Euphorbia: Tuai Laba Di Dak halaman Rumah

Setiap bulan beberapa pedagang euphorbia di Bogor dan Jakarta mendatangi rumah Parman, sapaan Geraldus Parman, di Cimanggis, Kotamadya Depok. Mereka memboyong rata-rata 200 tanaman per bulan setinggi 15—20 cm. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu …

Setiap bulan beberapa pedagang euphorbia di Bogor dan Jakarta mendatangi rumah Parman, sapaan Geraldus Parman, di Cimanggis, Kotamadya Depok. Mereka memboyong rata-rata 200 tanaman per bulan setinggi 15—20 cm. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila itu melepas dengan harga Rp25.000 per pot. Selain pembelian partai besar, ada pula penggemar yang membeli eceran.

Pada akhir pekan pembeli berdatangan ke rumahnya memborong minimal 20 tanaman. Harganya tentu lebih tinggi, Rp60.000 untuk sebatang euphorbia 25— 30 cm. Hobiis memang lebih menyukai tanaman bersosok besar penuh bunga. Pria 33 tahun itu betul-betul beruntung setelah memperdagangkan tanaman yang dipercaya membawa keberuntungan. Semua itu bermula dari hobi mengoleksi anggota famili Euphorbiaceae.

Setelah koleksinya menumpuk, terbersit keinginan untuk memperbanyaknya. Cabang-cabang tertentu dipotong dan ditanam di pot tersendiri. Belakangan ia juga memperbanyak dengan biji. Ketika ia membeli penyangga pot asal besi, tak dinyana produsen penyangga juga membuka gerai euphorbia. Transaksi pertama terjadi di sana. Dari satu konsumen, nama Parman terus beredar dari mulut ke mulut pedagang.

Geraldus Parman bukan satu-satunya orang yang menuai laba dari perniagaan euphorbia. Di Jagakarsa, Jakarta Selatan, ada Irma Kamu yang memanfaatkan halaman rumahnya sebagai ruang pajang. Perempuan kelahiran Manado 4 Mei 1942 itu memperoleh tambahan pendapatan Rp3-juta—Rp6-juta per bulan. “Lumayan bisa untuk menambah uang belanja,” kata nenek 2 cucu.

Seperti Parman, Irma semula juga hobi mengoleksi bunga delapan dewa. Semakin hari koleksinya kian bertambah. Selain belanja jenis baru, mantan guru Sekolah Kepandaian Putri itu juga memperbanyak dengan setek. Setahun lalu ia terpikir untuk menjual sebagian koleksinya. Sebuah papan berukuran 1,2 m x 0,5 m bertuliskan Menjual Tanaman Hias Euphorbia digantung di depan rumah.

Irma hanya mengandalkan orang lalu lalang di depan rumahnya yang kebetulan di tepi jalan besar. Ratusan euphorbia berbunga semarak berjajar rapi di halaman berukuran 5 m x 4 m. Kebutuhan lahan yang begitu minim, memungkinkan euphorbia dibudidayakan di dak rumah. Di sela-sela mengurus pekerjaan rumah, istri , Binsar Simanjuntak itu melayani hobiis yang jatuh hati pada mahkota duri. Perempuan 62 tahun itu menjual 50 pot per bulan seharga Rp50.000—Rp400.000.

Gampang Busuk?


Begitu mudahkah meraup laba dari euphorbia? Mereka yang menangguk untung boleh dibilang telah merasakan pahit getir merawat euphorbia. Ibaratnya duri tajam tanaman asal Madagaskar itu siap menusuk sewaktu-waktu. Bagi pemula, merawat dan memperbanyak tanaman anggota keluarga jarak-jarakan itu bukan pekerjaan gampang. Parman, umpamanya, menghadapi banyak tanaman busuk pada awal perbanyakan.

“Dari 500 setek yang saya buat, 40% busuk,” kata bungsu 6 bersaudara itu mengenang. Kejadian itu terulang beberapa kali hingga akhirnya ia paham, “Ternyata penyebabnya adalah kebanyakan air siraman.” Persentase busuk itu relatif kecil ketimbang pengalaman Anwar. Tingkat kegagalan yang dialami oleh pemilik Mutia Flora itu mencapai 60%. Batu sandungan serupa juga dialami banyak pekebun lain seperti Bosco Kesuma Setiady.

Gunawan Widjaya, importir di Sentul, Bogor, kerap mendapati euphorbia mati beberapa hari setelah datang dari Bangkok. Jika sekali impor 2.000—3.000 pot, kematian mencapai 200—600 tanaman alias Rp21-juta melayang. Hambatan lain dihadapi ketika perbanyakan dengan biji. Setelah dewasa, tanaman yang berbunga bagus amat sedikit. Yang layak jual, paling cuma 4 tanaman. Padahal sejak persemaian hingga berbunga pekebun menunggu minimal 6 bulan.

