Bokashi Pupuk Kandang Resep Sehatkan Tanah

Avatar
  • Whatsapp
Kesuburan tanah
Kesuburan tanah meningkat berkat bokashi

Sebutan “tanah sakit“ baru muncul 2 dasawarsa terakhir. Julukan itu diberikan pada tanah yang diberi pupuk terus-menerus tapi produksi tetap, bahkan menurun. Prof Go Ban Hong, pakar ilmu tanah Indonesia, menyebut dengan sebutan lebih menyeramkan: “tanah lapar!” Pada tanah seperti itu “Berapa pun pupuk yang diberikan tanah tetap rusak. Kesehatan tanah secara fisik, kimia, dan biologi terganggu,” tutur Dr Dedik Budianta, ahli kesuburan tanah dari Universitas Sriwijaya.

“Tanah sakit” hanya bisa dipulihkan dengan memperbaiki kesehatan fisik, kimia, dan biologi sekaligus. “Cara paling bijak dengan memberi bahan organik,” kata Dedik. Bahan organik menggemburkan tanah dan memperbaiki kemampuan tanah memegang hara dan air. Ia juga mengandung hara makro dan mikro yang lengkap ketimbang pupuk sintetis. Beragam mikroorganisme pun terdapat pada bahan organik.

Sayang, pembuatan pupuk organik secara konvensional kerap dikeluhkan pekebun. “Membuatnya lama. Butuh 1—3 bulan untuk mengomposkan. Bila langsung dipakai ke tanah, tanaman malah mati kepanasan,” kata H Agus Asmara, pekebun salak di Cimande, Bogor. Lantaran itu Agus mengadopsi teknik membuat bokashi pupuk kandang dari H. Hamid. Yang disebut terakhir pelopor pertanian organik di Bogor yang menimba ilmu membuat bokashi di Thailand pada awal 90-an.

Bokashi Semiaerob

Bahan baku utama membuat bokashi dipilih kotoran kambing. “Prinsip membuat bokashi ialah mempercepat pelapukan. Kotoran kambing dipilih karena kaya hara dan bahan tersedia,” ujar Agus. Bahan lain berupa arang sekam, dedak halus, gula, effektive mikroorganisme (EM) 4, dan air (lihat ilustrasi). Sekam bakar dipakai karena mengandung karbon aktif. Ia diharapkan mampu menyerap residu pupuk dan pestisida yang tersisa di lahan. Dedak dan gula berperan sebagai “makanan” awal mikroorganisme yang ditambahkan.

Cara yang dipakai Agus sedikit berbeda dengan pembuatan bokashi pada umumnya. “Saya menggunakan sistem aerob (butuh udara, red). Yang lain membuat bokashi secara anaerob (tanpa udara, red),” kata Agus. Lantaran itu penumpukan bahan baku yang sama secara berlapis-lapis dihindari. Ir M Zakky Husein dari PT Songgolangit. distributor di Jakarta menyebut cara itu dengan sebutan semiaerob. Pasalnya, mikroorganisme dalam EM4 sebagian bersifat aerob dan anaerob.

Agar terjadi suasana aerob, Agus menggunakan lantai dasar untuk menumpuk bahan baku yang mampu mengalirkan udara. Itu berupa tanah yang dipadatkan, dilapisi sekam mentah setebal 10 cm dan pelepah bambu. Di atas pelepah bambu bahan baku berupa kotoran kambing yang dicampur sekam bakar ditempatkan lengan tinggi maksimal 15 cm.

Langkah dan Perlakuan

Dedak ditaburkan di atasnya tipis-tipis, ulahnya sekitar 5% dari bahan baku. Sementara EM4 sebanyak 10 cc dilarutkan dalam 10 1 air. Larutan disiram secara merata pada bahan baku berlapis dedak, lalu ditutup karung bekas. Tiga hari berselang atau 72 jam setelah hangat, bokashi pupuk kandang siap dipakai. Agar lebih cepat memperbaiki tanah dan kandungan hara siap diserap tanaman, Agus menggiling bokashi menjadi tepung.

Tepung bokashi itulah yang menjadi teman setia Agus dalam menyehatkan “tanah sakit.” Di sanalah sejak setahun lalu ia memproduksi 16,4 ton salak per tahun dari 2.200 tanaman. (Destika Cahyana)

Editor: Anton Nb