita/1628043180/kementan-dorong-pendayagunaan-singkong-untuk-cadangan-pangan-keluarga-dan-masyarakat. Accessed 9 Sept. 2021

Ada Kebun Nanas 500 ha di Kampar

0

Buah bulat lonjong bersisik tergantung di tiang stainless steel di sebuah pasar swalayan di Pekanbaru, Riau itu menarik banyak pengunjung. Sosok besar, 1,5 kg dan warna kuning kehijauan membangkitkan selera makan siapa pun yang melihatnya. Rasa manis dan nyaris tanpa serat. Itulah nanas andalan TH Mix Farming yang dikembangkan di lahan gambut seluas 500 ha di Kualu, Kampar, Riau.

Setidaknya 5.000 buah/hari dipanen dari lahan itu. Hasil panen singgah terlebih dulu ke “Rumah Nanas” nama gudang yang terletak di jalan raya Pekanbaru Bangkinang. Di tempat itu para pedagang buah dari luar kota memilih dan menyeleksi nanas dengan kualitas yang diinginkan. Buah berkuncung itu diangkut ke atas truk. Setiap 3 hari sekali 2 sampai 3 truk berkapasitas 4 ton mengangkut nanas dikirim ke Padang, Medan, dan Batam.

TH Mix Farming juga memasok ke beberapa pasar swalayan, seperti Gelael, Matahari, dan Ramayana. Meski dalam jumlah kecil, ia mengirim nanas untuk kebutuhan hotel berbintang dan pabrik roti di ibukota Bumi Lancang Kuning itu. Itu lantaran nanas yang diproduksi, ” Ingin mencicipi nanas enak, di sini tempatnya,” ucap M Syifried Wahab, konsultan pertanian saat menemani peliputan Kami di Pekanbaru.

Nanas Makin Marak Dibudidayakan

Jarang orang yang tahu ada kebun seluas 500 ha di Kampar itu. Soalnya, lokasi kebun agak jauh, sekitar 5 km dari Jalan Raya Bangkinang Pekanbaru setelah melewati jalan tanah berkelak-kelok. Hamparan hijau tampak jelas begitu memasuki pintu gerbang.

Anggota Bromeliaceae itu ditanam rapi dalam petakan-petakan kecil, masing-masing berisi 2000 tanaman per ha. Jarak antar barisan 1,5 m dan antartanaman 50 cm x 70 cm. Masing-masing petak dipisahkan parit yang selalu tergenang air sedalam 1 sampai 1,5 m dari permukaan tanah. Konsep itu meniru perkebunan nanas di lahan gambut Kalimantan Barat. Menurut Suyatna, manajer kebun TH Mix Farming penanaman di lahan gambut perlu drainase yang baik agar buah bagus. “Kala penghujan nanas cenderung banyak mengandung air; kemarau kekurangan air sehingga buah asam,” katanya.

Areal penanaman terbanyak di Desa Kuapan, Kecamatan Kualu, sekitar 232 ha. Di Desa Pulobirandang, Kecamatan Tambang ada 72 ha sudah berproduksi. Areal 40 ha lagi dimanfaatkan untuk peternakan sapi dan kolam ikan.

“Rencananya lokasi ini bakal dibuat konsep agrowisata,” ujarnya. Sebagian lahan masih proses pembuatan guludan yang diperkirakan selesai awal tahun ini.

Pemandangan hijau di kebun yang terlihat sekarang ini kontras dengan kondisi sebelumnya. Semula lahan itu hanya disesaki semak belukar.

Pertanaman nanas hanya dijumpai di Kualu, Kampar. Di sana selain TH Mix Farming, ada beberapa pekebun yang menanam nanas sekitar 1 ha. “Justru dibukanya kebun ini terinspirasi dari kebun seluas 1 ha itu,” tutur Suyatna.

TH Mix Farming mengawali penanaman pada 1999. Masyarakat di sana pun meresponnya, maka dibuatlah perkebunan nanas skala besar.

Rencana itu baru terealisasi pada Januari 2002 dengan luas lahan sekitar 20 ha. Perluasan tanam terus dilakukan secara bertahap. “Beberapa waktu lalu kami membuka lagi 50 ha,” ujarnya. Sebanyak 120 tenaga ketja terserap untuk proyek itu.

TH Mix Farming terbuka untuk umum. Siapa pun boleh datang ke sana. Mereka leluasa memetik dan makan nanas sepuasnya di tempat. Bahkan boleh membawa pulang sebagai buah tangan.

kebun Nanas Kampar
Nanas Kampar Diminati karena rasa manis dan tanpa serat

“Masyarakat bisa melihat langsung cara bertanam nanas dan informasi apa pun yang mereka butuhkan,” ujarnya.

