Cara Mengatasi Kekeringan Di Kebun Buah

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
irigasi kebun buah

Kebun Anda kekurangan air pada musim kemarau? Tak perlu cemas. Banyak cara mudah dan hemat air dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekeringan di kebun Anda.

Masa stres air memang diperlukan untuk merangsang pembungaan tanaman buah. Namun, kering berkepanjangan akan memunculkan masalah. Apalagi di kebun-kebun miskin air. Bunga kering dan rontok. Tanaman pun tumbuh merana, bahkan banyak yang mati kekeringan.

Kondisi seperti ini tak perlu terjadi di kebun Anda. Meskipun kemarau tiba Anda dapat memberikan pasokan air yang diperlukan tanaman secara kontinu. Caranya?

Pemakaian kendi

Pemanfaatan kendi untuk mengatasi kekeringan di lahan sebenarnya sudah lama dikenal orang. Tujuannya untuk menjaga dan mempertahankan lingkungan perakaran tetap lembap. Sistem ini mengacu pada prinsip infiltrasi (perembesan) air. Bila terdapat dua tempat berbeda tingkat kejenuhannya, maka air akan merembes dari tempat yang lebih jenuh ke tempat kurang jenuh. Perembesan ini terus berlangsung selama titik jenuh di salah satu tempat belum tercapai.

Prakoso Heryono, pemilik kebun koleksi tanaman buah di Demak, menerapkan cara ini. Menurut Prakoso, tanah di daerahnya paling bermasalah dalam sistem drainase. Tanahnya tergolong lempung liat – pada musim hujan

air sulit merembes ke dalam tanah Akibatnya daerah itu kebanjiran. Sebaliknya, “Pada musim kemarau tanah di Demak sangat kering, bahkan sampai merekah,’ jelas Prakoso ketika ditemui Mitra Usaha Tani di rumahnya.

Untuk mengatasi masalah itu, sejak 1983 Prakoso mencoba menggunakan kendi. Kendi dipendam di b – ah pch. n hingga batas leher. Setiap pohon diberi 4 kendi s. ernpa: penjuru Masing-masing kendi diisi 2-3 liter air untuk tanaman dewasa, dan 1 liter air untuk tanaman berumur di bawah 1 tahun Air merembes melewati dinding kendi dan membasahi tanah disekitarnya. Karena itu penambahan air perlu dilakukan setiap 3-4 hari sekali saat stok air di dalam kendi habis.

Pemupukan tanaman juga diberikan Prakoso dalam bentuk larutan yang dimasukkan ke dalam kendi. “Kondisi tanah di sini tidak memungkinkan dipupuk tabur,” paparnya. Setiap kendi diisi 1 sendok Urea. Sedangkan TSP dilarutkan dulu dengan dosis 1 kg/10 liter air. Setelah itu setiap kendi diisi 100 cc larutan TSP. Pemupukan diberikan setiap 3 bulan, baik untuk tanaman muda maupun tua.

Tas kresek

Prinsip kerjanya mirip pengairan menggunakan kendi. Air perlahan-lahan membasahi tanah. Cara ini diperkenalkan oleh Raziah Mat Lin dan Zainudin Haji Meon, peneliti dari Malaysia Agriculture Research and Development Institute (MARDI) Malaysia. Saat ini beberapa kebun durian di sana telah memakai cara ini untuk mengairi kebun.

Tas kresek diisi air dan ditempatkan di bawah pohon yang akan diairi. Kedua pegangannya diregangkan dengan tali dan diikat pada dahan pohon tersebut. Posisi tas “menggantung” tetapi alasnya tetap menempel tanah. Lalu dasar tas kresek ditusuk-tusuk dengan jarum agar air dapat menetes perlahan-lahan membasahi tanah. Setiap pohon digantungi 3-4 tas kresek, tergantung umur dan sosok tanaman.

Pada musim kemarau air dapat diisi setiap minggu atau sebulan sekali tergantung ukuran tas kresek. Soal ketahanan tas, juga bergantung pada jenis dan kualitas bahan. Namun, biasanya dapat dipakai minimal 6 bulan.

Metode serupa juga telah diterapkan di kebun durian di Jambi. Tetapi sebagai wadah penampung air dipakai kantong plastik. Agar dapat berdiri tegak, kantong plastik diapit ajir kayu. Ujung-ujung plastik diikatkan pada kedua ajir tersebut. Penambahan air dilakukan setelah air di dalam kantong menipis.

Pipa berlubang bawah tanah

Cara ini cukup efektif di kebun yang masih dekat dengan sumber air melimpah. Tanah tidak sampai kering walau musim kemarau panjang. Namun, karena pemasangannya di bawah tanah, dia juga kurang efisien untuk kebun yang sudah dibuka. Bila dipasang setelah tanaman tumbuh, dikhawatirkan lingkungan perakaran akan terganggu saat penggalian.

Di sini diperlukan pipa air dari bahan yang awet dan anti-karat, misalnya pralon. Ada dua macam pipa yang dipasang. Pipa utama dan pipa lateral. Pipa utama berfungsi mengalirkan air dari sumber air ke areal kebun. Pipa lateral atau pipa pembagi berfungsi menyalurkan air ke setiap tanaman.

Untuk pipa utama dapat dipakai pralon berdiameter 3inci- 4inci. Sedangkan pipa pembaginya l,5inci-2inci. Pada sekeliling pipa-pipa pembagi diberi lubang-lubang berjarak 3- 5 cm dengan diameter lmm-2mm. Selanjutnya pipa-pipa ini ipendam di dalam areal kebun pada kedalaman 50cm-60cm.

Pipa utama dapat ditempatkan di tengah atau memotong beberapa bagian kebun. Pipa pembagi dipasang di sekitar lingkungan perakaran tanaman. Selanjutnya air dari sumber air dialirkan ke areal kebun melalui pipa-pipa tersebut untuk membasahi lingkungan akar.

Irigasi bertekanan

Pengairan dengan instalasi bertekanan (pressure watering) merupakan cara pengairan modem dan banyak dipakai di kebun-kebun buah komersial. Salah satunya di Taman Buah Mekarsari, Cileungsi Bogor. Cara ini banyak diminati karena sangat efisien.

Pemupukan dapat dilakukan melalui instalasi ini. Hanya saja diperlukan perlengkapan cukup mahal. Misalnya pompa bertekanan, pipa PVC, tanki penampung, filter, pengendali tekanan, berbagai macam klep, dan emiter. Pemasangan jaringan instalasinya juga cukup rumit dan membutuhkan jasa para profesional di bidang ini.

Instalasinya terdiri atas tiga bagian: rumah pompa, pipa-pipa utama, dan peralatan di lahan. Selain pompa bertekanan, di rumah pompa juga terdapat tanki pupuk. Rangkaian instalasinya dimulai dari bak penampungan (reservoir). Air dari reservoir masuk ke tanki pupuk untuk melarutkan pupuk yang ada. Dari tanki pupuk, air dipompakan ke lahan melalui pipa utama, pipa sekunder, dan pipa lateral di lahan. Ujung pipa-pipa lateral dipasangi emiter sebagai muara akhir pengairan. Emiter untuk kebun buah dapat berupa dripper, sprinkler, atau mikrosprinkler. Ukuran dan jenis emiter disesuaikan kebutuhan dan kondisi tanaman