Ganggang Merah: Dewa Penyelamat Udang Windu

Alga merah yang ditanam pada tambak terbukti dapat memperbaiki kualitas air. Itulah kunci lonjakan produksi. Ia meningkatkan kadar oksigen terlarut 14,5%. Akibatnya kejernihan air tercipta hingga pertumbuhan windu meningkat 48%.

Peran ganda dilakoni, selain menjernihkan air ia menyerap racun amonia, nitrit, nitrat dan karbondioksida berkadar tinggi. Kandungan toksik menurun 20 sampai 60%. Penggunaan alga merah juga meningkatkan pH menjadi lebih optimal (8,47), sedangkan suhu dan salinitas sanggup dipertahankan di angka 29° C dan 36,13 ppt.

Kualitas lingkungan udang yang membaik mendongkrak kelangsungan hidup (SR) sampai 80,66%. Tingginya produktivitas juga dipicu oleh bobot per ekor yang mencapai 4 g; sebelumnya 3,6 g. Demikian pula panjang tubuh udang bertambah 2,6 %. Bukan hanya limpahan panen udang yang dapat dinikmati, 64 ton ganggang merah per 2 bulan dituai pula. Ganggang merah itu bernilai komersil karena dapat menjadi bahan baku pembuatan agar-agar.

Forcing function

“Tumpang sari” udang windu dan alga merah sebagai rekayasa ekologi. Ini diperlukan untuk mengembalikan 2 kunci menuju produktivitas tinggi: kualitas air dan ekosistem sehat. Alga merah mampu memberikan reaksi balik terhadap pembusukan sisa pakan. Perombakan sisa pakan oleh bakteri merupakan proses katabolisme yang menghasilkan racun. Ia dapat dinetralkan dengan proses anabolisme yang menghasilkan oksigen. Peran itulah yang dilakukan oleh komunitas rumput laut.

Pada mulanya rumput laut Sargassum polycystum digunakan sebagai forcing function (faktor pemicu, red) perbaikan lingkungan tambak. Ia dipilih karena melimpah di alam. Senyawa antibakteri  florotanin yang dihasilkannya mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen Vibrio harveyi penyebab penyakit kunang-kunang. Sayangnya, Sargassum sp. kurang bekerja optimal lantaran lambat tumbuh dan rentan air hujan. Akibatnya kejernihan air tidak mampu dikembalikan. Pertumbuhan udang yang diharapkan tidak signifikan, hanya 5%. Selain itu daya adaptasi Sargassum sp. terhadap budidaya tambak rendah.

Solusi ditemukan setelah digunakan Gracillaria sp. sebagai pengganti Sargassum sp. Rumput laut yang memiliki fikoeritrin (pigmen merah, red) itu tersedia melimpah. Sang ganggang pun memiliki nilai komersial karena bermanfaat sebagai bahan baku agar-agar. Keistimewaan lain ia memiliki kecepatan tumbuh yang pesat, mencapai 100% per bulan. Ia memiliki seluruh prasyarat perbaikan kualitas air untuk budidaya tambak.

Tanam gantung

Alga merah ditanam gantung

Ganggang merah dapat ditanam di tambak dengan dua cara, yaitu: tanam gantung dan menanam di dasar tambak. Metode gantung dilakukan dengan mengikat Gracillaria sp. dengan seutas rafia yang digantungkan pada kawat yang terpasang melintang di atas permukaan air. Dibutuhkan 2 kg per m3. Sedangkan metode sebar dilakukan dengan mencacah ganggang meran sepanjang 10 cm yang ditebar di dasar tambak.

Populasi benur 50 ekor per m3. Penanaman alga itu menurunkan kepadatan fitoplankton hingga 3.000 individu/1, bahkan metode itu meningkatkan keragaman zooplankton 4.800 individu/1. Akibatnya bursa keragaman pakan bagi windu makin melimpah.

Pengelolaan tambak dengan metode itu mudah diaplikasikan karena serupa dengan budidaya konvensional. Kincir angin yang digunakan pada budidaya intensif digunakan hanya pada malam hari karena asupan oksigen sudah terjamin. Sodoran sistem tambak itu tentu dinanti oleh para petambak, paduan harmonis sang windu berkawan ganggang merah terbukti mampu dongkrak produksi.

Kualitas air buruk

Budidaya intensif udang windu gencar dilakukan sejak 1980 sampai 1990 justeru menyisakan sisi gelap. Orientasi menggenjot produksi diutamakan tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Benur disebar dengan kepadatan tinggi. Begitu pula pakan diberikan secara berlebihan. Akibatnya 70 sampai 80% pakan tidak dikonsumsi udang, sehingga ledakan populasi fitoplankton diikuti dengan kematian massal menjadi pemandangan lumrah.

Sisa pakan yang busuk menurunkan kualitas air. Konsentrasi oksigen merosot drastis karena terserap oleh bakteri perombak sisa pakan. Pertumbuhan udang windu terhambat, di samping itu sisa proses perombakan
menelurkan racun seperti amonia, nitrit, dan nitrat berlebih. Wajar bila produksi pun merosot.

Perubahan cara budidaya kunci mengembalikan masa jaya udang windu seperti semula. Konsisten produksi hanya dapat dicapai jika diterapkan budidaya ramah lingkungan disertai daya dukung ekosistem. Jadi, produksi akan bertahan dalam jangka lama.