3 varietas Nanas Unggulan

Yang pertama kali dikembangkan TH Mix Farming adalah nanas tambang si ratu. Jenis itu salah satu varietas lokal asal Kualu yang sudah diperbaiki kualitasnya. Lantaran manis dan bersosok besar, bobot mencapai 1,5 kg, tambang si ratu cepat memikat hati konsumen.

Selain tambang si ratu, 2 jenis unggul lain yang juga ditanam yakni si harum dan si molek. Meski nyaris sebesar tambang si ratu, jenis si harum mudah dibedakan dari saudaranya itu. Bobot si harum 1 sampai 1,5 kg. Ia mempunyai keistimewaan pada aromanya yang tajam.

Aroma harum tercium bila kita melintas dekat tanaman. “Hampir sama seperti ketika berada di kebun durian,” kata Suyatna. Itulah sebabnya ia diberi nama si harum. Sementara nama si molek disematkan pada nanas jenis ke-3 karena meski mungil tetap berpenampilan menarik, bobotnya 1 kg ke bawah.

Kelebihan Ananas comosus itu pada rasa yang manis. Saking manisnya, tulang daging yang renyah terasa manis. Tingkat kemanisan ketiganya memang belum pernah diukur, tapi kandungan gizi sudah dicek di laboratorium. Keunggulan lain, kalau dimakan lidah tidak terasa perih. Daging pun tidak beserat. “Biasanya gigi akan ngilu dan serat tersangkut di sela-sela gigi,” ungkapnya.

Tembus pasar di luar Kampar

TH Mix Farming menuai panen perdana pada November 2002. Awal pemasaran terbentur kendala lantaran belum dikenal. Strategi yang dilakukan dengan “mendompleng” nama nanas kualu nanas lokal di Bangkinang. Promosi ke pasar swalayan pun dilakukan secara perlahan-lahan. Cara itu ternyata mendapat sambutan dari konsumen.

“Membuat brand image ke konsumen memang susah-susah gampang. Namun, dengan menjaga kualitas dan rasa, konsumen bakal meminati produk kita,” kata Hendrik staf TH Mix Farming. Buktinya, nanas berlabel TH Mix Farming tidak hanya dipasarkan di pasar swalayan di sekitar Pekanbaru, tetapi gaungnya hingga ke Padang, Medan, dan Kepulauan Riau.

Di pasar swalayan si harum dibandrol Rp2.500/buah. Sementara si molek yang berbobot kurang dari 1 kg/buah Rp2.000/ buah. Harga tambang si ratu lebih tinggi, Rp3.500/buah. Maklum, bobotnya pun lebih besar, di atas 1,5 kg.

Antara Paun, Madu, dan Parigi

Masih ingat grup musik The Corrs? Kelompok asal Irlandia yang beken dengan lagu Irresistible itu digawangi 4 bersaudara Corrs: si sulung Jim dan 3 adiknya yang jelita. Tak melulu cantik, gadis-gadis Corrs punya kepiawaian masing-masing. Sharon, si penggesek biola; Caroline, penggebuk drum; dan Andrea, sang vokalis. Ingin seperti The Corrs, Kalimantan Tengah pun memperkenalkan 3 nanas unggul lokal dengan kelebihan masing-masing.

Ketiga Ananas comosus itu ialah paun, madu, dan parigi. Nanas paun berkadar air tinggi, berukuran besar dengan bobot mencapai 2 sampai 3 kg per buah. Rasanya manis bercampur asam. “Makanya meski banyak dijual segar di jalan-jalan kota Sampit menuju Palangkaraya, nanas paun lebih cocok diolah menjadi sirup dan selai,” tutur Ir Erwati RN, staf Dinas Pertanian Kabupaten Kota Waringin Timur.

Penanaman pina sebutan di Spanyol paun terbanyak di Kecamatan Ba’amang terutama Kota Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur. Di sana anggota famili Bromeliaceae itu sudah lama dibudidayakan. Total penanaman di seluruh Kecamatan Ba’amang mencapai 500 ha. Itu lahan para pekebun dengan kepemilikan rata-rata 3 sampai 4 ha.

Lahan Yang Berpasir

Panen Buah Nanas Kampar
Panen Nanas Kampar

Nanas madu banyak dikembangkan di Kabupaten Kapuas 8 jam perjalanan dari Kota Waringin Timur lewat darat. Ukuran buah lebih kecil ketimbang paun, tapi rasa manis dan kadar air sedikit. Makanya cocok untuk buah segar pelepas dahaga. Sayang, penanaman nanas madu masih terbatas.

Nun di sebuah desa di Kabupaten Barito Selatan, parigi-lah yang jadi nanas unggulan. Kualitas nanas parigi seperti madu kapuas yang manis dan kering. Daging buah berwarna kuning terang menarik. Uniknya bila ia ditanam di luar sentra Desa Parigi, rasanya jadi sedikit asam. Diduga jenis tanah berpasir di daerah sentra penyebab rasa lebih manis.

