Bulungan: Kekayaan Terpendam di Tepi Sungai Kayan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Sepuluh menit kemudian, perjalanan selama 15 menit dari Tanjungselor, ibukota Bulungan pun berakhir. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 5-10 menit menyusuri tepi hutan yang temaram karena naungan tajuk-tajuk pohon setinggi 10-20 m. Kawasan itu bagai tak berpenghuni, tetapi di sanalah lokasi kebun jambu air madu seluas 4 ha. Itulah halaman rumah Fidelis Tupen Liwun.

“Di sini saya tanam jambu air madu hijau dan merah,” ujar Fidelis saat menyambut kedatangan Mitra Usaha Tani. Saat memasuki kebun yang berbukit dan terjal itu perasaan takjub langsung membuncah. Sekitar 1.000 pohon jambu air madu setinggi 2-3 m berbuah lebat tanda perawatan intensif. Mitra Usaha Tani melihat setiap cabang pohon digelayuti 3- 5 buah. Bermodal kerja keras dan semangat hidup tinggi, Paulus-sapaan akrab Fidelis- berhasil membawa buah berbentuk lonceng itu menjadi jawara dan pemenang harapan LBUN 2004 kategori jambu air.

Kebun jambu air
Kebun jambu air madu milik Paulus (kanan) di dalam hutan

Sentra duku Bulungan

Usai mengitari kebun jambu air madu selama 1 jam, Paulus dan Ir Luthfi Bansir, staf Dinas Pertanian Bulungan, mengajak Mitra Usaha Tani berkunjung ke kebun duku. “Di Bulungan, duku antutan jagoannya,” kata Luthfi. Speedboat yang dikemudikan Abdul Hafis lalu keluar dari anak sungai itu dan kembali menyusuri Sungai Kayan. Tak sampai sepenginangan, sang motoris- sebutan sopir speedboat-menepikan perahunya di kebun duku.

Kebun berjarak 10-20 jn dari tepi Sungai Kayan itu tampak dipenuhi belasan pohon berumur puluhan tahun berjarak tanam rapi. Buah hampir sebesar bola golf memenuhi tajuk pohon setinggi 20 m. Rasa takjub dan terheran-heran kembali mendera. Tak jauh dari kebun itu-kira-kira 5 m masuk ke dalam hutan-terdapat 1 pohon setinggi 50 m yang telah diregistrasi. “Umurnya 180 tahun,” ujar Luthfi sambil menunjuk lempengan besi bernomor registrasi di batang pohon.

Sama seperti yang lain, pohon itu dipenuhi buah mulai dari cabang paling bawah hingga tajuk paling atas. Menurut Luthfi pohon yang telah berumur ratusan tahun mampu menghasilkan tidak kurang 1.200 kg/pohon. Tak heran bila kebun-kebun duku di Desa Penisir dan Antutan dengan populasi 40-50 pohon sering “ditebas” Rp50-juta bila musim panen tiba.

Duku memang salah satu buah-buahan yang digemari penduduk Bulungan. Luas penanamannya di kabupaten seluas 690 km2 itu mencapai 20-30 ha tersebar di sepanjang tepian Sungai Kayan. “Di sini setiap tahun berbuah. Namun, panen raya 4 tahun sekali,” tutur Luthfi. Menurut ayah 2 putra itu panen dimulai sejak Oktober hingga Februari.

Selain duku, rambutan termasuk buah-buahan yang dihasilkan dari kebun-kebun di sekitar Sungai Kayan. Di kebun seluas 10 ha milik Dinas Pertanian Bulungan itu terhampar ratusan pohon rambutan berbagai jenis: binjai, rapia, lebakbulus, dan jenis lokal. Semua pohon Nephelium lapaceum di atas tanah rawa itu tengah berbuah lebat. “Rambutan di sini setiap musim berbuah lebat,” kata Luthfi, penanggung jawab kebun.

beragam rambutan
Ir Luthfi Bansir, sukses mengebunkan beragam rambutan di Bulungan

Pasar buah bilangan Sengkawit

Semua buah-buahan yang berasal dari seputar Sungai Kayan bermuara di Pasar Induk di bilangan Sengkawit, Bulungan. Pada akhir pekan, biasanya kuantitas dan keragaman jenis lebih banyak. Sebab pada saat itu para pedagang yang rata-rata Suku Dayak turun gunung untuk menjual hasil kebun.

Mitra Usaha Tani yang berbaur di antara para pedagang menemukan buah-buahan istimewa asal Bulungan turut dijajakan. Sekadar menyebut nama, durian berayut,lengkeng mata kucing dan mata anjing, serta duku antutan. Nanas, langsat telur, lai, jambu air madu, dan rambutan binjai juga ada. “Mata kucing paling laku,” ujar Imbung Alung, pekebun asal Dayak Lepuk Tepu. Maklum lengkeng dataran rendah itu kualitasnya tak kalah dengan lengkeng impor. Menurut Imbung setiap minggu ia membawa minimal 25 kg mata kucing ke pasar dan terjual habis.

Matahari mulai terbenam ketika Mitra Usaha Tani beringsut dari pusat pasar. Namun, bukan berarti berhenti mencari buah-buahan khas Bulungan. Di bilangan Sudirman di tepi Sungai Kayan, Mitra Usaha Tani menyusuri jalan sambil memelototi pedagang yang berbaris sepanjang 1-2 km. Malam itu di bawah sinar bulan purnama, perjalanan ditutup dengan menikmati lezatnya buah-buahan khas Kalimantan Timur di tepi Sungai Kayan.