Bumerang bagi Ulat Tentara (Grayak)

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Gerus 250 ulat Helicoverpa armigera yang telah terinveksi virus NPV. Larutkan dalam 4001 air. Itu dosis anjuran untuk mengatasi ulat gerayak di lahan 1 ha. Semprotkan larutan disebut Ha-NPV itu ke tanaman pada pagi atau sore 1.

Ulat grayak yang tengah menggerogoti langsung diam. Badan menggembung dan mengeluarkan aroma busuk, pecah, dan mati pada hari ke-3 sampai 4 2.

Nuclear Polyhedrosis Virus seJenis virus di alam. Ia lumrah berkembangbiak di kebun kedelai dan jagung. Virus NPV sama sekali tidak berbahaya. Ia tidak menyerang parasit dan inang tanaman, atau manusia. Sebaliknya, bermanfaat untuk memberantas spodoptera dan helicoverpa 3.

Di alam virus NVP memang musuh alami ulat tentara alias spodoptera dan helicoverpa. Bila daun yang dilekati virus digerogoti kedua hama itu, maka itulah awal mereka bunuh diri. Sebab, virus kemudian menyerang tenggorokan, lambung, dan usus. Akibatnya, tubuh ulat membengkak hingga pecah. Keluarlah cairan seperti susu cokelat penuh virus NPV yang berbau busuk.

Virus pada spodoptera disebut Sl-NPV, helicoverpa, Ha-NPV. Keduanya menyebar lewat aliran air. Ia bisa tinggal di daun atau di atas tanah 4.

Pestisida alami Mudah dibuat

Pestisida alami itu mudah dibuat. Bahannya bisa diperoleh di kebun. Silakan berkeliling kebun dan mencari kedua jenis hama itu. Cirinya, berwarna hitam, bertubuh gendut, dan aroma sangat menyengat. Yang mati juga masih dapat dimanfaatkan. Sosoknya kadang-kadang bengkok hingga 90°. Ambil lalu gerus hingga halus.

Bila kebun terserang helicoverpa, diperlukan 250 ekor. Untuk spodoptera, 1.500 ekor. Jumlah itu cukup untuk menyemprot lahan 1 ha. Spodoptera dikumpulkan dalam 1 kotak karena biasa hidup berkoloni. Lain halnya helicoverpa.

Ulat-ulat itu harus dipisahkan karena kanibal. Semprot ulat-ulat itu dengan Ha-NPV atau Sl-NPV. Dalam 3 sampai 4 hari tubuh tercemar virus dan mati. Gerus ulat-ulat itu hingga jadi bubuk sebelum dilarutkan dalam 400 1 air sebagai pestisida.

Lakukan penyemprotan pada pagi atau sore saat hama keluar dari persembunyian. Lagi pula NPV efektif bila tidak terkena sinar matahari. Daun yang tak sempat dimakan ulat, NPV-nya masih aktif walau daya bunuh berkurang. Ulatnya bahkan masih hidup hingga membentuk pupa dan imago.

Namun, bila ulat terkontaminasi, pupa itu akan mati. Kalau pun lolos dan jadi kupu-kupu, pertumbuhan jadi abnormal, misal sayap keriting. Akhirnya mati dalam 1 sampai 2 hari.

Sisa larutan bisa disimpan di tempat sejuk sebagai persediaan. Selain dalam bentuk cair, pestisida alami itu bisa disimpan dalam bentuk bubuk. Caranya, buat adonan terlebih dahulu dengan menambahkan 1 kg kaolin atau laktosum. Kaolin bisa dibeli di toko kimia.

Ratakan adonan itu di atas nampan plastik 3 sampai 4 hari hingga kering angin. Setelah kering, kerik tepung itu dan masukkan dalam plastik. Simpan di tempat sejuk. Pestisida alami itu tahan simpan hingga 1 tahun. Untuk menggunakannya, ambil 150 g dan larutkan dalam 400 1 air.

Serangan hebat

Hancur lantaran spodoptera (insert: Spodoptera litura)

Pemakaian virus NPV bermanfaat andai serangan ulat grayak meluas. Seperti yang pernah terjadi di Ponorogo, Jawa Timur pada 1988. Spodoptera litura meluluhlantakkan ratusan ha tanaman. Ulat itu menggerogoti daun hingga tinggal tulang 5.

Hama yang dulu disebut heliothis itu menusuk kulit kacang dan biji, lalu berdiam di dalam pindah dari polong ke polong. Gejala serangannya tidak tampak lantaran tertutup dedaunan. Serangan mencapai puncak pada Juni sampai Juli.

Intensitas serangan kedua hama itu tergantung fase pertumbuhan. Bila menyerang pada instar ke-1 dan 2, ia masih dapat diatasi dengan insektisida. Pada instar ke-3, 4, dan 5, serangan menghebat sehingga sulit dikendalikan. Penyemprotan dengan insektisida tidak efisien lagi.

Alternatif terbaik adalah menggunakan NPV. Keampuhan NPV pernah penulis buktikan di Ponorogo. Dengan insektisida pekebun perlu menyemprot 4 kali. Sedangkan dengan NPV hanya perlu sekali semprot.

  1. sukirnobiougm. “Potensi Nukleopolyhedrovirus Endogenik Indonesia Sebagai Agensia Pengendalian Hayati Ulat Grayak (Spodoptera Litura Fab.).” Pengendalian Hama Secara Hayati, 5 July 2017, https://pengendalianhayatihama.biologi.ugm.ac.id/2017/07/05/potensi-nukleopolyhedrovirus-endogenik-indonesia-sebagai-agensia-pengendalian-hayati-ulat-grayak-spodoptera-litura-fab/.
  2. Irfan, Budi, et al. Prospek Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) Sebagai Agens Hayati Pengendali Spodoptera Litura. 2007. repository.ipb.ac.id, http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/32517.
  3. Nuclear Polyhedrosis Virus – an Overview | ScienceDirect Topics. https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/nuclear-polyhedrosis-virus. Accessed 23 Mar. 2021.
  4. Setiani, Asih. Potensi Sl-Npv (Spodoptera Litura-Nuclear Polyhedrosis Virus) Dalam Mengendalikan Hama Ulat Grayak (Spodoptera Litura) Pada Tanaman Kedelai. 2012. digilib.uns.ac.id, https://digilib.uns.ac.id/dokumen/29079/Potensi-Sl-Npv-Spodoptera-Litura-Nuclear-Polyhedrosis-Virus-Dalam-Mengendalikan-Hama-Ulat-Grayak-Spodoptera-Litura-Pada-Tanaman-Kedelai.
  5. Sari, ebriani Nur Indra Maya. PENGARUH BEBERAPA JENIS INSEKTISIDA NABATI TERHADAP HAMA Spodoptera litura F. DAN HAMA Helicoverpa armigera H. Jan. 2014. repository.unej.ac.id, http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/24479.