CPU walet, Memanggil dan Meningkatkan Produksi Sarang Walet

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
cpu walet

Diputar minimal 7 jam setiap hari CD Player paling hanya bertahan 3-4 bulan. Apalagi jika digunakan terus-menerus selama 24 jam. Itu sebabnya sekarang banyak “peternak” walet beralih ke CPU (central power unit/ CPU untuk memutar CD suara walet itu awet hingga 2 tahun. Alat ini dilengkapi tombol pengatur volume, frekuensi, amplitudo, dan spektrum.

CPU pemanggil walet berbeda dengan CPU komputer. Ia dirancang khusus untuk suara berfrekuensi tinggi. “Jika menggunakan CPU komputer suara tidak sama dengan aslinya,” tutur Philip Yamin, praktisi walet di Jakarta Utara. Frekuensi suara walet jauh lebih tinggi dibanding suara manusia.

Pengalaman Philip di beberapa lokasi, CPU lebih efektif memanggil walet. Suara yang keluar dari CPU memang lebih jernih dan volume serta frekuensi bisa diatur seasli mungkin. Menurut lelaki kelahiran Tanjungbalai, Asahan, Sumatera Utara, 20 tahun silam itu, dalam waktu 1-30 hari walet sudah bisa masuk ke rumah baru. Bahkan ia menyaksikan, 1 jam setelah CD diputar, walet berdatangan.

“Tergantung lokasi, bisa cepat, bisa lambat. Tapi yang saya alami selambat-lambatnya 3 bulan,” ungkap Philip yang sering menangani rumah walet orang lain. Di Sumatera seperti Lampung, Palembang, Riau, Bengkulu, dan Jambi, relatif cepat ketimbang di Jawa. Sebut saja di Riau, rumah walet berukuran 8 m x 20 m setinggi 5 tingkat, dalam waktu 3 hari disinggahi 200-300 ekor. Perangkat pemanggil walet dipasang pada Februari 2003. Lalu, 2 bulan kemudian tepatnya April 2003 sudah terdapat 30 sarang.

Memancing walet Dengan Efektif

CPU walet manjur
CPU walet, untuk memanggil dan meningkatkan produksi

Zuki , konsultan pemasangan audio pemanggil walet mengakui efektivitas CPU walet. Rumah-rumah walet di Malaysia dan Thailand hampir semua menggunakannya. Hasilnya memang menggembirakan, dalam waktu singkat rumah-rumah baru dihuni walet. “Di Malaysia maupun Thailand memancing walet sangat gampang. Mungkin karena di kedua negara itu belum banyak rumah walet sehingga persaingan tidak seketat di Indonesia,” ucap lelaki berkacamata yag tinggal di Medan itu.

Selama 2 tahun rumah walet di Haurgeulis, Indramayu, milik seseorang yang enggan disebut namanya, kosong melompong. Padahal, persyaratan lingkungan baik makro maupun mikro kelembapan, suhu, dan pencahayaan dipenuhi. Ia kemudian mencoba memfasilitasi dengan alat pemanggil. “Ternyata efektif. Agustus 2002 saya pasang, eh…pada Februari 2003 ada 80 sarang bergelayut di lagur,” tuturnya.

Berdasarkan lacakan Mitra Usaha Tani, pemanggil walet tak melulu untuk memancing, tapi juga meningkatkan produksi. Buktinya, rumah walet Lawi Sunarpin BSBA di Lubukpakam, Sumatera Utara, masih tetap diputarkan CD suara walet meski berproduksi lumayan banyak. Bahkan, suara walet diperdengarkan sepanjang hari. “Walet menjadi lebih tenteram sehingga populasi cepat berkembang,” ujar Lawi. Cuma suara harus lebih lembut, tidak terlalu keras, dan sebaiknya suara cicitan piyik lebih dominan.

Khususnya di Medan memasang pemanggil walet adalah suatu keharusan. “Persaingan semakin ketat. Tanpa memutar CD, kemungkinan masuk walet sangat kecil,” ungkap Johannes Siegfried, praktisi walet di Medan. Tidak aneh ketika melewati J1 Perniagaan, Medan, atau di Lubukpakam, suara walet keluar dari twiter memekakkan telinga. Bagaimana tidak, suara itu saling bersahutan diputar dari pagi hingga malam, sehingga masyarakat setempat protes.

Bukan barang baru

Di Indonesia CPU walet sebetulnya bukan barang baru. Pada 2000 ia sudah dimanfaatkan oleh kalangan terbatas. Para pemilik rumah walet di Medan memulainya. Kebetulan alat yang berharga setara 6-7 ons sarang walet itu hasil kreasi orang Medan. “Kini pemakaiannya mulai menyebar di sentra-sentra walet di Pulau Jawa, seperti Haurgeulis, Serang, Balaraja, Serpong, Cilamaya, Gombong, Tulungagung, Probolinggo, dan Surabaya,” tambah Philip. Sayangnya, CPU belum diproduksi secara massal kendati di pasaran dapat ditemukan 2-3 model.

Meski CPU berperan penting, keberhasilan memancing walet sangat ditentukan oleh CD. Percuma saja punya alat bagus jika suara CD yang diputar tidak sesuai. Di pusat-pusat penjualan sarana produksi budidaya walet beragam CD ditawarkan. Ada yang berisi suara walet sedang berkumpul dalam koloni, bermain, bercumbu, dan suara perilaku-prilaku walet lain. “Kalau dipilah-pilah ada ratusan macam suara. Antara jantan dan betina saja punya dasar suara yang berbeda. Demikian walet muda dan dewasa,” ujar Philip.

Semua suara-suara itu diperlukan, sehingga tersedia pula CD yang berisi gabungan beragam jenis suara. Namun, tidak berarti cukup hanya 1 CD, sebab walet merasa jemu bila diputar yang itu-itu saja. Philip mengamati, walet yang merasa bosan jangankan singgah ke rumah, untuk datang saja enggan. Hindari penggunaan CD bekas karena walet masih teringat suara-suara yang pernah didengarnya, sekalipun berselang 6 bulan.

CD diputar sepanjang hari atau pada waktu-waktu tertentu, tergantung situasi dan kondisi. Namun, jika lokasi rumah walet dekat pemukiman, pemutaran CD sebaiknya pukul 08.00-10.00 dan 16.30-19.00. Jangan lupa, perhatikan kualitas twiter karena ia turut mendukung mulusnya suara. Untuk jaga-jaga, sediakan 2 CPU di setiap rumah walet.