Dicari Kapulaga Untuk Ekspor

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
kapulaga

“Di mana saya bisa mendapatkan kapulaga?” tanya Musa Datuk kepada Mitra Usaha Tani. Relasi bisnisnya di luar negeri meminta kapulaga dalam jumlah besar. Pertengahan tahun lalu PT Multipratama Indahraya juga mendapat order kapulaga. Karena itu Bamunas Setiawan Boediman, MBA., sang direktur utama, ingin mengebunkannya di Kuningan, Jawa Barat.

Kapulaga memang sedang naik daun. Pada pertengahan hingga akhir tahun lalu, eksportir dan pemasok berebut mencari bahan obat dan rempah ini. Tak heran jika waktu itu harganya melonjak hingga Rp 75.000 per kg.

Menurut Eddy Kumianto, karyawan PT Herba Agronusa Semarang, tahun-tahun terakhir ini permintaan kapulaga cukup banyak. Tahun lalu misalnya, penjualan kapulaga oleh perusahaannya mencapai 50ton. Itupun hanya ke pabrik jamu dan pedagang lokal saja. Padahal, “Eksportir juga banyak yang minta,” jelas Eddy yang ditemui Mitra Usaha Tani di kantornya.

Kendala Pasokan yang kurang

Sadikin, pengepul kapulaga di Desa Tamping, Boja, Semarang, juga mengakui kesulitan memperoleh kapulaga. Padahal, buyer-nya di Surabaya mau menampung berapa saja jumlah kapulaga yang dipasoknya. Dia telah 10 tahun mengadakan kontrak jual-beli dengan pengusaha di Surabaya dengan pasokan 10ton- 15ton per bulan.

Sulitnya mendapatkan kapulaga juga dirasakan perusahaan jamu. “Dia jarang diusahakan petani dalam skala luas.’ keluh Bambang Supartoko, SP, bagian Budidaya dan Pembinaan Petani PT Sido Muncul. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pabrik, “Kami membina petani di daerah dataran menengah untuk mengusahakan komoditas ini secara senus.’ papar Bambang.

Seperti halnya Sido Muncul, PT Jamu Nyonya Meneer pun merasakan kesulitan yang sama. “Pasokan dari pemasok sulit diharapkan,” jelas Neni. Padahal diakui Humas Nyonya Meneer ini, pabrik mereka tak banyak membutuhkan komoditas ini. Paling banter hanya 100kg-200kg per bulan. Karena itu, perusahaannya juga menanam kapulaga di areal Kebun Koleksi Tanaman Obat Nyonya Meneer di Karangjati, Semarang. Bila sewaktu-waktu diperlukan, dapat dipenuhi dari kebun sendiri.

Menurut R. Broto Sudibyo dari Klinik Obat Tradisional, Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, pabrik jamu tak banyak menyerap kapulaga. Karena itulah pedagang j arang yang mau melayani permintaan pabrik jamu. Lihat saja Sadikin, kini tak lagi memasok ke pabrik jamu. “Kebutuhannya sedikit, dan pengambilannya tak rutin,” ungkap Iyah, putri Sadikin kepada Mitra Usaha Tani.

Pedagang lain, CV Sari Utama juga tak memasok ke pabrik obat tradisional. “Kebutuhan mereka sangat sedikit,” tutur Denny Wiyardi, direkturnya. Sari Utama hanya memasok ke perusahaan kue dan pedagang lokal saja. Itupun bukan jenis lokal, tapi kapulaga impor.

Memang diakui Denny, kapulaga jenis lokal sulit diperoleh. “Petani yang mengusahakannya sangat terbatas,” jelasnya. Karena itu kualitasnya tak dapat diharapkan. Padahal kalau dirawat dengan baik, tanaman ini juga akan memberikan keuntungan ekonomis.

Ungkapan Denny dibenarkan Nadirin, petani kapulaga di B a Semarang. “Dia bisa dipanen setiap saat, harganya juga tinggi,” jelasnya. Meskipun tidak dirawat khusus, umur tanaman bisa mencapai lima tahun.

Banyak macam

Kapulaga yang ditanam petani biasanya jenis lokal (Amomum cardamomum). Bijinya bulat lonjong, putih, dan sangat harum. Dalam dunia perdagangan, kapulaga lokal lebih dikenal dengan sebutan kapol. Dahulu banyak dipakai sebagai pengharum mulut. Daerah penghasil kapulaga antara lain Padang, Boyolali, Boja, Ciawi, Sukabumi, Cianjur, dan Garut.

Berbeda dengan kapol, kapulaga impor dalam perdagangan dikenal sebagai kapulaga atau kapulaga sabrang. Bijinya lebih besar, berwarna kuning atau cokelat kemerahan. Tanamannya berbeda spesies dengan kapol, yakni Elettaria cardamomum. Importir kita biasanya mengambil dari India, Sri Lanka, dan Pakistan. Dari India dikenal dua varietas, yakni malabar cardamom dari Pegunungan Malabar, dan mysore cardamom dari Pegunungan Mysore.

Kapulaga Sri Lanka dikenal sebagai ceylon cardamom (Elettaria cardamomum var. major). Buahnya lebih lebar dan pipih dibanding malabar cardamom (E. cardamomum var. minor). Sedangkan kapulaga yang berkembang di Thailand masih sejenis dengan kapulaga lokal kita. Namun, di pasaran dikenal sebagai Siamese cardamom. Selain dari negara-negara tersebut, menurut Denny, kapulaga juga ada yang dari Amerika Latin dan dataran tinggi Afrika.