Budidaya Cabai: Pencegahan Serangan Virus Kuning

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Amati tanaman Capsicum annuum Anda. Bila pucuk tampak cekung mengerut dan berwarna mosaik hijau pucat, berhati-hatilah. Itulah gejala serangan virus kuning. Bagai efek domino, gejala itu berdampak pada mengerutnya daun, menebal, dan daun penuh tonjolan. Akibat lebih lanjut, fotosintesis terganggu. Bila sudah demikian pertumbuhan tanaman terhambat. Penyakit ganas itu kini menyambangi sentra-sentra cabai di lebih dari 10 provinsi.

Strain sama dengan virus yang menyerang 2 tahun silam. Jika dilihat di bawah mikroskup terdiri atas 2 partikel sehingga ia juga populer sebagai virus gemini (bahasa Latin geminorum = kembar, red). Sebutan itu meminjam simbol dewa kembar, Castor dan Pollux, dalam jagat astrologi. Menurut Dr Atie Srie Duriat, ahli virologi, banyak cara yang dapat dilakukan pekebun untuk mencegah serangannya.

vektor pengendali

hama cabai
tanaman cabai

Salah satu kiat menangkal dewa kembar, semaikan benih di tempat tertutup yang bebas serangga. Demikian juga ketika membuka persemaian. Pilihlah waktu ketika serangga tidak aktif, yakni setelah pukul 10.00 atau kala matahari terik. Pemilihan varietas tahan dapat mencegah serangan. Namun, belum ada rekomendasi tentang varietas resisten virus kuning.

Pekebun di Magelang percaya pada keampuhan sebuah varietas yang tunas muda dan permukaan bawah daun penuh bulu halus. Bulu itu disinyalir menjadi benteng pertahanan. Dampaknya kutu kebul Bemicia tabaci sulit mendompleng. Kutu kebul dikenal sebagai vektor virus kuning. Serangga putih itu membonceng virus yang pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1998.

Itulah sebabnya salah satu kiat mencegah serangan virus kuning dengan mengendalikan populasi kutu kebul. Mei- Oktober populasi serangga itu membeludak. Saat itu mereka ramai-ramai bereproduksi. Bangsa kutu kemudian menyebar ke berbagai tempat. Celakanya, kutu kebul bersifat polifagus. Inangnya amat banyak meliputi berbagai famili seperti buncis dan kedelai Fabaceae), babadotan (Asteraceae), dan ratnapakaya (Asteraceae).

Inang favorit baginya, tentu saja anggota famili Solanaceae seperti cabai, tomat, dan tembakau. Setelah brekele-sebutan kutu kebul di Padang-mengisap cairan daun, sepekan berselang tanaman terinfeksi. Atie Srie Duriat menyarankan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan kutu kebul. Setidaknya terdapat 39 musuh alami untuk mengganyang kutu yang kerap terbang berombongan itu.

Dari jumlah itu 26 di antaranya merupakan parasitoid dan selebihnya predator. Parasitoid yang terbukti efektif misalnya Encarcia formosa dan Menochilus sexmaculatus. Serangga predator kutu kebul misalnya Chrysoperla rufilaris dan Orius tricolor. Mengadu domba 2 jenis serangga itu ditempuh para pekebun cabai di Lampung. Menurut Dr Sri Hendrastuti Hidayat, ahli virologi Institut Pertanian Bogor, pemanfaatan musuh alami cukup efektif.

Doktor alumnus University of Wisconsin itu menuturkan, tingkat serangan virus menurun, kurang dari 10%. Maklum Encarcia formosa dan Menochilus sexmaculatus amat “rakus”. Seekor serangga dewasa sanggup memangsa 200-400 larva kutu kebul per pekan. Encarcia betina berwarna hitam dengan abdomen kuning.

Panjang sayap 0,6 mm. Sekali bertelur ia menghasilkan 50-100 butir yang menjadi dewasa dalam waktu 10 hari. Sedangkan dandaratentoh-sebutan Menochilus sexmaculatus di Jepang-mampu menghasilkan telur hingga 745 butir.

Pagar Pembatas lahan

virus kuning
serangan virus kuning

Pekebun di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, menyiasati serangan virus kuning dengan memagari lahan. Jaring setinggi 2 m dibentangkan mengelilingi kebun. Para pekebun mengklaim, cara itu efektif mencegah serangan. Namun, Atie Srie Duriat dan Sri Hendrastuti yang dihubungi Mitra Usaha Tani secara terpisah mengatakan sebaliknya. “Kutu kebul bersifat mobile dan mampu terbang cukup tinggi,” kata Sri Hendrastuti.

Atie berkata, “Vektor itu mampu terbang hingga ketinggian 10 m.” Jika jaring hendak digunakan mesti memperhatikan ukuran lubang, yakni maksimal 50-60 mess. Lahan yang akan dipagar juga dipastikan steril. Sri Hendrastuti menyarankan jaring berwarna kuning untuk menarik perhatian serangga.

Cara lain untuk mencegah serangan penyakit itu dengan menanam border plant di tepi lahan. Pekebun di Padang, Sumatera Barat, menanam jagung di sekeliling lahan cabai. Kehadiran jagung membuat kutu kebul terlena. Mereka lebih banyak “menyantap” daun Zea mays sehingga cabai pun selamat dari incarannya.

Jika terpaksa menggunakan pestisida pilihlah yang berbahan aktif antara lain asefat, bifentrin, buprofezin, deltametrin, endosulphan, fenpropathin, dan imidacloprid. Contoh, Amcothene 75 SP (asefat), Applaud 10 WP (buprofezin), Cislin 250 WP (deltametrin), dan Confidor. Menurut riset Atie Duriat, cara tokcer menangkal serangan virus kuning dengan imunisasi tanaman. Sayang, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran itu belum berkenan menjelaskan cara imunisasi yang dimaksud.

Kiat lain dituturkan Ir Rudy Purwadi, praktikus cabai di Bogor. Menurut alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu penanaman serempak dapat menekan serangan virus. Sebaliknya, penanaman yang tidak bersamaan justru memberikan kesempatan bagi organisme untuk terus berkembang. Itu antara lain terjadi di Plosoklaten, Kabupaten Blitar. Sebab pakan untuk menunjang kehidupan organisme itu tersedia sepanjang waktu. Selama ini memang tak ada koordinasi di antara pekebun cabai.

Cara lain dengan menanam komoditas di luar famili Solanaceae atau tanaman inang kutu kebul. Banyak cara untuk menutup pintu masuk sang dewa kembar untuk menyelamatkan cabai. Kombinasi beberapa cara memungkinkan supaya pintu itu benar-benar tertutup.