Ekspor Belut: Peluang Pasar Terbentang Luas, Pasokan Kurang

Penampung Belut Untuk Kebutuhan Ekspor Belut

Ekspor belut belut sebanyak 1 ton/minggu dari Singapura hanya seperempatnya yang dapat dipenuhi oleh Leonardo Han. Itupun harus diburu ke pengepul belut di seluruh Jawa Timur. Permintaan ekspor belut memang tinggi, sementara pasokan kurang.

Kesulitan Leonardo mencari belut cukup beralasan. Pasalnya, negeri singa itu mensyaratkan belut kualitas ekspor harus berukuran 250 g atau sekilo isi 4 ekor, tidak cacat, dan sehat. Belut yang tidak memenuhi standar ditolak. Harga per kilo Sin $ 5,5 atau setara Rp 30.800. Ia membeli belut dari penampung Rp 12.500/kg.

Kalau dihitung, “Untungnya lumayan. Itu belum dipotong ongkos kirim,” ungkapnya. Leonardo mengirim belut melalui kargo dalam bentuk hidup. Ia memakai wadah styrofoam kapasitas 15 kg.

keuntungan dari budidaya belut

Belut adalah salah satu jenis hewan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak petani dan nelayan yang menanam dan menangkap belut untuk dijual.

Ekspor belut dapat memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani dan nelayan. Hal ini karena harga belut di pasar internasional cukup tinggi. Oleh karena itu, ekspor belut dapat menjadi sumber pendapatan yang cukup menguntungkan bagi petani dan nelayan.

Ekspor belut juga dapat memberikan keuntungan bagi negara. Hal ini karena ekspor belut dapat meningkatkan pendapatan negara. Selain itu, ekspor belut juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara.

Ekspor belut juga dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat. Hal ini karena ekspor belut dapat meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat. Selain itu, ekspor belut juga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Tujuan Pasar Jepang dan Korea

Rupanya daging belut tak hanya digemari penduduk Singapura. Negara-negara di Asia dan Eropa juga berminat. Peluang itu yang ditangkap Sonson Sundoro, eksportir di Bandung. Sejak 1987 ia rutin mengekspor belut hidup ke Jepang dari permintaan 50 ton/bulan. Sementara pengiriman ke Korea hanya 2 ton dari permintaan 10 ton. Harga per kilo di Jepang Rp 25.000; Korea, Rp 22.000.

Permintaan Jepang memang tinggi, “Di sana ada tradisi makan belut pada hari-hari khusus. Mereka makan seperti layaknya sashimi (ikan tuna segar-red),” ujar pengusaha yang kerap ke negeri matahari terbit itu. Mereka mensyaratkan belut kualitas ekspor mesti berukuran minimal 100 g/ekor.

Untuk memenuhi order ekspor belut pemilik Dapetan Eels Farm mengandalkan pasokan petani mitra di sekitar Bandung. Namun, jumlahnya tetap tidak mencukupi sehingga ia menolak permintaan dari Perancis, Italia, dan Spanyol.

Pasar lokal

Tak hanya ekspor belut, permintaan di dalam negeri juga cukup bagus. Hidayat, pengepul belut di Surabaya sebulan memasarkan 4-5 ton berbagai ukuran. Grade A berukuran 120-140 g dijual Rp 14.000, ft B 100-120gRp 9.500, C90- 100g Rp 8.000. “Belut ekspor kualitas A hanya 35%, sisanya pasar lokal,” jelas direktur pelaksana PT Tirto Bumi Lestari.

Ia sudah mempunyai pelanggan tetap. Tak melulu belut hidup, bentuk olahan pun laku dij ual, seperti pedagang belut goreng di Yogyakarta. “Industri keripik belut meminta ukuran di bawah 90 cm,” tambahnya.

Hidayat memperoleh belut dari beberapa pengepul belut. Namun, 2 tahun belakangan mulai kewalahan memenuhi permintaan ekspor belut. Oleh karena itu ia mencoba beternak untuk menjaga kiriman ke pelanggan
Sugeng Lestari, pedagang di Godean, Yogyakarta mampu menjual 5-25 kg/ hari. Keripik belut hasil olahannya dijual Rp 16.000/kg.

Ketika hari raya penjualan naik sampai 200%. Harga per kilo Rp 25.000-Rp 30.000. “Kalau digoreng tanpa tepung harganya mencapai Rp 50.000/kg,” ujar pedagang yang berjualan belut sejak 10 tahun silam. Harga lebih mahal karena setiap 5 kg belut basah diperoleh 1 kg kering.

