Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaAgrobisnisBriket Batubara di Indonesia, Briket Sekam di Thailand

Briket Batubara di Indonesia, Briket Sekam di Thailand

Kulit padi yang dipadatkan itu dibakar pada suhu 250 sampai 270°C selama 10 menit. Begitu keluar, panjangnya menyusut tinggal 10 cm. Warnanya juga jadi cokelat Kehitaman. Masyarakat Chitralada memanfaatkannya sebagai bahan bakar memasak. Yang dilakukan Baihaqi Idrus mirip hal itu. Bedanya, pensiunan Departemen Kehakiman itu memanfaatkan batubara sebagai bahan baku, bukan sekam padi.

Menurut Baihaqi, briket batubara biasanya berasap tebal dan hitam. Selain itu, jika sudah menyala sangat sulit untuk dimatikan. Itu sebabnya, 2 tahun silam sosialisasi penggunaan batubara untuk rumah tangga gagal. Padahal harga briket batubara murah, hanya Rp900 per buah. Bandingkan dengan harga seliter minyak tanah Rp2.000. “Perlu briket senilai Rp 1.500 agar setara dengan seliter minyak tanah,” kata Dr Agus Rusiana, kepala Balai Besar Teknologi Energi BPPT di Jakarta.

Tanpa asap


Setahun terakhir, Baihaqi Idrus meriset penggunaan kompor batubara. Hasilnya,kompor silinder setinggi 50 cm dengan tabung batubara dari porselen. Kompor itu irit dan bebas polusi. Jika dinyalakan, tampak api berwarna biru tanpa jelaga hitam. Yang menggembirakan, api kompor itu dapat dihidup-matikan seperti kompor minyak tanah. Itu karena kompor batubara diberi pengatur udara. Saat lubang udara itu ditutup, praktis api mati.

Keuntungan lain, karena tabung berada di bagian atas kompor, ia mudah dibongkar-pasang untuk dibersihkan. Ketika bahan bakar habis, untuk mengisi briket, tutup atas tabung tinggal dibuka. Namun bila memasukkan briket sedikit, dipakai penjepit. Dengan penjepit itu briket diselipkan ke lubang yang terletak di tengah kompor.

Untuk menyalakan kompor, dipakai starter yang terdapat di lubang udara. Starter itu berupa briket sebesar cup es krim dengan kepadatan rendah. Starter disulut dengan karton dipilih karena mengeluarkan sedikit asap yang dibakar sampai apinya merembet ke briket yang terletak di atasnya. Saat api kompor berwarna biru, itu tandanya

Bahan Baku Melimpah


Batubara menjadi perhatian Baihaqi lantaran ia prihatin melihat para tetangga di lingkungannya selalu berkeluh-kesah tentang melambungnya harga bahan bakar minyak. Padahal, saat itu briket batubara sudah digadang-gadang pemerintah sebagai pengganti minyak tanah. “Orang lebih familiar dengan minyak tanah sehingga lebih banyak dipakai,” ujarnya.

Memang, pengguna batubara terganjal rendahnya kualitas briket di pasaran. “Orang enggan memakai karena agak sulit menyalakan, apalagi mematikannya,” ujar Nurhayati, istri Baihaqi. Itu pula yang mendorong pasangan suami istri itu membuat briket batubara bersih dari segala kerepotan. Itu terwujud pertengahan tahun ini, setelah mereka mendapat rumus kepadatan dan kadar karbon yang tepat dari batubara olahan.

Karya Baihaqi itu memang bak oase di tengah gurun pasir saat sumber energi fosil terus menyusut. Inilah salah satu bentuk energi alternatif yang akan banyak membantu masyarakat seperti halnya sekam padi di Chitralada, Thailand.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments