Buah Makasar: Di Sini Ditebang, di Cina Obat Kanker

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Buah brucea
Buah brucea, mulai dikebunkan

Tersia-sianya buah makasar diungkap oleh Prof Dr Yusuf, pengobat di Sukabumi, Jawa Barat. “Anda jalan saja ke desa-desa di Sukabumi. Pohon walot banyak tumbuh di pinggir jalan menuju hutan,” katanya. Tak ada yang mengetahui kegunaan ki padesa.

Pun saat mitrausahatani mengunjungi berbagai pameran tanaman obat. Langka sekali yang mengetahui khasiat belur Brucea javanica sebagai peluruh kanker. Akibatnya, banyak walot ditebang penduduk karena dianggap liar dan mengganggu. Di hutan-hutan di Bogor misalnya. Dulu melimpah, kini sulit ditemukan.

Bacaan Lainnya

Di alam Brucea javanica tumbuh tegak setinggi 0,3 sampai 3 m. Bahkan pernah ditemukan sampai 10 m. Batang agak berambut, berwarna kuning halus. Daun memanjang sekitar 5 sampai 10 cm dan lebar 2 sampai 4 cm. Bagian ujung agak meruncing, tepi bergerigi, dan berwarna hijau. Buah berwarna hijau keluar dari pinggiran batang daun. Ketika matang warna berubah hitam. Bentuknya oval, rata-rata berdiameter 7 mm Bila kering buah akan keriput seperti biji pepaya kering. Perbanyakan dengan biji.

Senyawa Anti kanker

Begitulah sosok tanaman yang kian langka itu. Menurut Yusuf, biji tambara marica ampuh untuk kanker karena mengandung oleic acid (C18H34O2) dan yatanocide. Keduanya menghancurkan sel kanker seperti, kanker rahim, dubur, paru-paru, kulit, hati, pencernaan, dan sebagainya. Senyawa itu juga mampu menghambat sintesis dioxiribosa nukleic acid (DNA) pada sel kanker.

Penelitian Guangdong Provincial Cancer Research Centre di Guangzhou, Cina, menyebutkan walot mengandung senyawa lain, seperti brusatol, brucamarine, brucealin, stearinic acid, dan brucenol. Diduga senyawa-senyawa itu saling bahu-membahu menangkal kanker. Bahkan menurut Winarto, kwalot juga bersifat hemostatik alias antipendarahan.

Bukan hanya biji yang berkhasiat obat. Akar buah makasar mengandung senyawa antiparasitidal. Itulah sebabnya, pada masa peperangan antarkerajaan dahulu kala, buah makasar digunakan sebagai obat malaria. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia menyebutkan, daun walot dapat diekstrak menjadi minyak.

Ia digunakan sebagai obat gosok penawar rasa sakit pinggang. Dalam buku itu, Heyne juga menulis pada awal masa kemerdekaan biji walot telah dijual di toko obat di Jakarta dengan nama ko som ci sebagai obat disentri.

Bersifat Racun

Begitu banyak khasiat yang dimiliki buah makasar. Namun, buah itu juga beracun. Konsumsi melebihi 10 biji dapat menyebabkan nyeri sewaktu berurine, mual, muntah, dan keracunan.

Anak-anak dan wanita hamil dilarang menelan Brucea javanica sekalipun dalam jumlah kecil. “Buat anak bisa mematikan. Bagi wanita hamil menyebabkan keguguran,” kata Yusuf.

Ada cara pemakaian yang aman. Sejumlah 7 sampai 8 biji walot digerus’ atau dihancurkan, larutkan dengan air secukupnya. Ramuan itu diminum sehari 3 kali sampai kanker sembuh. Di Guangdong Provincial Cancer Research Centre, biji walot diolah modern. Bentuknya menjadi emulsi dan injeksi yang disebut yadanzi. “Dosis lebih terukur dan aman,” katanya.

Pos terkait