Nah, bila kebetulan Anda sedang dijamu makan di hotel, restoran, dan pesta perkawinan di seputaran Barito Selatan dengan hidangan penutup buah nanas, bisa dipastikan itulah nanas parigi. Pemasaran po lo mah nama di Cina melanglangbuana hingga Kalimantan Selatan.(Mitra)

Tong Medaye Durian 110 Tahun

0

Suatu hari, pada 1800-an, di luar kompleks Istana Narmada, Kerajaan Karangasem Sasak. Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem menanam 20 biji durian hasil perburuan ke India Selatan. Batang-batang Durio zibethinus berjejer rapi dengan jarak tanam 12mxl2 m. Kini setelah lebih dari 110 tahun, kelezatan tong medaye salah satu durian terbaik masih bisa dinikmati oleh anak cucu dan rakyat sang raja.

Rakyat Pulau Lombok beruntung. Satu dari 20 pohon yang ditanam sang raja menjadi durian istimewa. “Rasanya manis, pulen, dan legit. Daging buahnya juga halus, hampir tidak berserat,” kata Ir Achmad Sarjana, kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH), Nusa Tenggara Barat. Daging buah tebal, berwarna kuning dan beraroma lembut.

Lantaran rasanya paling enak dibanding durian dari pohon lain, ia dinamakan tong medaye. Sebutan itu diambil dari bahasa Sasak, yang berarti tidak diragukan lagi rasa dan keunggulannya. Penampilan tong medaye pun menarik. Warna kulit cokelat kehijauan. Bentuk buah bulat agak lonjong, panjang 24 cm dan diameter 19 cm. Duri yang menyelimuti kulit buah jarang dan berbentuk kerucut.

Buah Durian Legit
Durian Legit

Tak hanya Sarjana yang kagum terhadap tong medaye. Dr Ir Moh Reza Tirtawinata, MS, direktur Taman Wisata Mekarsari (TWM) Cileungsi, Bogor, pun sependapat. “Itu durian luar biasa. Ia pilihan raja,” katanya. Sebetulnya ke-20 pohon itu menghasilkan buah lezat. Tong medaye menjadi luar biasa karena ia terbaik di antara yang baik.

Ketagihan

Sampai saat ini, tong medaye masih bisa dinikmati masyarakat setempat atau pelancong yang datang ke Istana Narmada. Durio zibethinus itu memang tumbuh di Taman Narmada, sebuah taman di luar kompleks istana. Letaknya 11 km dari kota Mataram ke arah timur. Bila konsumen sudah mencicipi tong medaye, pasti ketagihan. Tak heran, panen berikutnya mereka rela antre untuk mendapatkannya.

Lantaran tong medaye dan durian lain berumur di atas 100 tahun, sosoknya meraksasa. “Batang utamanya sangat besar, butuh 3 orang dewasa untuk memeluknya,” kata Reza yang berkunjung ke sana pada Agusutus. Tinggi pohon asal biji itu mencapai 20 sampai 30 m. Pada masa itu perbanyakan dengan okulasi, cangkok, dan sambung pucuk belum dikenal. Setiap pohon mempunyai bentuk tajuk dan percabangan meninggi.

Menonjol


Pohon induk tong medaye tampak menonjol. Ia paling tinggi, 30 m dengan lebar tajuk 20 m. Kedudukan percabangan rapat dan membentuk tajuk seperti piramida terbalik. Bentuk batang bulat, berwarna cokelat keabuan. Daun berwarna hijau muda dengan permukaan bawah kecokelatan. Dengan tajuk lebar dan banyak percabangan tak heran setiap musim dipanen 900 sampai 1.000 buah.

Meski tua, tanaman terlihat sehat. “Belum pernah ada durian setua itu dengan kondisi sehat. Lazimnya durian tua di Indonesia sudah tidak produktif karena batang keropos diserang rayap,” kata Reza.Pohon durian itu tumbuh subur lantaran anak cucu sang raja hingga kini tetap merawatnya. Kebun durian seluas 3.000 m2 itu dimiliki oleh keluarga dan kerabat Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem dengan mengusung nama Yayasan Pura Krama.

Melihat potensi kebun durian itu, pada 1996 tim peneliti dari BPSB-TPH berjumlah 8 orang melakukan penelitian selama 5 tahun. Salah satu kerja tim itu ialah mengidentifikasi durian paling unggul, baik dari segi rasa maupun kestabilan produksi. Jerih payah mereka tidak sia-sia. Pada pertengahan 2003, lewat keputusan Menteri Pertanian RI, tong medaye dinobatkan sebagai varietas unggul nasional yang layak dikembangkan. Durian pilihan raja itu pun mengikuti jejak tamalatea dan lalong, 2 varietas unggul yang sebelumnya dilepas. (Mitra)