Dibelai Tancho Unik dan langka

tancho koi super

Koi yang kini berukuran berukuran 40 cm itu memang dicetak dalam jumlah terbatas di Negeri Sakura. Itu karena ia sulit sekali diperoleh. Joji Konishi, salah satu penangkar spesialis tancho kujaku di Selatan Jepang, menggambarkan seekor tancho kujaku berkualitas tinggi baru bisa didapat setiap 2 tahun sekali. “Karena sukar, saya baru berhasil dapat setelah menunggu lebih dari setahun,” tutur Ferry. Koi yang dibeli saat berukuran 20 cm itu diboyong pulang dari Jepang dengan bantuan dealer koi di Jakarta Barat pada medio 2003.

Tidak hanya tancho kujaku, jenis-jenis unik lain juga diburu Ferry. Maruten beni kumonryu contohnya. Koi bercorak hitam memanjang di punggung diselimuti pattern bulatan merah besar itu sungguh unik. Di Jepang untuk mendapatkan beni kumonryu berkualitas saja tidak mudah. Apalagi yang memiliki maruten (tompel merah, red). “Setelah cek di beberapa produsen koi di sana memang ada, tapi mereka ngga mau melepas karena langka,” tuturnya.

Rupanya dewi fortuna berpihak padanya. Suatu ketika masih di medio 2003, seorang karib yang sedang berkunjung ke Sakai Fish Farm mengabari jika ada hobiis yang mau melepas koleksi maruten beni kumonryu. “Saya bilang segera datangi orang itu dan beli ikannya,” kenangnya. Proses pembelian koi berukuran 50 cm itu hingga tiba di kolam rumah memakan waktu sekitar 3 minggu. “Wah, senang sekali rasanya bisa dapat,” katanya. Meski untuk semua itu tak sedikit rupiah yang harus dirogoh dalam-dalam.

Dominan tancho

koleksi koi unik dan langka
Ferry mengkoleksi koi unik dan langka

“Saya mengoleksi koi yang sulit didapat. Ada tantangan untuk bisa dapat,” ujar Ferry. Alasan itu pula yang akhirnya mendorong ayah 2 putra itu mengoleksi jenis tancho dan maruten. Maklum dari sekian banyak koi, kedua jenis itu diakui sukar didapat. Apalagi yang berkualitas dan bercorak bagus.

Seluruh koi itu dipelihara di kolam berkapasitas 30 ton. Saat Trubus berkunjung tampak di kolam tancho showa, tancho kohaku, tancho goshiki, dan tancho kujaku berenang meliuk-liuk. Yang lain jenis-jenis maruten seperti maruten sanke, maruten beni kumonryu, maruten kohaku, dan maruten goshiki. “Maruten tak kalah cantik seperti tancho,” papar Ferry. Ukuran ikan di kolam relatif besar, rata-rata berkisar 50 sampai 60 cm.

Menurut direktur sebuah perusahaan sekuritas di bilangan Sudirman itu, koi koleksi itu dikumpulkan sejak awal 2002. Tidak mudah mengumpulkan mereka dalam 1 kolam. Tancho showa misalnya, baru berhasil mengisi kolam setelah menunggu selama 6 bulan. “Saat mau beli barangnya tidak ada. Terkadang ikannya ada, tapi pemiliknya tidak mau menjual,” papar kelahiran Jakarta 33 tahun silam itu. Kejadian itu bukan sekali atau 2 kali terjadi, tapi hampir dipastikan selalu terjadi.

Contoh lain tancho goshiki. Semangat memiliki koi bercorak bak ogon itu muncul setelah melihat majalah koi terbitan luar negeri. Langkah pertama biasanya menghubungi beberapa Jakarta. Sayang barang yang diincar itu tak ada. “Saya titip sama pak Winarso dari golden koi yang sering bolak-balik ke Jepang,” ujarnya. Usaha itu rupanya membuahkan hasil. Setelah menunggu 3 bulan, koi yang diincar berhasil dibeli saat lelang koi di Sakai Fish Farm berlangsung.