Kendala itu ialah ketersediaan tanaman yang terbatas seperti dikatakan Gunawan Widjaya dan Fransiscus Kusdianto. Fransiscus, importir di Semarang, mendatangkan terakhir Maret 2004 sebanyak 3.000 tanaman. Padahal permintaan yang masuk ke Gama Cactus Garden—nurseri milik Fransiscus— banyak sekali sehingga belum dapat dilayani. Namun, importir lain seperti Boen masih dapat mengimpor 5.000 pot pada September 2004.

Lepas dari sandungan budidaya^. hambatan pemasaran menghadang. Pekebun mesti rajin mengikuti pameran di berbagai tempat agar dikenal konsumen. Selain mengikuti ekshibisi, Boen Soedijono, importir di Bogor juga membuat situs dan katalog yang mesti diperbaiki secara berkala. Untuk itu ia ‘harus merogoh kocek lebih dalam. Toh, di balik beragam rintangan itu bunga delapan dewa menjanjikan keuntungan besar. Maklum pasarnya terbentang lebar.

Trend Yang Naik Turun

Terbukanya pasar tak terlepas dari sosok euphorbia yang cantik. Warna-warni, bentuk, dan ukuran bunganya amat beragam. Apalagi, “Tanaman berbunga sepanjang tahun,” kata Boen Soedijono. Untuk jenis tertentu bunga bisa bertahan hingga 2—3 bulan.

Selain penampilan, tanaman yang ditemukan pertama kali oleh dr Euphorbius itu juga adaptif di berbagai daerah. Euphorbia dapat berkembang di dataran rendah hingga tinggi. “Tanaman yang cocok di berbagai ketinggian ya euphorbia,” kata Ukay Saputra, pekebun di Rawabelong,
Jakarta Barat.

Keistimewaan itu ditimpali dengan beragam mitos sehingga konsumen memburunya. Contoh bunganya yang berbentuk angka 8 simbol kesejahteraan dan keberuntungan. “Angka 8 itu itu angka keramat dan keberuntungan,” ujar Bosco. Kepercayaan masyarakat Bangkok, Thailand, euphorbia sebagai penangkal roh jahat, juga berembus ke sini. Pak sien hwa—sebutan di Cina—tak melulu ditanam tunggal dalam pot untuk penghias teras. Ia juga dimanfaatkan sebagai elemen taman.

Dengan beragam keunggulan, wajar jika konsumen menyambut kehadiran euphorbia dengan meriah. Meski bukan pendatang baru, sejak pameran Flona 2003 tren euphorbia terus menanjak. Lacakan Trubus ke berbagai daerah menunjukkan, crown of thorn itu digemari hobiis di banyak kota di tanah air. Tak hanya di kota-kota besar di Jawa, tetapi juga meluas ke kota-kota lain seperti di Aceh, Medan, Tanjungmorawa, Batam, Balikpapan, Pontianak, Manado, Bali, dan Lombok.

Menurut Paulus Rahmat Hendrata, pedagang di Dendengan, Manado, “Yang membeli di sini tak hanya orang-orang Manado. Banyak juga yang datang dari Gorontalo dan Luwu,” ujar kelahiran Padang 57 tahun silam itu. Hal serupa dikatakan Farida Hanum, importir di Bedimbar, Tanjungmorawa, Sumatera Utara. Hobiis di kota-kota sekitar Tanjungmorawa berdatangan. Malahan ada yang datang dari Riau.

Meluasnya penggemar euphorbia tentu saja mengalirkan gemerincing rupiah ke pundi-pundi pekebun dan importir. Lihat saja Farida Hanum yang memanfaatkan halaman 12 m x 10 m untuk memajang euphorbia. Perempuan 43 tahun itu minimal menjual 2.000 pot per bulan. Tanaman setinggi rata-rata 30 cm dilepas dengan harga Rp30.000 sampai Rp35.000. Ibu 2 anak itu juga menjajakan 20 pot besar masing-masing seharga Rp150.000. Sebulan ia meraup omzet lebih dari Rp60-juta.

Volume penjualan setara juga dienyam beberapa pekebun seperti Boen Soedijono,Chandra Gunawan Hendarto, Fredy Wiyanto, dan Fransiscus Kusdianto. Jenis yang diminati mahkota berukuran besar dan multiwarna. Jenis lama seperti forever green, Siamese ruby, num chok, chiang may, andromeda, juga masih
digandrungi.

Kewalahan Orderan


Si pembawa rezeki. Julukan itu tampaknya memang pantas disandang euphorbia. Pekebun seperti Nasir juga kecipratan rezeki euphorbia.
Di halaman depan rumahnya berukuran 8 m x 6 m, mantan pekebun palem dan anggrek itu rajin memotong cabang-cabang euphorbia yang tak produktif. Cabang hasil potongan tak dibuang, tetapi ditanam di pot tersendiri.

