Di Taiwan Budidaya Belimbing Dirambatkan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Menyusuri kebun-kebun belimbing di Pingtung seperti memasuki tenda hijau dihiasi warna kuning dan oranye. “Terpal” tenda berupa daun, cabang, dan dahan yang dibiarkan merambat di para-para berketinggian 2,50-2,75 m. Hiasan berwarna kuning oranye sejatinya buah bintang masak yang menggantung di bawah para-para.

Pekebun di kota hortikultura di sebelah timur Kao Shiung-kota terbesar di Taiwan selatan- memang berani tampil beda. Belimbing tetap ditanam teratur dengan jarak 5 m x 5 m atau 6 m x 6 m.

Setiap pekebun biasanya mengelola 0,25-1 ha. Di sela-sela barisan tanam ditancapkan tiang-tiang beton. Itu untuk menyangga para-para dari kawat besi baja yang membentuk kotak-kotak berukuran 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 30 cm. Nantinya cabang dan dahan anggota famili Oxalidaceae itu dirambatkan di situ.

Teknik Pangkas berat

Itu berbeda dengan pemandangan di Indonesia. Pun di Malaysia dan Thailand yang juga produsen si buah bintang. Pohon Averrhoa carambola biasanya dibiarkan tumbuh setinggi 3-5 m. Bentuk tajuk membulat atau seperti piramida. Dengan bentuk seperti itu, buah muncul dari cabang bawah hingga pucuk paling atas.

Itu jelas menyulitkan pemeliharaan, seperti seleksi dan pembungkusan. Apalagi bila buah terletak di ujung cabang yang sulit dicapai. Kendala itu tak ditemui pekebun di Pingtung dengan model rambatan. Lagipula tanaman jadi rajin berbuah dan kualitas buah lebih baik.

Tanaman ma-fuang-nama di Thailand-di Pingtung semula varietas lokal Taiwan. Empat tahun terakhir banyak tanaman diremajakan dengan belimbing madu asal Malaysia. Buah bintang masak asal Malaysia berwarna kuning oranye lebih disukai konsumen di Pulau Formosa. Sebab rasanya sangat manis. Varietas lokal kuning kehijauan dan besar-besar.

Tanaman asli berumur puluhan tahun dipangkas berat. Begitu tunas baru muncul langsung disambung dengan entres belimbing madu-disebut top working. Meski banyak calon cabang muncul, hanya 3-5 buah yang dipertahankan. Yang penting nantinya cabang dan ranting yang muncul menutupi seluruh permukaan para-para, tapi tidak sampai saling tumpang-tindih.

Setelah 30-40 cm “menembus” para-para, tunas dirundukkan dan diselipkan keluar masuk kisi-kisi para-para sehingga tumbuh horizontal. Batang muda itu tidak akan patah karena masih lentur, cirinya tunas berwarna merah kecokelatan. Bila batang sudah saling-bersinggungan dilakukan pemangkasan ringan. Pemangkasan juga dilakukan pada cabang yang muncul di bawah para-para.

belimbing rambat
Lebih mudah dipanen

Proses Lebih mudah

Begitu mencapai posisi horizontal tanaman lebih mudah berbunga. Itu memang sifat pada hampir semua tanaman. Bunga muncul di sepanjang batang, mulai dari pangkal hingga ke ujung. Bila cabang dibiarkan tumbuh tegak ada yang disebut apikal dominan. Hanya daun yang keluar terus-menerus, bunga-apalagi buah- tidak akan muncul.

Dengan posisi mendatar, distribusi hormon tak ada yang dominan. Ia tidak lagi mengacu pada pertumbuhan vegetatif tapi generatif. Nah, interaksi antara beberapa hormon dan karbohidrat menyebabkan pembungaan. Itu persis seperti perlakuan pada tanaman apel di daerah sentra Batu.

Meski bunga tumbuh mengarah ke berbagai penjuru, kelak seluruh buah menggantung ke bawah karena pengaruh interaksi bobot dan gaya gravitas bumi. Posisi seperti itu menguntungkan pekebun karena buah terlindung matahari. Bila buah terlalu intensif terkena sinar matahari ia akan cepat matang dan menguning. Padahal ukuran belum maksimal. Itu sebabnya pekebun di Indonesia membungkus belimbing dengan kertas karbon yang tak tembus cahaya matahari. Tujuannya agar buah mencapai ukuran maksimal dulu baru menjadi kuning.

Di Pingtung, buah matang kuning keoranyean terang meski tak dibungkus. Biaya tenaga kerja di sana sangat mahal. Buah dibungkus hanya bila diperlukan seperti untuk meminimalisir serangan lalat buah. Pengairan pun dilakukan dengan menggelontorkan air di lahan selama 2 hari bertutur-turut hingga jenuh. Sepuluh hari berikutnya, lahan tak perlu disiram. Karena buah berada pada level ketinggian yang sama-sekitar 2,50-2,75 m- pemeliharaan lebih mudah, misal seleksi karena buah busuk dan membungkus.

minimalisir Pemborosan produksi

Kelebihan lain, buah yang dihasilkan seragam dan besar-besar meski tak dijarangkan. Dengan model para-para semua daun memperoleh sinar matahari penuh sehingga proses fotosintesis lebih maksimal. Pasokan sari-sari makanan ke bunga yang menjadi buah kian memadai. Hasilnya pun memuaskan.

Pemborosan produksi pun dapat diminimalisir. Bila 1 pohon menghasilkan 300 buah 90% bisa dipanen. Dengan model konvensional paling hanya 100 buah berkualitas maksimal karena sulitnya perawatan. Memang menggunakan para-para berarti ada investasi yang dibenamkan. Namun, itu tertutupi hasil panen yang bisa diandalkan.