Gorontalo dan Agropolitan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
kawasan agropolitan

Tren yang menyita perhatian pemerintah di seluruh dunia ialah munculnya parity. Sistem produksi,pelayanan, dan teknologi menjadi sangat mudah ditiru. Jadi, tampil dengan suatu kelebihan kini kian sulit. Dalam dunia yang hampir mencapai parity, perbedaan hanya ada dalam brand image. Tidak mengherankan kalau ada yang mau membeli rolex seharga seribu kali lipat daripada arloji casio. Padahal, fungsinya sama, menunjukkan waktu. Rolex memberi image berbeda dibanding casio.

Pemerintah sama saja dengan perusahan. Ia harus membangun daya tarik bagi pelanggan. Harus memasarkan dan menjual produk. Harus menjual ide dan pelayanan kepada pelanggan dalam dan luar negeri melalui branding. Branding memberikan jalan bagi pemerintah untuk mendapat pengakuan dan reputasi melalui perceived value dari pelanggan. Brand adalah aset strategis.

Branding sebagai kawasan agropolitan

Sejumlah negara berhasil membangun citra diri yang kuat dalam bidang tertentu. Jerman terkenal hebat di bidangprecesion engineering. Italia hebat di urusan mode dan fashion. Jepang dikenal sebagai produsen elektronik rumah tangga nomor satu di dunia. Singapura kita ketahui sebagai pemerintahan yang sangat probisnis. Penghargaan terhadap negara-negara itu terbentuk melalui perceived value yang dikendalikan oleh branding.

Pemerintah daerah harus memelihara dan membangkitkan core capability dengan 4 dimensi: pengetahuan dan keterampilan, teknologi, manajemen, dan norma yang ada di masyarakat. Dengan mengelola dan meningkatkan core capability, pemerintah daerah itu sedang melakukan branding. Dengan brand kuat lebih mudah memasarkan produk berupa kebijakan untuk menghasilkan general social good. Ketersediaan general social good berkualitas sebagai hasil branding akan memicu aliran investasi. Investasi yang masuk tidak hanya berupa modal, tetapi juga teknologi dan intelektualitas.

Produktivitas pertanian

Provinsi Gorontalo mengangkat dirinya dengan brand provinsi agropolitan. Core competency-nya di bidang pertanian (jagung) dan perikanan. Ini suatu strategi untuk tampil beda di tingkat nasional. Langkah yang dilakukan ialah membangun etalase kelautan. Ia akan menjadi benchmark kegiatan budidaya perikanan dan kelautan di seluruh Indonesia. Juga digerakkan upaya menjadikan jagung sebagai backbone usahatani di Gorontalo.

Jagung yang menjadi andalan Gorontalo dikembangkan melalui pola demplot. Untuk itu sudah dialokasikan dana sebesar Rp 1-miliar dalam tahun anggaran sekarang. Diharapkan keberhasilan demplot dapat memotivasi petani untuk membudidayakan jagung dalam skala corporate farming. Jadi, secara gradual akan terjadi peningkatan kesejahteraan dan transfer teknologi.

Selama ini produktivitas jagung rata-rata 2,87 ton/ha. Hasil panen itu ditingkatkan menjadi 5 ton/ha. Maka terjadi peningkatan dari total produksi 131.420 ton menjadi 298.200 ton. Luas lahan untuk menghasilkan jagung sejumlah itu ialah 70.000 ha: di Kabupaten Gorontalo 40.000 ha dan Boalemo 30.000 ha. Bila diasumsikan harga jagung Rp800/ kg, maka akan terjadi tambahan pendapatan sebesar Rp238.560.000.000. Dengan demikian PDRB sektor pertanian melonjak menjadi Rp 1.836.808.000.000 dari sebelumnya Rp 1.598.248.254.178 pada 1999 (14,93%). Saat ini harga jagung dijamin oleh pemerintah provinsi Gorontalo, sehingga petani tidak perlu khawatir produknya tidak dapat terjual.

Gorontalo sebagai kawasan agropolitan
Gorontalo

Sektor perikanan Provinsi gorontalo

Sektor perikanan mendapat alokasi dana Rp7.714.246.096 atau 8,10% dari total anggaran pembangunan. Salah satu agenda yang dilakukan ialah menyediakan infrastruktur perikanan dan peningkatan teknologi nelayan. Provinsi Gorontalo mempunyai potensi perikanan yang sangat kuat. Garis pantainya sepanjang 500 km: pantai utara 250 km; selatan, 250 km. Angka itu belum termasuk areal laut teritorial maupun ZEEI.

Teluk Gorontalo memiliki luas wilayah lebih dari 50.000 km2. Dari situ dapat dikembangkan berbagai kegiatan usaha rakyat. Data Dinas Perikanan menunjukkan, potensi lestari perikanan Gorontalo mencapai 82.000 ton/tahun. Yang sudah termanfaatkan 19.000 ton. Sedangkan potensi budidaya laut berkisar 57.400 ton.

Infrastruktur yang sangat penting untuk memajukan pertanian juga memperoleh perhatian. Sudah dialokasikan dana sebesar Rp31.998.708.200 untuk pemeliharaan rutin jalan provinsi, peningkatan dan pembangunan jalan/jembatan.***