Tiga atau empat bulan kemudian, tanaman baru itu diserbu konsumen. Kelahiran Jakarta 30 Oktober 1955 itu menjual Rp75.000 sampai Rp100.000 per tanaman setinggi 15—20 cm. Yang tingginya 40—50 cm dijajakan Rp 150.000 sampai Rp200.000 per pot. Menurut Ukay dan Parman, biaya produksi untuk menghasilkan tanaman asal setek sekitar Rp7.500. Itu termasuk biaya tenaga kerja, pot, media, perawatan, dan penyusutan.

Hal serupa dialami Ukay. Begitu derasnya permintaan, sampai-sampai Ukay menolaknya. Permintaan datang dari pedagang di berbagai daerah seperti Manado, Makassar, Semarang, dan Yogyakarta. Mereka meminta euphorbia— sebagian jenis lawas—setingga 10 cm. Harganya Rp15.000 sampai Rp25.000 per pot.

Dalam satu kali order, pedagang dari Semarang saja meminta 2.000 pot. Biasanya mereka memesan lagi 3—4 bulan kemudian. Di luar penjualan itu, pria kelahiran 11 Desember 1961 baru sanggup memasarkan 300—400 pot dari permintaan riil 3—4 kali lipat.

Enam pedagang yang dihubungi Trubus secara terpisah mengatakan, tren euphorbia masih bertahan 2—5 tahun ke depan. Salah satu prasyarat tren terjaga adalah muncul jenis baru. “Selama masih ada jenis baru, orang masih mau,” kata Boen. Jenis-jenis baru diperoleh antara lain dengan mengimpor dari Thailand.

Pada Maret—September 2004, importir Indonesia sempat kesulitan mendatangkan euphorbia. Musababnya sedikitnya produsen di sana. Apalagi bukan hanya Indonesia yang mengimpor, tetapi juga Filipina, India, dan Malaysia.

Belakangan Taiwan juga menjadi kiblat baru chin lin hwa sebutan euphorbia di sana. Ratusan jenis baru diproduksi negeri Formosa itu. Selain mengimpor, jenis baru juga dapat dihasilkan dengan menyemaikan biji. Beragam variasi bunga diperoleh dari perbanyakan generatif itu. “Adanya variasi baru konsumen lebih , leluasa memilih,” ujar Fransiscus.

Saat ini euphorbia termasuk 3 besar tanaman hias yang paling banyak diminta konsumen. Di beberapa nurseri yang menjual beragam tanaman hias, malahan peringkat kerabat karet itu nomor wahid. Contoh di Nurseri Annisa milik Ukay Saputra, Milenium (Fredy Wiyanto), dan Flora 45 (Bosco Kesuma Setiady). Pantas jika Chandra Guna wan Hendarto dari nurseri Godongijo berekspansi ke Thailand. Di negeri Gajah Putih itu, ia membenamkan modal jutaan rupiah untuk membuka kebun baru belum lama ini.

Euforia Kambuhan


Tertarik mengisi pasar euphorbia yang menganga? Atau mengikuti jejak para pekebun sukses? Menurut perhitungan Risman, pekebun di Serpong, Tangerang, calon skala ekonomis minimal 50 indukan. “Pilih warna yang variatif. Misalnya, untuk merah 5—8 tanaman, warna lain juga begitu,” katanya. Lahan untuk produksi cukup 100—250 m2 yang disewa Rp3-juta per tahun. Setiap bulan dari sebuah indukan dapat disetek minimal 3 tanaman.

Selain dengan setek, pekebun dapat memperbanyak dengan teknik baru saddle grafting. Teknologi yang diadopsi dari Thailand itu diterapkan nurseri Godongijo. “Cepat dan efisien. Apalagi saat permintaan membeludak,” kata Chandra dari Godongijo (baca: Cara Thailand Tempel Delapan Dewa halaman 22—23).

Dengan 50 indukan, dihasilkan 150 tanaman per bulan. Pada bulan ke-3 tanaman dapat dijual Rp 15.000— Rp25.000 per pot. Saat itu pekebun mulai menangguk omzet Rp2.250.000— Rp3.750.000 per bulan. “Semakin banyak indukan, semakin cepat perputaran modal,” ujar Risman. Pemasaran? “Asal penampilan bagus, pasti laku,” kata Ukay meyakinkan. Itulah yang terjadi di kebun Vonny Asmarani. “Saya tak sempat melihat euphorbia berbunga penuh. Selalu habis diborong pedagang lain,” ujar pekebun di Mojokerto, Jawa Timur.

Euphorbia telah memberikan euforia alias kegembiraan yang sangat bagi hobiis, pekebun, pedagang, dan importir. Hobiis gembira saat menikmati pesona bunganya. Tiga yang disebut terakhir gembira ketika gemerincing rupiah mengalir ke pundi-pundi mereka.

Document Last Updated on 13 Agustus 2021