Budidaya Dan Pemasaran Udang Lobster Air Tawar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Lobster Air Tawar

Peluang bisnis budidaya lobster air tawar senilai Rp 200-ribu-Rp 300-ribu per kg ke restoran Jepang itu sirna sudah. Bagi mantan karyawan PT Bina Swadaya di Jakarta itu, syarat kontinuitas dalam jumlah besar sungguh berat dipenuhi. Musababnya, kolam produksi lobster di Lentengagung, Jakarta Selatan sudah diperkirakan tak mampu menyuplai restoran itu. “Mereka minta lobster berukuran besar. Untuk dapat seperti itu butuh waktu 7-8 bulan,” ujar Hardono.

Menurut kelahiran Solo 52 tahun silam itu kebutuhan lobster untuk konsumsi cukup tinggi. “Restoran-restoran yang menjual menu lobster membutuhkan minimal 5,2 ton per tahun,” ujar ayah dari Dewi May Cahyanti itu.

Bacaan Lainnya

Tidak hanya restoran yang membutuhkan lobster air tawar. Peternak di segmen pembesaran pun meminta pasokan lobster dalam jumlah besar. Walaupun laba yang diperoleh tak sebesar kalau memasok ke restoran, ia mengaku tetap kelabakan melayani agen-agen di Jakarta, luar kota, dan eksportir. Kebutuhan rata-rata ukuran 7 cm sebanyak 25-100 ekor per minggu. Langganan di Singapura meminta dipasok 600 ekor per bulan ukuran 4-7 cm.

Kewalahan

Hal serupa juga dialami peternak lain. Gurhadi Kartasasmita, misalnya, 8 kolam berukuran 2 m x 0,5 m x 0,3 m dan hatchery seluas 45 m2 khusus dibangun untuk menampung ribuan red claw (lobster capit merah) yang akan dipasok ke pelanggan. Warung-warung seafood di Jakarta, misalnya, meminta minimal 100 kg per hari dengan bobot 1 ons per ekor. Lonjakan semakin terasa saat restoran ekspatriat Amerika Serikat, Singapura, dan Jepang pun menginginkan lobster super berukuran 15-20 cm 250 kg per minggu. “Mereka suka karena gurih dan baik bagi kesehatan,” kata Aguy, sapaan akrab Gurhadi.

David Pariyanto, eksportir yang berdomisili di Singapura juga kewalahan memenuhi kebutuhan restoran di Malaysia dan Hongkong. Setiap minggu ia harus menyediakan minimal 1-2 ton Lobster air tawar. “Di Malaysia permintaan terus meningkat. Kiriman lobster dari Indonesia tidak mencukupi,” tutur David. Itu lantaran restoran seafood di tempat lain juga membutuhkan seperti Hongkong, Jepang, dan Thailand.

Itu setali tiga uang dengan Ir Triwi Santoso, MM. Besarnya permintaan restoran di Jakarta, Bali, dan Surabaya serta luar negeri seperti

Korea dan Taiwan tak sanggup dipenuhi. “Mereka meminta 100 kg per hari dengan ukurar 12,5-14,5 cm. Artinya mereka butuh 1.500 lobster per bulan bila 1 kuintal berisi 15 ekor,” tutur kelahiran Yogyakarta 50 tahun silam itu.

Harga Lobster air tawar memang tinggi. Di restoran ternama Raja Laut, hidangan laut ini dijual di atas Rp 200-ribu per porsi. Untuk menu salad lobster dan goreng mentega, restoran Sate House di Senayan menjual Rp 300-ribu seporsi. Di kelapagading pengunjung harus merogoh kocek Rp 250-ribu untuk menikmati 4 kg lobster. Di Bali menu masakan berbahan lobster dihargai lebih tinggi. Seporsi lobster dijual Rp 200-ribu-Rp 240-ribu per kg. Dengan menjajakan lobster, harga lobster air tawar per kg yang cukup tinggi maka omzet jutaan rupiah pun bisa ditangguk restoran.

Minim pasokan lobster Air Tawar yang siap konsumsi

Kelangkaan Lobster air tawar ukuran konsumsi, 10-15 cm menyebabkan banyak permintaan tidak terpenuhi. Walaupun anakan lobster berukuran 5-7 cm membanjiri pasar, tetapi peternak kewalahan untuk menghasilkan ukuran jumbo. Musababnya, waktu yang diperlukan untuk siap konsumsi sangat lama, 7-10 bulan. Padahal restoran membutuhkan lobster dalam jumlah besar setiap hari.

Hotel-hotel terkemuka di Jakarta pun tak ketinggalan menginginkan udang air tawar itu. Budi Waluyo, peternak kelahiran Rembang, Jawa tengah itu pernah dimintai 10 kg per hari dari Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Itu belum termasuk permintaan hotel dan restoran di Surabaya yang membutuhkan 1 ton per minggu. “Permintaan lobster luar biasa, mencapai 200%. Hanya pasokan sangat terbatas,” ujar ayah 3 putra itu. Ia hanya mampu menghasilkan 5.000 ekor per bulan untuk ukuran 5 cm.

Wajar bila kelangkaan teijadi di mana-mana. Menurut Triwi langkanya pasokan lantaran budidaya secara intensif belum maksimal. Sistem EDU (extreme density unit) yang banyak digunakan oleh peternak ternyata belum mampu meningkatkan produktivitas keluarga Parastacidae itu. Tak heran bila restoran, hotel, dan warung yang menjajakan menu lobster kekurangan pasokan.

Perluasan lahan kolam pembesaran lobster air tawar

Lobster Air Tawar
Gurhadi Kartasasmlta berencana menambah kolam pebesaran

Untuk mengatasi kelangkaan pasokan, para peternak mulai mengusahakan perluasan kolam. Budi Waluyo misalnya merencanakan membuka lahan seluas 3.500m² di kawasan cinere hal itu dilakukan karena lobster membutuhkan lahan luas untuk pertumbuhan yang lebih cepat.

Hal serupa dilakukan Zacharias Liando bersama peternak lain yang tergabung dalam Himpunan kemitraan budidaya lobster air tawar Seluruh Indonesia (Hiperlobsi). “Saya dan rekan-rekan berencana membangun farm sebagai tempat penampungan agar pasar terkontrol. Jadi, harga bisa bagus dan selalu tersedia,” tutur Zacharias.
Melihat laba yang begitu menggiurkan, Gurhadi pun tak ingin ketinggalan membuka lahan tambahan. Untuk tetap bisa rutin memasok restoran dan hotel serta permintaan ekspor, ia menyewa empang seluas 9.000 m2 di Parung, Kabupaten Bogor. Hardono pun tak ingin ketinggalan. Untuk meningkatkan produktivitas hingga 10.000 per bulan, ia berencana memperluas tambak di Pulogadung, Jakarta Timur.

Kini, peternak pembenihan hingga pembesaran mendapat pekerjaan berat. Untuk menangguk laba dari lobster, mau tak mau tuntutan pasar yang menginginkan yabby nama lain lobster terpenuhi dalam waktu cepat dan berkualitas harus tercapai.

https://www.nps.gov/pipe/learn/nature/crustaceans.htm

https://www.budidayatani.com/analisis-ternak-lobster-air-tawar.html

Pos terkait