Ibu 2 anak itu mendapat pasokan 2- 3 kuintal setiap hari. Harga per kilo Rp 8.000. Ia tidak mensyaratkan kualitas. “Asal ada barang selalu diterima,” kata ibu berusia 37 tahun itu. Alasannya sulit mencari pasokan, apalagi ketika bulan purnama.

Pasar swalayan di Jakarta, seperti Tops, Club Fish, Gelael juga butuh belut segar. Belum lagi rumah makan padang, warung makan tegai, dan tenda kaki lima yang menyajikan menu belut goreng. Club fish, misalnya, bisa menghabiskan 20 kg/bulan. Belut dipasok dari pengepul belut di Tangerang. “Sejak November 2001 belut selalu kosong. Pelanggan yang kerap berkunjung selalu kecewa,” jelas Rudy Priswanto, asisten manajer.

Waralaba khusus ikan konsumsi di kawasan niaga Sudirman, Jakarta Selatan, itu, mensyaratkan belut berukuran 14 cm, gemuk, dan sehat. Belut hidup dijual Rp 31.000/kg. “Belut sudah dibersihkan daleman-nya dan tanpa kepala,” tutur sarjana perikanan Universitas Brawijaya, Malang itu.

Gelael di jalan MT Haryono juga menjual belut hidup. Setiap pekan mampu menjual 8-10 kg, harga per kilo Rp 25.000. Sayangnya, “sejak Desember 2001 belut belum dipasok lagi,’’jelas Dodi, supervisor Gelael.

Pasokan Alam Makin Berkurang

Tangkapan alam terus dilakukan selama budidaya belut tidak digalakkan. Petani menangkap belut di sawah atau tepi sungai. Dengan cara itu praktis ongkos produksi rendah. Namun, saking banyaknya pemburu, jumlah hasil tangkapan kian berkurang. “Di mana-mana terjadi penurunan populasi. Habisnya belut selalu dicari setiap hari,” papar Hidayat.
Budidaya belut solusi terbaik untuk memenuhi permintaan ekspor belut. Sayangnya, cara beternak belut belum populer bahkan belum banyak yang tahu. Tak heran, dari 100 bibit yang ditebar hanya 10 ekor terpanen.

Pemain ekspor belut yang berhasil memang hitungan jari saja. Hidayat misalnya. Ia berhasil membesarkan belut di Tulungagung, Jawa Timur. Lahan seluas 2 ha dipakai untuk’ pembibitan. Bibit berumur 1,5 bulan dipanen lalu dibesarkan di bak-bak berukuran 15 x 20 m2 dan tinggi 1 m.

Setiap kolam dipanen 2,5-4 kuintal. Ia memiliki 15 petak. Hal sama dilakukan Sanson Sundoro yang membudidayakan belut di 100 bak berukuran 5 m x 5 m, tinggi 1,2 m. Setiap bak ditebar benih umur 1-2 bulan sebanyak 25 kg. Setelah dirawat intensif 4 bulan bisa dipanen 2,5 kuintal. Hasilnya ia bisa memenuhi kebutuhan ekspor belut di luar negeri.

Pembesaran Belut Bak Semen

Sampai saat ini belum ada peternak belut sukses apalagi mampu memenuhi quota ekspor belut. Budidaya belut selain sulit, juga tidak ekonomis. Pertumbuhannya terlalu lambat, la hanya memiliki FCR (Food Convertion Fate) 10. Artinya untuk menghasilkan 1 kg belut diperlukan 10 kg pakan. Namun, kalau sekadar pembesaran kini sudah bermunculan, di antaranya Dapetan Eels Farm.

Farm di Bandung itu membesarkan belut ukuran 10-15 g menjadi 100-140 g per ekor selama 4 bulan yang di tujukan untuk kebuthan ekspor belut. Tempat pemeliharaan di kolam beton berukuran 5 m x 5 m dan tinggi 1,2 m. Medianya lumpur kering, kotoran kambing/domba, bekatul kasar, dan jerami yang disusun berlapis-lapis.

Lapisan paling bawah lumpur setebal 10 cm, disusul kotoran kambing/domba 5 cm, lalu lumpur lagi 10 cm. Berikutnya bekatul kasar 5 cm, lumpur 10 cm, jerami 10 cm, dan lumpur 10 cm. Isikan air hingga mencapai tinggi 1 m.
Pupuk urea dan NPK dengan perbandingan 1 : 1 ditaburkan untuk menyuburkan jasad renik. Setelah itu cincangan batang pisang yang difermentasi selama seminggu. “Batang pisang untuk menumbuhkan pakan alami pada awal pemeliharaan,” ujar Sonson Sundoro, sang pemilik.

