Grafting Tomat Untuk Mengendalikan Ralstonia Solanacearum Dan Peningkatan Produktivitas

Grafting adalah teknik menyambung dua atau lebih bagian tanaman sehingga dapat tumbuh sebagai tanaman tunggal. dengan grafting tanaman juga lebih tahan serangan hama dan penyakit

Tomat disambung? Ya, itulah yang dilakukan oleh Dr Mike Nichols, ahli hortikultura Massey University Selandia Baru[1]. Teknologi yang lazim diterapkan pada komoditas buah-buahan itu ternyata mendongkrak produksi tomat hingga 50%. Selain itu tanaman juga lebih tahan serangan hama dan penyakit.

Grafting adalah teknik menyambung dua atau lebih bagian tanaman sehingga dapat tumbuh sebagai tanaman tunggal. Negara
yang mengembangkan grafting tomat secara komersial antara lain Maroko.

Tercatat 950 hektar atau 25% dari total 3.800 hektar penanaman tomat menggunakan teknologi grafting. Menurut Mohamed Besri, peneliti di Institut Agronomique et Veterinaire Hassan II, Maroko, grafting menekan penggunaan metil bromida [2].

Metil bromida biasa dimanfaatkan untuk mengatasi patogen tular-tanah seperti fusarium dan verticillium. Keduanya momok bagi pekebun tomat. Dosis 750—1.000 kg per ha bisa dihilangkan kalau mengadopsi grafting. Negara lain yang mengadopsi teknologi itu adalah Jepang dan Korea Selatan[3]. Selain tomat, pekebun di negara Asia Timur juga menerapkan teknik itu pada komoditas terung, mentimun dan paprika

Grafting Tomat
Grafting tanaman Tomat

Di Jepang, misalnya, dari 7.141 ha greenhouse tomat, 48 ha di antaranya menggunakan teknik grafting. Sedangkan di lahan terbuka hanya 8 ha dari total lahan 6.459 ha. Dari 4.752 ha lahan tomat di negeri Ginseng hanya 5 ha yang menerapkan grafting. Pekebun di Indonesia belum lazim menerapkan teknologi sambungan itu dalam budidaya berbagai sayuran.

Tujuan Dan Manfaat Grafting

Tujuan utama grafting untuk memperoleh tanaman yang toleran hama dan penyakit. Karena spora dari penyakit tular-tanah merangsek melalui akar, pilihlah batang bawah yang toleran dan resistensi tinggi terhadap penyakit tular-tanah. Hasilnya tanaman yang resisten Fusarium oxysporum, layu bakteri Pseudomonas solanacearum, Pyrenochaeta lycopersici, nematoda Meloidogyne sp, dan Verticillium dahliae. grafting tomat untuk mengendalikan ralstonia solanacearum

Keuntungan dari batang bawah vegetatif, dapat menumbuhkan 2 atau lebih cabang utama di satu sistem akar tunggal sehingga mengurangi biaya perbanyakan bibit. Dengan bibit grafting, produktivitas tanaman terbukti meningkat. Riset dari Korea yang tercantum dalam Chronica Horticulturae menunjukkan, selain daya tahan tanaman meningkat, produksi tomat meningkat hingga 51% dengan memanfaatkan batang bawah helper dan 54% dengan batang bawah kagemusia. Peningkatan hasil lantaran vigor tanaman baik hingga akhir musim tanam.

Mengapa produktivitas meningkat? Perakaran tomat grafting lebih baik sehingga memungkinkan peningkatan penyerapan mineral dan air. Hasil penelitian Maria T. Estan pada 2004 menunjukkan, grafting mampu meningkatkan toleransi tanaman tomat terhadap garam melalui pembatasan transpor sodium dan klorida menuju tunas dan mengurangi stres ionik. Tanaman hasil grafting juga lebih toleran terhadap keterbatasan air[4].

Grafting Model tabung

Riset lain di Berlin, Jerman, menunjukkan grafting berefek positif pada pertumbuhan vegetatif tanaman meski dibudidayakan pada suhu tinggi. Berdasarkan penelitian yang menggunakan kultivar toleran panas summer set, produksi biomassa dan serbuk sari tanaman tomat grafting lebih tinggi daripada tanaman nongrafting pada suhu 27—38°C.

Biaya produksi pada budidaya tomat grafting memang meningkat 2% dari total biaya produksi per hektar. Artinya, bila saat ini total biaya produksi tomat dalam greenhouse di Lembang, Bandung, Rp550.000.000 per ha, penambahan biaya hanya Rp11.000.000. Namun, biaya itu akan tertutupi oleh selisih hasil yang lebih tinggi daripada tanaman nongrafting.

Grafting tomat umumnya menggunakan tabung sebagai pemersatu kedua batang. Menurut Dr Ir Winarso Drajad Widodo, MS, dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, grafting tabung di Indonesia lebih cocok diterapkan di dataran tinggi. Sebab, suhu dan kelembapan lebih terjaga. Di dataran rendah sebaiknya menggunakan teknik Tongue Approach Grafting .