Penenang pikiran

Ketertarikan Ferry memelihara koi berawal sejak akhir 2001 lantaran keindahan tubuh kerabat ikan mas itu. “Setelah melihat kayaknya cukup bagus untuk menenangkan pikiran,” ujarnya. Semula koi-koi lokal yang dipelihara di beberapa kolam-kolam kecil berukuran 2 m x 1 m. Jenisnya pun beragam seperti kohaku, sanke, showa, hingga ogon. “Ikan-ikan itu dibeli saat rekreasi keluarga ke puncak,” ujarnya. Hingga akhir 2002 koleksi koi lokalnya sudah mencapai 50 ekor dengan ukuran tubuh rata-rata 30 sampai 40 cm.

Kecintaan Direktur Batavia Prosperindo pada koi semakin dalam ketika berkenalan dengan pemilik dealer koi impor pada awal 2 0 0 3.

Diakuinya setelah rajin mengunjungi farm di bilangan kemanggisan, Jakarta yang kebetulan dekat rumah orang tuanya, minat mengoleksi koi asal Jepang kian kencang. “Pertama kali saya membeli tancho dan goshiki,” ujar alumnus keuangan dari University of Texas At Austin di Amerika Serikat itu. Pilihan pada kedua jenis itu lantaran pola tubuhnya yang dianggap unik.

Sayang, koi-koi impor itu tidak berumur panjang. Saat digabungkan dengan koi lokal yang sebelumnya dipelihara, mereka tiba-tiba meregang nyawa. “Saat itu saya dikabari selagi tugas di Kamboja,” tutur Ferry. Sepulang dari tugas, Ferry mulai mencari tahu penyebab kematian koi-koi itu. “Mereka ternyata sakit akibat tidak memiliki imun. Padahal sudah dibantu dengan diberi suntikan,” paparnya.

Rombak kolam koi

Tak mau kecolongan lagi, Ferry pun mulai merombak seluruh kolam yang ada. Maklum menurut karibnya, kolam yang ada sebelumnya dianggap tidak layak untuk memelihara koi. Untuk itu ia membuat kolam baru berukuran 5 m x 3 m berkedalaman 2,2 m. Setidaknya Rp35-juta dikuras dari koceknya. “Yang lokal saya singkirkan. Sebagian besar diberikan pada teman-teman saja.”

Setelah kolam jadi, ia pun mulai getol mengoleksi tancho dan maruten. Seluruh ikan itu dibeli dari dealer Sakai Fish Farm di Jakarta. “Saya belum punya waktu untuk membeli langsung ke Jepang,” tutur Ferry. Pilihan itu dianggap tepat lantaran kesibukannya yang sangat padat. “Tapi suatu ketika saya harus ke sana,” ujarnya lagi.

Menurut Ferry ikan-ikannya tampak sehat karena ia selalu menjaga kualitas air. Sebuah filter vortek dengan 8 bilik penyaring dipasang. Bilik-bilik berisi roll brush, zeolit dan bioball itu akan menyaring air dalam kolam selama 24 jam. “Untungnya air tanah di sini cukup bagus sehingga bisa dipakai langsung tidak perlu diendapkan dahulu,” paparnya. Tak jarang Ferry turun tangan langsung ikut membersihkan filter.

Niat untuk terus mengoleksi koi unik dan bermutu akan terus berlanjut. “Kolam ini kapasitasnya bisa menampung 23 ekor ikan. Masih bisa ditambah sekitar 4 sampai 5 ekor lagi,” ujarnya. Kini seekor kin showa dan kohaku berdarah benihanako sudah dibelinya di Jepang. “Keduanya baru saya datangkan setelah ikut kejuaraan pertengahan Januari 2004 ini di Jepang,” paparnya.

Last Modified: 7th Jan 2021