Sebelum benih ditebar, air diganti untuk menghilangkan busa di permukaan air. Benih tangkapan alam yang sudah diseleksi kesehatan dan ukuran dimasukkan ke bak dengan kepadatan 150 ekor/m2. Setiap minggu air diganti setinggi 15 cm. Air lama bisa menyebabkan nafsu makan belut turun. “Jika sumber air melimpah bisa menggunakan sistem running water, debit air secukupnya,” kata sarjana mesin yang beralih ke agribisnis itu.

Selama seminggu belut masih mengandalkan pakan alami. Selanjutnya ikan rucah atau apkir sebanyak 5 kg yang diberikan setiap 2 hari. Seminggu sekali tambahkan seekor ayam mati yang sudah dibakar. Kedua pakan itu dibenamkan ke lumpur. Menurut perhitungan Sonson, hingga panen dibutuhkan 30 ayam atau sekitar 45 kg dan ikan rucah 400 kg. Setiap bak menghasilkan 250 kg belut.

Hambatan dari ekspor belut

Ekspor belut di Indonesia sering mengalami hambatan. Salah satu hambatan utama adalah peraturan perundang-undangan. Di Indonesia, undang-undang menetapkan bahwa ekspor belut harus dilakukan melalui PT. Perusahaan Perikanan Nusantara (PPN). PPN adalah satu-satunya perusahaan yang diizinkan untuk mengekspor belut. Selain itu, PPN juga harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (KKP). KKP melarang ekspor belut yang berukuran kurang dari 10 cm. KKP juga menetapkan bahwa ekspor belut harus dilakukan dalam bentuk whole, frozen, atau live.

Hambatan lain yang sering dihadapi oleh para eksportir belut adalah masalah logistik. Untuk mengekspor belut, para eksportir harus menyediakan kapal dan peralatan yang memenuhi syarat. Kapal yang digunakan haruslah kapal ikan atau kapal yang khusus digunakan untuk menangkap ikan. Peralatan yang digunakan untuk menangkap ikan juga harus sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh KKP.

kemudian peraturan perdagangan internasional yang ketat. Peraturan ini membuat ekspor belut menjadi sulit dan mahal. Selain itu, ada juga hambatan biologis, seperti ketidakmampuan belut untuk bertahan hidup di luar air payau.

Oleh karena itu, untuk mengurangi hambatan yang dihadapi oleh para eksportir belut, pemerintah harus menyederhanakan peraturan perundang-undangan yang ada. Pemerintah juga harus memberikan dukungan logistik kepada para eksportir belut.

Peluang usaha dari ekspor belut

Peluang bisnis dari ekspor belut di Indonesia sangatlah besar. Hal ini dikarenakan belut termasuk dalam kelompok hewan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karena itu, bisnis ekspor belut di Indonesia sangat menjanjikan.

Peluang bisnis ekspor belut di Indonesia sangatlah bagus karena mempunyai beberapa keuntungan. Pertama, nilai ekonomis belut yang tinggi membuat harganya relatif mahal. Kedua, Indonesia memiliki lahan yang luas dan kondisi iklim yang cocok untuk pertumbuhan belut. Ketiga, Indonesia mempunyai sumber daya alam yang berlimpah sehingga biaya produksi relatif rendah.

Oleh karena itu, bisnis ekspor belut di Indonesia sangat menjanjikan. Untuk dapat memulai bisnis ini, Anda perlu mempunyai modal yang cukup dan mengikuti beberapa langkah sederhana. Pertama, Anda perlu mencari lahan yang cocok untuk budidaya belut. Kedua, Anda perlu menyiapkan peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk budidaya belut. Ketiga, Anda perlu menyiapkan pasar untuk menjual hasil ekspor Anda.

Kesimpulan

Bisnis ekspor belut di Indonesia sangat menjanjikan. Oleh karena itu, jika Anda tertarik untuk memulai bisnis ini, segeralah memulainya. Dengan memulai bisnis ekspor belut, Anda dapat memperoleh keuntungan yang besar dalam waktu singkat.

Ekspor belut adalah sebuah peluang bisnis yang menguntungkan bagi para peternak. Hal ini karena harga belut di pasaran cukup tinggi, sehingga para peternak dapat memperoleh keuntungan yang cukup besar dari bisnis ini. Selain itu, bisnis ini juga memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang di masa mendatang. Oleh karena itu, bagi para peternak yang ingin memulai bisnis ini, sebaiknya mempelajari lebih lanjut tentang bisnis ini sebelum memulai.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.