Untuk menyambung, tidak perlu tenaga ahli, cukup pekerja terlatih. Jika terbiasa, seorang pekerja menghasilkan 1.000 tanaman grafting per hari. Jika populasi per ha 23.000 tanaman, dengan 5 pekerja dapat memproduksi bibit dalam waktu5 hari. Dengan menyatukan 2 individu itu, pekebun memperoleh banyak keuntungan seperti produksi menjulang.

Cara Menggrafting Dengan Benar

Dua tanaman yang disatukan dengan teknologi grafting terbukti lebih kuat menahan gempuran hama dan penyakit. Untuk batang atas, pilih varietas tinggi produksi; bawah, resisten patogen tular tanah. Benih untuk batang bawah disemaikan 3 hari sebelum benih batang atas. Cara penyatuan relatif mudah. Begini caranya.

  1. Persiapkan bibit sebagai batang bawah atau rootstock dan batang atas (seion). Pastikan area dan peralatan grafting higienis. Pisau harus didesinfektan untuk mencegah penyebaran virus. Bahan lain tube grafting dan baki berisi media tanam berupa campuran tanah, kompos, sekam, dan pasir kali perbandingan 2:3:1:1. Ketika menyambung, diameter batang atas dan bawah idealnya sama: 1,6—1,8 mm. Itu dicapai umur 14—16 hari setelah semai.
  2. Untuk batang bawah, potong bibit tepat di bawah kotiledon atau daun pertama yang berkembang dari dalam biji sebagai cadangan pangan, dengan sudut 30°. Jaga bagian permukaan yang dipotong jangan sampai kering. Yang digunakan sebagai batang bawah adalah batang dari bawah kotiledon hingga perakaran.
  3. Setelah itu, pilih tanaman batang atas yang sehat, bebas serangan hama dan penyakit. Segera potong bibit batang atas, juga di bawah kotiledon. Yang digunakan sebagai batang atas, potongan bagian atas termasuk kotiledon.
  4. Masukkan batang bawah ke dalam tube karet berdiameter 2 mm sepanjang 10 mm dengan kedalaman setengah panjang tube. Pastikan tube dan batang tomat paralel.
  5. Setelah itu masukkan batang atas pada tube. Sekali lagi pastikan arahnya paralel. Tekan dengan lembut batang atas dan batang bawah. Keduanya harus kontak sempurna satu sama lain. Penting juga untuk meningkatkan kesempatan kontak berkas vaskuler batang atas dan batang bawah. Caranya dengan memaksimalkan permukaan area permukaan yang dipotong dan menekan bagian yang dipotong bersamaan.
  6. Tempatkan 2 tanaman yang disatukan itu di tray atau baki. Segera pindahkan bibit ke bilik teduh bersuhu 25—32°C. Biarkan lapisan air yang dangkal menggenang di lantai berlapis polietilen di dalam bilik. Tutup pintu bilik untuk menjaga kelembapan di atas 85%. Tempatkan batu bata untuk menjaga baki tetap di atas permukaan air. Tanaman mungkin akan layu, tetapi akan pulih kembali dalam 3 hari. Empat atau lima hari pascagrafting, buka lapisan plastik bilik yang melindungi dari sinar (lapisan berwarna perak). Buang genangan air dalam bilik. Biarkan selama 2—3 hari.
  7. Pindahkan tanaman ke screenhouse. Sembilan hari setelah grafting, berikan pupuk daun berkonsentrasi 1 g/liter. Biarkan tanaman berkembang dan mengeras 7—9 hari dalam screenhouse.
  8. Saat penanaman, bagian sambungan harus tetap di atas permukaan tanah. Jika terpendam, penyakit dapat melewati batang bawah yang resisten sehingga menginfeksi tanaman. Tanaman berbatang dua (double leader) dihasilkan dengan memotong tanaman grafting di atas kotiledon. Setelah tanaman grafting tumbuh kuat, potong tanaman sekitar 0,5 cm diatas sambungan. Hormon auksin akan terhambat karena batang terpotong, sehingga mendorong munculnya dua tunas di ketiak daun. Itu yang berkembang menjadi dua cabang utama.

Referensi

[1] Nichols, M. “Plant Factories – the Ultimate in Controlled Environment Agriculture.” Acta Horticulturae, no. 1176, Oct. 2017, pp. 17–22. DOI.org (Crossref), https://doi.org/10.17660/ActaHortic.2017.1176.3.

[2] Singh, Hira, et al. “Tomato Grafting: A Global Perspective.” HortScience, vol. 52, no. 10, Oct. 2017, pp. 1328–36. journals.ashs.org, https://doi.org/10.21273/HORTSCI11996-17.

[3] Tomato Grafting Guide. https://horticulture.ucdavis.edu/information/tomato-grafting-guide. Accessed 7 Dec. 2021.

[4] Estan, M. T. “Grafting Raises the Salt Tolerance of Tomato through Limiting the Transport of Sodium and Chloride to the Shoot.” Journal of Experimental Botany, vol. 56, no. 412, Jan. 2005, pp. 703–12. DOI.org (Crossref), https://doi.org/10.1093/jxb/eri027.

Document Last Updated on 7 Desember 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.