Cempedak baru dari singkawang

Avatar
  • Whatsapp

Artocarpus champeden itu diboyong sepasang sahabat, Ibrahim dan Mulyono, kolektor buah-buah eksklusif di Singkawang, Kalimantan Barat, dari Kuching 5 tahun silam. Meski diambil dari negeri di Malaysia Timur itu, menurut Ibrahim, sang raja sebenarnya berasal dari Thailand.

Di kebun seluas 7 ha, 50 bibit asal perbanyakan vegetatif itu ditanam bersama 60 cempedak introduksi langsung dari Thailand dan 10 lagi dari Birma. Di kebun itu juga dikembangkan lengkeng bangkok super dan jeruk siem madu asal Thailand, lengkeng pingpong asal Malaysia, dan beragam buah mancanegara lain.

Bacaan Lainnya

Primadona

Rupanya sang pendatang dari Kuching itu termasuk genjah. Memasuki tahun kedua penanaman ia sudah memamerkan buah dan cukup produktif. Saat panen selang di penghujung 2019 musim raya sekitar Agustus satu pohon berumur 2,5 tahun dipenuhi 40—50 buah. Lantaran berasal dari perbanyakan vegetatif kualitas buah seragam. Bobot rata-rata 4—5 kg per buah yang ada di anjungan Provinsi Kalimantan Barat termasuk kecil, hanya 2,5 kg. Bentuknya lonjong sempurna. Saat dibelah terlihat daging berwarna kuning keoranyean terang menggiurkan. Aroma harum khas cempedak tercium tajam.

Begitu dicicipi, rasa manis langsung menggoyang lidah. Kandungan air pun cukup banyak. Yang istimewa daging buah sangat tebal dengan biji kempes. Malah beberapa “pongge” tanpa biji. Dami berwarna putih pun enak dimakan. Tak heran pengunjung anjungan berebut mencicipi. Sepasang turis asing usia paruh baya terlihat asyik menikmati.

Dengan sejumlah kelebihan itu wajar bila anggota famili Moraceae itu laris manis waktu dijajakan di pasar swalayan kenamaan di Pontianak. Padahal harga jual relatif tinggi. Yang berbobot 2,5 kg saja bisa mencapai Rp50.000—Rp75.000 per buah. Nilai jual itu jauh meninggalkan harga bansir dan kubupadi keduanya varietas lokal ternama di sana yang saat tidak musim mencapai Rp 17.000 per buah. Begitu panen raya harga lebih melorot lagi, cuma Rp3.000—Rp4.000 per kg.

“Sebenarnya kualitas bansir dan kubupadi yang bagus tidak kalah dengan cempedak king,” tutur Anton Kamaruddin, SP, staf perbenihan Subdin Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Barat. Bentuk buah mirip, tapi kedua varietas lokal lebih lonjong, berdaging oranye warna ini paling disukai konsumen, juicy, dan manis. Sayang, cempedak lokal umumnya diperbanyak dengan biji sehingga variasi kualitas buah sangat besar.

Cuma 5

Anjungan provinsi yang dulu terkenal sebagai penghasil jeruk pontianak itu pun memamerkan cempedak lain yang tak kalah istimewa. Orang menyebutnya cempedak super. Kerabat nangka yang diboyong dari Thailand itu mudah dibedakan dengan king dari bintil-bintil di kulit yang berukuran besar.

Ukurannya lebih kecil ketimbang king, warna daging pun kalah ngejreng— krem pucat. Namun, yang membuat istimewa, “pongge”-nya berukuran super jumbo. Satu “pongge” super setara 4 “pongge” king! Daging pun tebal dan berbiji kempes. Saking besarnya, sebuah paling berisi 4—5 pongge. Rasanya manis, tapi kurang berair. “Ini sih makan satu saja sudah kenyang,” kata seorang pengunjung.

Buat Anda yang penasaran ingin ikut mencicipi king dan super harap sabar. Kini cempedak-cempedak koleksi Ibrahim dan Mulyono mulai diperbanyak sendiri. Suatu hari nanti boleh jadi tak cuma penggemar di Pontianak yang bisa menikmati.

Pos terkait